//
Anda membaca...
Hiburan

Tayangan Sinetron Catatan Hati Seorang Istri (CHSI) Diprotes

Sinopsis Singkat Sinetron Catatan Hati Seorang Istri

Sinetron yang sedang naik daun, Catatan Hati Seorang Istri (CHSI) diprotes karena menggunakan istilah penyakit Down Syndrome sehingga tercipta stigma yang buruk di masyarakat. Sebelumnya, sinetron yang ditayangkan di RCTI setiap hari pukul 19.30 WIB pernah ditegur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena beberapa adegan dinilai telah melanggar UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran.

Pengaduan datang dari Persatuan Orang Tua Anak dengan Down Syndrome (POTADS) yang mendatangi Gedung KPI, Selasa, 08 Juli 2014. Menilik pemberitaan di situs resmi kpi.go.id, pengurus POTADS datang ke KPI bersama sejumlah pengurus lainnya yang dipimpin oleh Noni Fadillah. Pengurus POTADS diterima oleh Komisioner KPI Pusat, Sujarwanto Rahmat M. Arifin, Agatha Lily, dan Fajar Arifianto Isnugroho. Dalam aduannya, Noni menjelaskan, sinetron CHSI yang diadaptasi dari novel laris berjudul sama karangan Asma Nadia terdapat beberapa episode tayangan acara televisi ini menggunakan istilah “penyakit” Down Syndrome.

Menurut Noni, organisasinya keberatan dengan penyebutan istilah itu itu. Apalagi menurut Noni, dalam alur cerita sinetron CHSI yang juga diputar ulang pada pukul 04:00 WIB setiap harinya sudah mengarah pada stigma pada Down Synrom. “Melihat alur cerita saat ini, CHSI menimbulkan pemahaman bagi orang awam, bahwa anak yang lahir menyandang Down Synrome disebabkan karena suatu dosa, kutukan, karma. Padahal tidak demikian,” kata Noni. Noni juga menjelaskan, Down Syndrom bukan penyakit. Sebutan untuk mereka adalah penyandang atau anak yang terlahir dengan Down Syndrome.

Dari hasil penelitian kedokteran, orang tua yang melahirkan anak dengan Down Syndrome pada umumnya akan mudah mengalami stres, mudah marah, perasaan bersalah, dan sebagainya. “Ini akan berlarut jika terus menonton tayangan CHSI,” ujar Noni. Down Syndrome terbentuk karena suatu abnormalitas atau kesalahan perkembangan kromosom. Kromosom ini terbentuk akibat kegagalan sepasang kromosom untuk saling memisahkan diri saat terjadi pembelahan saat bertemunya sel telur dan sperma.

POTADS meminta kepada lembaga penyiaran atau rumah produksi untuk meluruskan pengertian bahwa down syndrome bukanlah disebabkan karena dosa atau kutukan. Mereka juga meminta agar beberapa sinetron tidak menggunakan kalimat atau kata-kata yang justru dapat menyesatkan pandangan masyarakat mengenai down syndrome.

“Kami meminta kepada lembaga penyiaran atau rumah produksi meluruskan tentang Down Syndrome, bukan disebabkan karena dosa, karma, kutukan, dan tidak menggunakan kalimat yang dapat menyesatkan pandangan masyarakat tentang Down Syndrome,” ujar Noni.

Setelah mendengar penjelasan dari pengurus POTADS, Komisioner KPI Bidang Isi Siaran Rahmat mengatakan akan mengeluarkan surat edaran kepada semua lembaga penyiaran tentang penggunaan istilah yang sesuai dengan rumpun bidang-bidang tertentu, serta tidak menyinggung pihak lain untuk seluruh program acara. “Dengan adanya dialog dan penjelasan yang detail seperti ini membuat kami bisa lebih tahu dan belajar tentang Down Synrome,” ujar Rahmat.

Sebelumnya KPI Beri Teguran Resmi Untuk CHSI

Sinetron Catatan Hati Seorang Istri (CHSI) yang dibintangi Dewi Sandra mendapat teguran tertulis dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pada Rabu, 2 Juli 2014 kemarin KPI menerbitkan surat teguran resmi untuk CHSI. Menilik pengumuman resmi di situs kpi.go.id, ada beberapa adegan dalam sinetron itu yang dinilai telah melanggar UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Pada 10 Juni 2014 pukul 20.23 WIB misalnya program siaran itu secara eksplisit menayangkan adegan seorang wanita yang menyayat tangannya sendiri menggunakan benda tajam hingga berdarah.

Pelanggaran lainnya berupa adegan mencekik yang tayang pada 20 Juni pukul 19:59 WIB serta adegan Karin yang melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari gedung tinggi pada 21 Juni pukul 21:10 WIB. Menurut KPI, jenis pelanggaran ini dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap perlindungan kepada anak-anak dan remaja serta penggolongan program siaran.

“KPI Pusat memutuskan bahwa tindakan penayangan tersebut telah melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 14 dan Pasal 21 ayat (1) serta Standar Program Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Tahun 2012 Pasal 15 ayat (1) dan Pasal 37 ayat 4 huruf a. Berdasarkan pelanggaran di atas, KPI Pusat memutuskan menjatuhkan sanksi administratif Teguran Tertulis.” Begitu bunyi salah satu poin yang tertuang dalam surat teguran bernomor 1547/K/KPI/07/14 yang dirilis KPI.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: