//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

12 Kegagalan Ketum Golkar, Aburizal Bakrie Versi Suhardiman

Foto Suhardiman Pendiri SOKSI dan Aburizal Bakrie

Inilah 12 kegagalan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar yang dikatakan oleh Suhardiman, salah satu pendiri Partai dengan lambang pohon beringin tersebut. Suhardiman yang sering disebut sebagai dukun politik, memang diketahui salah satu pendukung pasangan Jokowi-JK dan pernah mengatakan bahwa mantan Walikota Solo tersebut mempunyai ciri-cirinya mirip dengan “Satrio Piningit,” yang diramalkan Joyoboyo akan memimpin Indonesia.

Suhardiman, politikus lintas zaman kelahiran 16 Desember 1924 bukanlah sembarang orang. Beliau adalah pendiri Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), yang membidani lahirnya Golkar. Ia oleh kalangan politikus senior dikenal memiliki kemampuan menerawang hal-hal yang belum diketahui orang banyak. Suhardiman mempunyai ketajaman naluri politik yang luar biasa dan memiliki kemampuan,kecerdasan dan ketajaman intuisi, insting dalam memprediksi perkembangan politik Indonesia jauh ke depan.

Suhardiman sebelumnya pernah mengatakan 100 persen pasangan capres dan cawapres yang dipilih Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie yaitu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa bakal kalah. Ia menuntut DPP Golkar segera menggelar musyawarah nasional (Munas) pada tahun 2014 untuk mengganti Ketua Umum Partai Golkar yang kini dijabat Aburizal Bakrie.(Baca: Demokrat dan Golkar Menyeberang Ke Kubu Jokowi?)

Aburizal dianggap telah gagal membawa kejayaan bagi partai berlambang pohon Beringin itu. Suhardiman memaparkan setidaknya ada 12 kegagalan Aburizal. “Munas Partai Golkar harus segera diselenggarakan karena 12 kegagalan Aburizal Bakrie dalam memimpin Partai Golkar,” kata Suhardiman dalam jumpa pers di kediamannya, Jakarta, Minggu (3/8/2014).

Berikut adalah 12 kegagalan Ical atau Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Golkar menurut versi Suhardiman, seperti yang dimuat kompas.com.

1. Ical gagal mencapai target perolehan suara sebesar 30 persen pada pemilu legfislatif 2014. Pada pemilu itu, Partai Golkar hanya mendapat suara sebesar 14,5 persen.
2. Suhardiman menilai Aburizal gagal mempertahankan kursi Partai Golkar di DPR RI. Jumlah kursi yang didapat pada Pemilu 2014, yakni 91 kursi, berkurang dari periode 2009-2014 sebanyak 106 kursi.
3. Ical gagal menjadi calon presiden pada Pilpres yang lalu karena tidak ada partai yang mau berkoalisi alias tidak layak jual.
4. Aburizal telah gagal menjadi calon wakil presiden karena tidak ada satu calon presiden pun yang mau menerima pemilik Bakrie Grup itu.
5. Aburizal dianggap gagal meraih kemenangan pada pilpres lalu dengan keputusan berkoalisi dengan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.
6. Usul Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tanjung kepada Prabowo-Hatta untuk mengundurkan diri pada proses Pilpres merupakan usul yang bertentangan dengan Undang-undang nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan menciderai demokrasi.
7. Aburizal gagal pula dalam mengelola partai. Suhardiman menuding Aburizal telah menjadikan Partai Golkar sebagai alat untuk memperjuangkan kepentingan pribadi, korporasi, dan kroni-kroninya.
8. Aburizal dianggap telah berbohong lantaran tidak menepati janjinya saat Munas VIII Partai Golkar di Pekanbaru, Riau. Saat itu, Aburizal berjanji akan membangun gedung DPP Partai Golkar sebanyak 25 tingkat dan menyediakan dana abadi sebesar Rp 1 triliun untuk Partai Golkar.
9. Ical dengan segelintir elit Partai Golkar akan menjadikan partai ini sebagai partai oposisi adalah sebuah gagasan yang naif dan ngawur karena bertentangan dengan doktrin karyawanisme di mana setiap kader Partai Golkar harus selalu berkarya untuk nusa dan bangsa di supra maupun di infrastruktur politik.
10. Suhardiman menjelaskan bahwa posisi Golkar yang direncanakan sebagai partai oposisi sangat merugikan kader partai yang saat ini duduk dalam jabatan pemerintahan.
11. Kegagalan Aburizal lainnya, yakni terkait dengan pemecatan kader Golkar tanpa didasari pertimbangan prestasi, dedikasi, loyalitas, dan tidak tercela (PDLT).
12. Kebijakan Ketua Umum Golkar memecat kader-kader Partai Golkar karena mendukung Cawapres Jusuf Kalla adalah merupakan sebuah upaya untuk memecah belah kader-kader Partai Golkar mengingat cawapres Jusuf Kalla adalah kader Partai Golkar dan mantan Ketua Umum Partai Golkar.

Suhardiman bersama Presidium Depinas SOKSI mengusulkan agar Aburizal mundur dari jabatannya atau segera melaksanakan Musyawarah Nasional Partai Golkar secepatnya sebelum tanggal 4 Oktober 2014 sesuai siklus pergantian kepemimpinan kepengurusan partai. Hal ini pula telah diatur dalam Anggaran Dasar Partai Golkar pasal 30.

Pendiri Kosgoro, SOKSI dan MKGR Dorong Pemecatan Ical

Tiga organisasi pendiri Partai Golkar, yakni Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI), Kosgoro, dan Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) akan mulai menggalang kekuatan untuk mendorong pemecatan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Umum Partai melalui musyawarah nasional (Munas) Golkar.

Pada 10 Agustus mendatang, pengurus daerah di tiga ormas pendiri itu akan datang ke Jakarta dan menggelar pertemuan. “Pada 10 Agustus mendatang akan ada pertemuan tingkat nasional untuk pengurus SOKSI, Kosgoro, dan MKGR di Jakarta untuk membahas rekomendasi terkait Munas,” ujar Ketua Presidium Depinas SOKSI, Lawrence TP Siburian, dalam jumpa pers di Jakarta, Minggu (3/8/2014).

Lawrence mengungkapkan bahwa ketiga ormas itu memiliki “saham” di Partai Golkar. Dia mencontohkan, sebagian besar pengurus Partai Golkar di provinsi maupun di kabupaten/kota merupakan pengurus Soksi, Kosgoro, dan juga MKGR. Sehingga, pertemuan pada 10 Agustus mendatang akan sangat berpengaruh pada wacana pelaksanaan Munas.

“Kami sengaja akan menghadirkan pengurus Golkar tingkat II (kabupaten/kota) agar suara mereka tidak dikooptasi oleh tingkat I. Hasil pertemuan 10 Agustus nanti itu akan mekomendasikan terkait munas,” imbuhnya. Lawrence yakin sebagian besar pengurus daerah Soksi, MKGR, dan Kosgoro akan mendukung pergantian Aburizal melalui Munas tahun ini. Setidaknya, kata dia, kepastian dukungan sudah didapat dari pengurus Partai Golkar Bali, Sulawesi Utara, Aceh, dan Papua.

Gonjang-ganjing di internal Partai Golkar masih belum berhenti. Dorongan agar ketum diganti semakin kuat setelah kekalahan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang didukung Partai Golkar. DPD I Golkar sepakat menolak usulan munas pada 2014 untuk menggantikan kepemimpinan Aburizal Bakrie.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: