//
Anda membaca...
Kesehatan

Penyakit Disentri: Gejala, Penyebab dan Pengobatan

Sanitasi Yang Buruk Penyebab Penyakit Disentri
Artikel ini akan membahas apa itu penyakit disentri, jenisnya, penyebab, gejala-gejala yang dapat timbul, diagnosis dan cara pengobatan. Sebagai penyakit pada sistem pencernaan, disentri adalah terjadinya radang pada usus khususnya pada bagian usus besar yang menyebabkan terjadi diare parah dimana tinja menjadi lendir dan bercampur dengan darah. Pasien biasanya mengalami gejala ringan sampai berat seperti nyeri dan kram pada perut. Di beberapa kasus, jika penyakit ini tidak diobati dan ditangani secara cepat, dapat mengancam nyawa karena pasien akan kehilangan cairan dengan cepat.

Jenis Disentri

Menurut WHO, badan kesehatan dunia, disentri terbagi atas dua tipe atau jenis, yaitu

  • Disentri Basiler

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Shigella yang biasanya terjadi di kawasan Eropa Utara dan Amerika Serikat atau wilayah non tropis.

  • Disentri Amoeba

Disebabkan oleh amoeba jenis Entamoeba histolytica yang biasa terjadi di negara tropis termasuk Indonesia.

Who memperkirakan terdapat 120 juta kasus disentri akut jenis Basiler di seluruh dunia yang umumnya terjadi pada anak-anak balita (dibawah usia 5 tahun) di negara berkembang. Diperkirakan 11 juta orang meninggal akibat wabah penyakit ini dan 60 % diantaranya adalah anak-anak.

Gejala dan Tanda Penyakit Disentri

Di negara maju, gejala dan tanda-tanda penyakit disentri cenderung lebih ringan dibanding negara sedang berkembang khususnya yang beriklim tropis. Gejala ringan meliputi sakit perut ringan dan sering buang air besar karena terjadi diare. Gejala ini biasanya terlihat dari 1 sampai 3 hari ketika pasien terinfeksi (dinamakan masa inkubasi). Pada umumnya, pasien akan sembuh total dalam 1 minggu namun semuanya tergantung pada frekuensi diare dan penyebab terjadinya tinja berlendir dan mengandung darah.

Pada kasus khusus, pasien disentri juga mengalami intoleransi laktosa dimana enzim lactase untuk mencerna laktosa sedikit atau kurang banyak diproduksi oleh tubuh selama beberapa tahun. Pada umumnya, gejala-gejala disentri adalah

  • Sakit dan nyeri pada bagian perut
  • Demam dan tubuh menggigil
  • Mual dan muntah-muntah
  • Diare dengan tinja berlendir bercampur dengan darah
  • Nyeri ketika duduk dan buang air besar
  • Lemah, letih, lesu dan mengalami sembelit

Amoeba dapat memasuki dinding usus dan menyebar ke aliran darah sehingaa organ lain terinfeksi yang menyebabkan terjadi diare berdarah. Amoeba ini akan terus hidup dalam tubuh manusia sampai gejala-gejala disentri menghilang. Komplikasi yang dapat ditimbulkan disentri adalah dehidrasi dan gangguan pada hati.

Penyebab Disentri

Disentri umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri atau amuba tetapi dapat juga disebabkan cacing parasit dan virus pada beberapa kasus. Faktor kebersihan dan sanitasi lingkungan yang buruk menjadi penyebab utama infeksi ini, termasuk juga makanan yang kurang sehat. Di kawasan dengan sanitasi yang buruk, tinja yang mengandung bakteri dan amuba penyebab disentri dapat meracuni makanan dan air di kamar mandi umum.

Diagnosa Disentri

Dokter umum atau spesialisasi penyakit menular biasa menanyakan terlebih dahulu kepada pasien mengenai gejala-gejala yang dirasakannya dan kemudian melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan tinja di laboratorium mungkin diperlukan jika pasien pernah berpergian ke luar negeri. Pada kasus yang jarang terjadi, jika ditemukan gejala yang berat pada pasien, beberapa tes mungkin dilakukan untuk mendapatkan diagnosa lebih baik seperti scan ultrasound atau endoscopy.

Pengobatan Disentri

Terapi Rehidrasi
Terapi ini dilakukan dengan menggunakan pengobatan melalui oral atau mulut dimana pasien akan disuruh meminum cairan tertentu untuk mengganti cairan yang hilang di tubuh akibat diare dan muntah-muntah. Jika kondisi berlanjut, maka akan dilakukan segera infus sebagai metode efektif mengganti cairan tubuh.

Obat Antibiotik dan Anti Amuba
Jika disentri disebabkan oleh amoeba atau bakteri, maka obat antibiotik atau anti amuba dapat diberikan kepada pasien untuk membunuh penyebab penyakit ini dengan dosis tergantung tingkat keparahan gejala-gejala yang ditumbulkan. Biasanya, pasien akan diberikan kombinasi obat antibiotik dan anti amuba. Jika gejala-gejala yang timbul ringan makan dokter biasanya memberikan obat rehidrasi yang dikonsumsi melalui mulut. Jika pasien mengalami disentri lebih dari 10 hari, obat sejenis Flagyl (metronidazole). Diloxanide furoate, paromomycin (Humatin), atau iodoquinol (Yodoxin) sampai gejala-gejala sakit menghilang.

Obat Ridaura (auranofin)
Obat ini biasanya digunakan sebagai obat disentri dosis rendah pada penyakit disentri amoeba. Sebuah studi di University of California menyatakan ridaura atau auranofin berpotensi 10 kali lipat mempunyai kemampuan untuk membunuh amoeba parasit, Entamoeba histolytica. Obat ini pada umumnya dikenal untuk mengobati nyeri sendi dan rematik.

Sumber:
Wikipedia
Medicalnewstoday.com

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: