//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Kronologi Kasus Mutilasi Wanita di Klungkung, Bali

Foto Korban dan Rekontruksi Kasus Mutilasi

Bagaimana sebenarnya kronologi kasus mutilasi wanita di Kabupaten Klungkung, Bali, dengan korban bernama Diana Sari. Kasus ini berawal dari penemuan potongan tubuh Diana di Jalan Raya Bukit Jambul, Kabupaten Klungkung, dan Desa Gambelan, Kabupaten Karangasem, Selasa, 17 juni 2014. Di bawah komando Wakil Kepala Polda Bali I Brigadir Jenderal I Gusti Ngurah Raharja Subiyakta, polisi membutuhkan waktu sepekan menangkap pelaku bernama Fikri (26) alias Ekik yang tinggal di Banjar Lebah, Desa Semarapura Kelod Kangin, Kabupaten Klungkung.

Menurut berita yang dirilis oleh merdeka.com, Fikri ditangkap petugas di Jalan Darmawangsa, Semarapura, Minggu (22/6) sekitar pukul 19.30 Wita. Kabid Humas Polda Bali AKBP Hery Wiyanto mengatakan pelaku ditangkap atas dasar keterangan-keterangan dari saksi yang dipanggil oleh tim penyelidik Polres Klungkung. Saat informasi yang didapat sudah cukup, tim dari Polres Klungkung langsung bergerak menangkap pria bernama Fikri tersebut.

Menurut pengakuan pada petugas, Heri mengatakan bahwa tersangka mengaku yang telah membunuh korban saat itu. Pada saat dilakukan olah TKP, Fikri juga menunjukkan tempat-tempat dimana dia membuang seluruh bagian tubuh dan organ dari wanita malang yang menjadi korbannya tersebut.

Pelaku adalah Pegawai Honorer Depag

Kapolda Bali Inspektur Jenderal Benny Mokalu, mengatakan pelaku bernama Fikri alias Ekik adalah pegawai honorer Depag yang menjadi sopir di kantor Pengadilan Agama Klungkung. Saat ditangkap polisi awalnya dia sempat mengelak melakukan perbuatan sadis terhadap pacarnya, Diana Sari asal Sumbawa Besar, Nusa Tenggara Barat. Diduga Fikri melakukan aksi sadis tersebut dengan menggunaka pisau yang biasa digunakan untuk memotong binatang. Sekadar diketahui, Fikri kerap diminta bantuan di wilayahnya untuk menyembelih hewan kurban dan acara lainnya.

Kepala Pengadilan Agama (PA) Klungkung Drs H Muhammad mengatakan, pihaknya sangat terkejut dengan berita bahwa Fikri sebagai pelaku mutilasi. Muhammad mengaku sempat dihubungi oleh pihak kepolisian dan menanyakan keberadaan Fikri.Muhammad mengatakan, Fikri yang baru bekerja selama satu setengah bulan sebagai pegawai honorer di PA Klungkung diketahui sebagai orang yang baik, ramah, dan taat beribadah.

“Setiap shalat berjamaah di kantor, dia selalu hadir,” tuturnya Muhammad mengatakan, pertimbangannya dalam menerima Fikri sebagai pegawai honorer karena pihaknya mendapatkan rekomendasi dari paman Fikri yang merupakan langganannya untuk menjahitkan pakaian.

Motif Pembunuhan

Ternyata motif pembunuhan atau mutilasi didasari hubungan asmara antara korban dan pelaku. “Antara korban dan pelaku memang punya hubungan asmara,” kata Kepala Kepolisian Daerah Bali Inspektur Jenderal Benny Mokalu saat memberikan keterangan pers di Mapolres Klungkung di Semarapura, Senin (23/6). Pelaku membunuh pacarnya di rumah korban di Jalan Kenyeri IX, Semarapura, Senin (16/6) sekitar pukul 10.30 Wita. “Kasus ini 80 persen sudah terungkap. Lebih lanjut tim masih melakukan tes DNA apa benar korbannya adalah yang dimaksud,” ujar Kapolda.

Pemotongan tubuh korban dilakukan secara bertahap. “Begitu capek dia keluar sambil merokok dan sempat mengobrol dengan buruh bangunan yang bekerja di depan kosnya,” kata Wirawati. Usai memotong-motong bagian tubuh korban, pelaku langsung membuangnya ke berbagai tempat. “Dari pengakuannya ada 13 tempat pembuangan potongan tubuh tersebut. Namun setelah ditindaklanjuti di beberapa tempat tidak ditemukan potongan,” ujarnya

Kasus mutilasi itu dilatarbelakangi hubungan asmara karena pelaku dan korban diketahui berpacaran. Fikri, yang sudah beristri dan tinggal di rumah mertuanya di Banjar Lebah, Desa Semarapura Kelod Kangin, Kabupaten Klungkung, kedapatan juga sekamar kos dengan Diana di tempat lain. Pelaku dan korban sama-sama berasal dari Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Fikri sudah memiliki istri dan seorang anak, sementara Diana diketahui berstatus janda setelah bercerai, Mei lalu. Diana juga diketahui memiliki seorang anak. “Antara korban dan pelaku memang punya hubungan asmara,” kata Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Bali Irjen Pol Benny Mokalu saat memberikan keterangan pers di Mapolres Klungkung di Semarapura, Senin.

Rekomendasi PHDI Terkait Mutilasi di Bali

Seperti yang diberitakan jaringnews.com, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Povinsi Bali akan mengeluarkan rekomendasi resmi dan masukan untuk menjatuhkan sanksi kepada pelaku. PHDI Bali akan memberikan rekomendasi kepada aparat penegak hukum, kepada pemerintah, desa adat setempat (TKP Mutilasi) untuk meminta agar sanksi yang dijatuhkan kepada pelaku mutilasi adalah sanksi tegas, tidak hanya kurungan tapi juga denda untuk upacara adat dan keagaman pembersihan desa setempat yang menjadi Tempat Kejadian Perkara (TKP),” kata Ketua PHDI Provinsi Bali, I Gusti Ngurah Sudiana, Denpasar, Rabu(25/6).

Rekomendasi ini memang akan dikeluarkan secara resmi sebagai bentuk pertimbangan, karena sesuai adat di Bali, jika suatu tempat terjadi kematian yang tidak wajar seperti pembunuhan, maka daerah tersebut dinyatakan kotor dan harus dilakukan pemberihan atau pensucian melalui upacara adat dan keagamaan yang menhabiskan biaya puluhan hingga ratusan juta rupiah

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: