//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Siapakah Wartawan di Belakang Tabloid Obor Rakyat?

Foto Sampul Tabloid Obor Rakyat

Siapakah pemilik, pengedar dan wartawan (jurnalis) atau orang di belakang tabloid Obor Rakyat yang akhir-akhir beredar di masyarakat sebagai bentuk kampanye hitam (black campaign) kepada salah satu calon presiden, Jokowi? Memang selama proses menjelang pesta demokrasi banyak beredaran rumor, fitnah, propaganda dan pemutarbalikan fakta yang menjadi salah satu cara untuk mendiskreditkan lawan sekaligus merebut suara pemilih.

Boni Hargens, salah satu pengamat politik menyatakan bahwa kampanye hitam lebih banyak menyasar pihak Jokowi-JK dibandingkan Prabowo Hatta. Hal ini tentu menunjukkan adanya kepanikan di kubu Prabowo-Hatta, dan itu jelas merupakan kepanikan yang luar biasa, akibat menyaksikan dukungan luar biasa masyarakat Indonesia terhadap Jokowi yang akan menjadi Presiden RI selanjutnya.

Kampanye hitam memang berbahaya karena tidak mendidik dan dapat menimbulkan konflik atau kerusuhan horizontal di tengah mesyarakat karena memakai isu yang berkaitan dengan SARA. Sejumlah tim sukses memang suka mencari jalan pintas untuk memenangkan calon yang mereka usung. Menurut akademis, Dedy Hermawan, walaupun tidak beretika secara demokrasi, black campaign merupakan tetap cara yang dianggap ampuh untuk menjatuh pencitraan lawan dan cara untuk menghindarainya adalah memberikan kecerdasan politik pada masyarakat dan hal ini perlu waktu.

Isi Artikel dalam Tabloid Obor Rakyat

Kembali ke persoalan Tabloid Obor Rakyat, apa sih sebenarnya isinya dan bagaimana propaganda ini bisa beredar di masyarakat sebanyak dua kali periode? Mengapa Banwaslu tidak bertindak sejauh ini walaupun sudah beredar dalam dua edisi? Menurut tribunnews.com, edisi I tabloid ini bertanggal 5-11 Mei 2014, terdiri atas 16 halaman dan berisikan beberapa artikel kampanye hitam. Halaman depan menampilkan judul “Capres Boneka” dengan karikatur Jokowi sedang mencium tangan Megawati Soekarnoputri. Judul lain yang ditampilkan di halaman ini adalah “184 Caleg Nonmuslim PDIP untuk Kursi DPR”, “PDI-P Partai Salib” dan “Ibu-ibu, Belum Jadi Presiden Udah Bohongin Rakyat.”

Edisi II pun telah beredar awal Juni ini dengan halaman depan memampang judul besar: 1001 Topeng Jokowi. Para pemimpin pondok pesantren dan pengurus masjid yang menerima kiriman ribuan eksemplar tabloid ini serempak menyatakan keheranannya, darimana gerangan sang pengelola tabloid memperoleh alamat mereka. Selain di Jawa Timur, tabloid ini beredar di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Menurut Kiai Muhyidin Abdusshomad, Rais Syuriah NU Jember, menyatakan tiba-tiba ada banyak tabloid tersebut di teras rumah dan masjid pesantren dimana hampir semua pengurus cabang NU dan pengasuh pesantren di Jember mendapat kiriman Obor Rakyat. Isinya banyak menghujat Jokowi dan tak memuat berita tentang Prabowo sama sekali.

Penulis dan Jurnalis Tabloid Obor Rakyat

Siapa di belakang tabloid Obor Rakyat ini?. Dalam dewan redaksi tabloid penyebar fitnah ini terdapat profil Elka Saraswati dan layout Dodo Darsono dengan alamat redaksi Jalan Pisangan Timur Raya IX, Jakarta Timur serta nomor telepon (021) 70787816, 70787817. Tentu saja, , nama dan alamat di atas hanyalah kedok belaka. Tapi sepandai-pandai menutupi jejak, pengelola tabloid ini akhirnya ketahuan juga.

Menurut berita yang dirilis oleh tribunnews.com, Gun Gun Heryanto, dosen ilmu komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, mengungkap pengelola tabloid ini. Maklum, tulisan Gun Gun Heryanto dimuat di Obor Rakyat. Gun Gun menuding Darmawan Sepriyossa, penulis kolom tetap di portal berita inilah.com telah menjebaknya.

Alkisah, pada 25 April lalu, Darmawan Sepriyossa menghubungi Gun Gun Heryanto, memintanya menulis kolom analisis tentang PDI Perjuangan dalam mengikuti pemilihan presiden. “Dia (Darmawan) bilang mau bikin tabloid baru,” kata Gun Gun sebagai mana ditulis Majalah Detik. Dalam percakapan telepon itu, Darmawan sama sekali tak menyebut nama tabloid itu. Tanpa curiga, Gun Gun pun mengirimkan naskah kolomnya.

Tapi sang kolomnis kaget bukan kepalang ketika ia tahu tulisannya muncul di Tabloid Obor Rakyat yang dilaporkan tim hukum pasangan Jokowi-JK ke Badan Pengawas Pemilu, 4 Juni 2014. Gun kecewa dan merasa tertipu oleh Darmawan. Ia tak menyangka, Darmawan yang punya rekam jejak sebagai bekas wartawan Republika dan TEMPO itu akan jatuh serendah itu.

Portal berita inilah.com, tempat Darmawan kini menjadi kolomnis tetap, didirikan Muchlis Hasyim, bekas wartawan Media Indonesia. Portal ini kini dikenal sebagai media online yang terdepan dalam menulis berita positif pasangan Prabowo-Hatta dan berita negatif pasangan Jokowi-JK. Sebuah perubahan yang aneh, karena di periode pemerintahan SBY-Jusuf Kalla (2004-2009), Muchlis Hasyim adalah media officer Jusuf Kalla yang mendampingi sang wakil presiden hampir di setiap kesempatan di dalam dan luar negeri.

Selain Tabloid Obor Rakyat, pasangan Jokowi-JK juga diserang lewat peredaran tabloid “Sang Pendusta” yang memajang gambar depan karikatur Pinokio. Tampaknya, Pilpres 2014 ini benar-benar telah membuat banyak orang kalap mata. Bahkan seorang wartawan yang pernah belajar di media ternama pun sanggup menuliskan kabar bohong.

Tak heran, hasil beberapa survey menyebutkan pasangan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) paling banyak mendapatkan kampanye hitam, hingga mencapai 94,9 persen. Sementara pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa hanya mendapatkan kampanye hitam 13,5 persen. Bagaimanakah menurut anda?

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: