//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Profil Lengkap Abu Bakar Al Baghdadi, Pemimpin ISIS

Foto Abu Bakr al-Baghdadi Saat Khotbah di Mosul

Sosok dan profil Abu Bakar Al Baghdadi awalnya tidak banyak diketahui banyak orang. Namun, sejak tanggal 5 Juli 2014, pemimpin ISIS ini mulai muncul di depan publik pada hotbah hari Jumat di Mosul, Irak dan namanya menjadi pembicaraan dunia. Apalagi sejak makin terkenalnya aktivas ISIS di Irak dan Suriah, jumlah informasi khusus tentang latar belakang Baghdadi untuk media bertambah.

Ibrahim Awwad Ibrahim Ali al-Badri al-Samarrai merupakan nama lengkapnya. Pria berusia 42 tahun ini juga dikenal dengan nama Abu Bakr Al-Baghdadi Al-Husseini Al-Qurashi. Sekarang dia terkenal nama Amir al-Mu’minin (petinggi orang-orang yang beriman), Khalifa Ibrahim, panggilan untuk pemimpin Negara Islam Irak dan Syam (ISIL) yang kemudian berubah menjadi Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) atau Negara Islam di Irak dan Suriah.

Di bawah kepemimpinannya, ISIS menyatakan diri untuk bergabung dengan Front Al Nusra, kelompok yang menyatakan diri sebagai satu-satunya afiliasi Al-Qaidah di Suriah. ISIS memiliki hubungan dekat dengan Al-Qaeda hingga tahun 2014. Namun karena misi berbelok dari misi perjuangan nasional dengan menciptakan perang sektarian di Irak dan Suriah dan penggunaan aksi-aksi kekerasan, Al-Qaidah lalu tidak mengakui kelompok ini sebagai bagian darinya lagi. Abu Bakar al-Baghdadi bahkan bersumpah untuk memimpin penaklukan Roma dan juga menyerukan umat Islam untuk tunduk kepadanya.

Pada tanggal 4 Oktober 2011, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memasukkan namanya dalah teroris yang paling dicari atau Specially Designated Global Terrorist (SDGT) setelah Ayman al-Zawahiri (pemimpin Al-Qaeda saat ini) dan disediakan hadiah sebesar $10 juta bagi setiap informasi yang membuat Baghdadi tertangkap atau tewas.

DAFTAR ISI
1. Kehidupan Awal
2. Sebagai Pemimpin Islamic State of Iraq (ISI)
3. Pemimpin ISIL dan ISIS
4. Tujuan dan Masa Depan ISIS

.

Kehidupan Awal


Abu Bakar al-Baghdadi diyakini lahir pada tahun 1971 dekat Kota Samarra, Irak. Bulan Juli 2013, ahli ideologi asal Bahrain, Turki al-Binali, yang menggunakan nama Abu Humam Bakr bin Abd al-Aziz al-Athari, menulis biografi Baghdadi terutama untuk menggarisbawahi sejarah keluarga Baghdadi. Dia menyatakan Baghdadi memang keturunan Nabi Muhammad, salah satu persyaratan kunci dalam sejarah Islam untuk menjadi khalifah atau pemimpin semua warga Muslim.

Pada saat invasi Amerika ke Irak tahun 2003, Baghdadi beraktifitas sebagai pengkhotbah di salah masjid Irak, Imam Ahmad ibn Hanbal. Sebelum serangan Amerika ini dimulai, ia sudah memiliki pemikiran radikal. Dia memperoleh gelar master dan PhD untuk Studi Islam di Universitas Sains Islami di Baghdad yang memusatkan kajian pada kebudayaan, sejarah, hukum, dan yurisprudensi Islam.

Ada beberapa versi cerita mengapa dia akhirnya berjihad. Versi pertama mengatakan dia dulunya adalah penjihad militan saat masa Saddam Hussein. Versi lainnya memberitakan bahwa empat tahun yang dia habiskan di Kamp Bucca menjadi akar penyebab dirinya menjadi seradikal sekarang. Kamp Bucca adalah kompleks penjara AS yang luas di selatan Irak dekat gurun Kuwait.

Versi lain lagi mengatakan bagaimana, setelah invasi AS pada 2003, dia menjadi cepat terbawa dalam Al Qaeda di Irak di bawah kepemimpinan Abu Musab al-Zargawi. Di situlah dia pertama kali terlibat menyelundupkan pejuang asing ke Irak, kemudian menjabat sebagai “Amir” Rawa, kota kecil dekat perbatasan Suriah.

Kembali ke halaman atas

.

Sebagai Pemimpin Islamic State of Iraq (ISI)


Setelah invasi AS terhadap Irak di tahun 2003, Baghdadi dan beberapa rekannya mendirikan Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), Angkatan Bersenjata Kelompok Warga Sunni, yang beroperasi dari Samarra, Diyala, dan Baghdad. Di dalam kelompok ini, Baghdadi menjadi pemimpin dewan hukum. Pasukan pimpinan AS menahannya dari bulan Februari-Desember 2004, tetapi membebaskannya karena Baghdadi tidak dianggap sebagai ancaman tingkat tinggi.

Mengikuti jejak Al Qaeda di Tanah Dua Sungai mengubah nama menjadi Majlis Shura al-Mujahidin (Dewan Syura Mujahidin) pada permulaan tahun 2006, pimpinan JJASJ menyatakan dukungannya dan penggabungan diri.

Di dalam struktur baru, Baghdadi bergabung dalam dewan hukum, tetapi tidak lama kemudian organisasi mengumumkan perubahan nama kembali di akhir tahun 2006 menjadi Negara Islam Irak (ISI). Baghdadi menjadi pengurus umum dewan hukum provinsi di dalam “negara” baru disamping anggota dewan penasehat senior ISI. Ketika pimpinan ISI, Abu Umar al-Baghdadi, meninggal pada April 2010, Abu Bakr al-Baghdadi menggantikannya.

Kembali ke halaman atas

.

Sebagai Pemimpin ISIL dan ISIS


Seiring dengan Revolusi di Jazirah Arab yang dikenal dengan Musim Semi Arab dalam menumbangkan para diktator seperti yang terjadi di Tunisia, Libya dan Mesir, maka terjadi pula revolusi di Suriah, hanya saja demonstrasi rakyat di Suriah disambut dengan kekerasan dari Tentara Presiden Bashar Assad. Akibatnya Rakyat Suriah melakukan perlawaan dalam kelompok-kelompok bersenjata. Kelompok-kelompok ini dibantu oleh para pejuang dari luar negeri termasuk dari Negara Islam Irak. Dan ketika kelompok-kelompok pejuang rakyat Suriah ini akhirnya mampu membebaskan beberapa kota termasuk wilayah perbatasan dengan Irak maka menyatulah beberapa kota di Irak dan di Suriah dalam kontrol Negara Islam Irak.

Kenyataan ini akhirnya membuat Negara Islam Irak mendeklarasikan Negara Islam Irak dan Syam (ISIL) pada 9 April 2013 dengan Pemimpinnya yaitu Abu Bakar Al-Bagdhdady juga. Pada Maret 2014 wilayah yang telah dikontrol oleh Negara Islam Irak dan Syam meliputi sekitar 400.000 km2 yang berarti lebih luas dari beberapa negara Arab seperti Qatar, Emirat Arab, Bahrain, Yaman, Lebanon dan lain-lain. Pada kota-kota yang berhasil dikuasai Negara Islam Irak dan Syam menyediakan fasilitas umum meliputi penyediaan listrik, transportasi, sekolah dengan buku-bukunya, kegiatan ekonomi seperti pasar, toko, pabrik roti, layanan internet, media (koran) , pengadilan dan pengamanan dari kriminalitas.

Tidak seperti di wilayah Irak, maka di wilayah Syuriah ISIS terlibat konflik dengan kelompok pejuang Syuriah lain seperti Jabhat An Nusrah, Jabhah Islamiyah, Ahrar AS Syam dan lain-lain. Untuk meredakan konflik antar kelompok pejuang Suriah ini kemudian para ulama yang dianggap netral menggelar inisiatif untuk membentuk mahkamah syariah. Tetapi inisiatif ini tidak berjalan karena ISIS menolak pembentukan mahkamah syariah.

Akibat dari penolakan ini dan karena statemen-statemen ISIS yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok lain sebagai kafir (takfiri), maka kelompok lainnya menganggap ISIS sebagai khawarij. Sehingga para ulama membagi konflik di Suriah ini menjadi 3 pertentangan aliran yaitu Syiah (dari pemerintah pimpinan Presiden Bashar Assad) kemudian kelompok Khawarij (ISIS) dan kelompok Ahlussunnah waljamaah (dari kelompok pejuang Syuriah lainnya seperti Jabhat An Nusra, Ahrar As Syam, Jabhah Islamiyah dan lain-lain).

Kembali ke halaman atas

.

Tujuan dan Masa Depan ISIS


Dari awal sampai pada pembentukan negara Islam murni telah menjadi salah satu tujuan utama dari ISIS. Menurut wartawan Sarah Birke, salah satu “perbedaan yang signifikan” antara Front Al-Nusra dan ISIS adalah bahwa ISIS “cenderung lebih fokus pada membangun pemerintahan sendiri di wilayah yang ditaklukkan”. Sementara kedua kelompok berbagi ambisi untuk membangun sebuah negara Islam, ISIS dengan “jauh lebih kejam … melakukan serangan sektarian dan memaksakan hukum syariah secara segera”. ISIS akhirnya mencapai tujuannya pada tanggal 29 Juni 2014, ketika itu dihapus “Irak dan Levant” dari namanya, dengan mulai menyebut dirinya sebagai Negara Islam, dan menyatakan wilayah okupasi di Irak dan Suriah sebagai kekhalifahan baru.

Pada pertengahan 2014, kelompok ini merilis sebuah video berjudul “The End of Sykes-Picot” berbahasa Inggris kebangsaan Chili bernama Abu Safiya. Video ini mengumumkan niatan kelompok ini untuk menghilangkan semua perbatasan modern antara negara-negara Islam Timur Tengah, khususnya mengacu pada perbatasan yang ditetapkan oleh Perjanjian Sykes-Picot selama Perang Dunia

Sejak menjadi pemimpin Negara Islam, Baghdadi membangun dan membangkitkan kembali organisasi yang berantakan karena kebangkitan kesukuan Sunni yang menolaknya, sementara di saat yang sama kekuatan militer AS juga meningkat. Dibandingkan dengan usaha pertama Negara Islam untuk berkuasa dalam sepuluh tahun terakhir, sampai sejauh ini, walaupun masih menggunakan kekerasan, mereka dipandang lebih berhasil meskipun tetap timbul pertanyaan tentang kelangsungannya dalam jangka panjang.

Keberhasilan ini sebagian karena mereka menggabungkan penerapan hukum keras dengan layanan sosial, disamping juga strategi pemberian umpan. Jika ditelaah, ISIS menargetkan wilayah di sepanjang Sungai Efrat dan Tigris di samping daerah yang memiliki minyak di Irak dan Suriah. Baghdadi dan pemimpin ISIS lain menyadari monopoli atas energi dan peningkatan kekuatan militer akan memudahkan penghimpunan kekuatan.

Tidak bisa diramalkan secara persis nasib ISIS di masa mendatang, tetapi Baghdadi jelas membuat organisasinya menjadi lebih dikenal dunia dan walaupun sosoknya kontroversial, namanya mungkin akan dikenal dalam sejarah dunia.

Kembali ke halaman atas

DAFTAR PUSTAKA

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: