Iklan
//
Anda membaca...
Otomotif

Mengapa Mobil Dilarang Memakai Lampu Rotator?

Gambar Mobil Yang Ditilang Karena Memakai Lampu Rotor

Mengapa pemakaian lampu rotator pada mobil dilarang? Memang akhir-akhir ini marak penindakan langsung dari Kepolisian Metro Jaya terhadap kendaraan yang memasang lampu rotator dan lampu sirine secara illegal di sekitar Jabodetabek. Petugas satlantas terus berpatroli untuk menindak pemakai mobil yang masih bandel seperti di Jl Pangeran Antasari, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tol Tangerang kilometer 15 dan lokasi lainnya.

Seperti yang diberitakan oleh detik.com, penindakan ini atas perintah langsung dari Mabes Polri karena tingkah pengendara sipil itu membuat dongkol polisi. Menurut Kabid Gakkum Korlantas Mabes Polri AKBP Indrajit penindakan tilang terhadap mobil sipil pakai rotator karena jumlahnya sudah sangat banyak. Sehingga Mabes Polri memerintahkan untuk menindak mobil sipil yang menggunakan rotator dan sirine. Jika mobil sipil pakai rotator dan sirine menjamur, bisa dibayangkan kemacetan yang akan timbul semakin semrawut.

Alasan Pengemudi Pakai Rotator

Banyak alasan pengemudi mobil untuk memasang rotator dan sirine pada kendaraannya. Tindakan ini sepertinya sudah menjadi trend di kalangan komunitas modifikasi mobil tertentu. Gaya-gayaan, biar tak ditilang polisi, menjadi alasan mereka. Mungkin kalau pakai rotator dikiranya polisi oleh pengemudi kendaraan lain sehingga mobil lebih cepat jalannya karena, beberapa mobil ada yang minggir. Salah satu pengemudi Nissan X-Trail yang ditilang, Christoper Alexander (20 tahun)mengaku memasangi rotator agar ‘lebih aman’ dalam berkendara.

Christoper merasa dirinya lebih ekslusive karena yakin dengan rotatornya ia dapat lebih leluasa berkendara di tengah kemacetan. Ia menggunakan rotator di mobilnya selama hampir satu tahun. Namun baru sekali ini ia ditilang polisi. “Beli rotatornya di toko online, awal tahun 2013,” kata Christoper.

Tidak Boleh Sembarangan Memakai Lampur Rotator

Kasatlantas Polres Jakarta Selatan AKBP Timin Sugiyo mengatakan penindakan tersebut dilakukan petugas sejak jauh-jauh hari, mengingat banyaknya keluhan yang masuk akibat pengemudi kendaraan yang suka bertindak seenaknya dan memanfaatkan rotator demi kepentingan pribadi.

“Tak hanya penindakan di jalan, kami juga telah melakukan sosialisasi dan imbauan kepada penjual rotator dan sirine untuk tidak menjualnya ke sembarangan orang. Karena rotator tersebut kan berbagai warna memiliki fungsi yang berbeda,” tutur Timin. Timin menjelaskan, setiap warna rotator diperuntukkan bagi otoritas resmi. Warna biru untuk polisi, warna kuning diperuntukkan untuk mobil bandara dan derek, sementara rotator merah diperuntukkan bagi ambulans dan TNI.

Melanggar UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

Seperti yang diliris liputan6.com, tidak semua kendaraan bermotor bisa menggunakan sirine dan lampu rotator. Pemasangan sirine, lampu stobo dan rotator pada kendaraan diatur sesuai dengan peraturan Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Apabila melanggar, Polda Metro Jaya akan menertibkan kendaraan bermotor yang masih nekat menggunakan sirine, lampu stobo dan rotator yang tidak sesuai ketentuan.

Untuk mengingatkan kembali penggunakan lampu stobo dan rotator telah diatur berdasarkan UU No. 22 Tahun 2009 pasal 59 ayat (5) Pengguna lampu isyarat dan sirine sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2):

A. Lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk mobil petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia;

B. Lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk mobil tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, dan jenazah; dan

C. Lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk mobil patroli jalan tol, pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek Kendaraan, dan angkutan barang khusus.

Oleh karena itu apabila penggunaan komponen tersebut diluar ketentuan, maka pelanggar dapat dikenakan ketetntuan pidana sesuai dengan Pasal 287 Ayat (4) UU No. 22 Tahun 2009, sebagai berikut:

Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi Kendaraan yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59, Pasal 106 ayat (4) huruf f, atau Pasal 134 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) bulan atau denda paling banyak Rp 250.000 (Dua ratus lima puluh ribu rupiah). (Sumber foto: detik.com)

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan

Berita Terbaru: Aneka Info Unik

Kami tidak dapat memuat data blog saat ini.

%d blogger menyukai ini: