//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Pohon Beringin Alun-Alun Kraton Jogja Terbakar, Pertanda Buruk?

Foto Beringin kembar di Alun-Alun Kidul Terbakar

Salah satu pohon beringin kembar ringin di Alun-Alun Selatan Kraton Yogyakarta terbakar pada Minggu malam, 3 Agustus 2014. Banyak masyarakat percaya bahwa ini merupakan pertanda buruk karena ringin kurung Alun-Alun Kidul Kraton Yogyakarta, dipercaya sebagian masyarakat sebagai shasmita atau petunjuk akan terjadinya peristiwa besar. Kejadian masa silam, baik itu terbakar atau robohnya salah satu Ringin Kurung selalu diikuti peristiwa besar.

Menurut sejumlah saksi, terbakarnya beringin tersebut dikarenakan pengunjung yang membuang putung rokok yang masih bernyala ke dalam pohon beringin. Zainudin, seorang pengunjung mengatakan bahwa kejadian terbakarnya pohon beringin mengagetkan dirinya dan pengunjung lainnya. “Waktu itu ada yang teriak ‘api’ berkali-kali. Ada yang bilang kalau gara-gara putung rokok, tapi nggak tahu juga gimana. Kalau benar gara-gara putung rokok, keterlaluan itu orangnya,” ujarnya, seperti berita yang diliris beritajogja.co.id.

Mengomentari terbakarnya pohon beringin akibat ulah manusia, Purwadi, budayawan Jogja mengatakan bahwa jika benar demikian maka peristiwa ini menjadi tanda hilangnya tanda kemanusiaan di tanah Jawa. Adapun yang dimaksudkannya adalah memayu hayuning bawana, yaitu sikap mencintai alam. “Kalau benar karena puntung rokok, berarti kita di tanah Jawa sudah kehilangan salah satu pegangan hidup, yaitu mamayu hayuning bawana. Hiduo harus selaras dan menjaga keseimbangan dengan alam. Rusak,” tegasnya.

Warga Prawirotaman Dewa mengatakan peristiwa terbakarnya salah satu Ringin Kurung sebagai pertanda hilangnya kemakmuran di bumi nusantara. Nusantara yang dimaksud bisa berarti Yogyakarta maupun Indonesia, yang pernah menjadi kekuasaan dari kerajaan Majapahit. Di mana Kerajaan Mataram (Kraton Yogyakarta) keturunan dari kerajaan Majapahit.

“Iku tandane Sirno ilang kertaning bumi (hilangnya kemakmuran di bumi ). Atau juga tanda kesucian telah hilang. Seharusnya dulu itu Alkid (alun-alun kidul) sepi tempat untuk merenungkan diri. Tidak seperti sekarang jadi ramai untuk wisata,” ujar Dewa kepada Liputan6.com, Senin (4/8/2014) dini hari.

Pernah Terjadi Tahun 1961

Sementara Marsono, warga Taman, Patehan, Kraton, Yogyakarta menyebutkan sejak beberapa puluh tahun terakhir, baru kali ini Ringin Kurung alun-alun selatan terbakar secara tiba-tiba. “Setahu saya ya baru kali ini ringin kurung di alun-alun kidul ini terbakar. Sebelum-sebelumnya tidak pernah terjadi,” kata warga Njeron Benteng ini. Kakek berumur 73 itu mengatakan, peristiwa terbakarnya pohon beringin Kraton Yogyakarta juga pernah terjadi di pada 1961 silam. Di mana salah satu Ringin Kurung yang berada di alun-alun utara terbakar habis.

“Dulu tahun 1961 ringin kurung di alun-alun utara itu juga pernah terbakar. Yang sebelah timur juga. Saat itu bertepatan dengan pekan raya. Setelah itu kan 4 tahun kemudian tahun 1966 terjadi Gestapu,” kata Marsono.

Marsono juga mempercayai, terbakarnya salah satu pohon beringin di alun-alun selatan ini akan diikuti peristiwa tertentu. Cucu abdi dalem Kraton, Lurah Proyo Dinejo, yang dulu bertugas mengurus Ringin Kurung Kraton Yogyakarta itu mencontohkan, peristiwa tertentu itu seperti saat menjelang wafatnya Sri Sultan Hamengkubuwono IX, salah satu Ringin Kurung di alun-alun utara tiba-tiba roboh. “Biasanya memang begitu. Kalau tidak ada keluarga kraton yang akan meninggal ya bisa jadi akan ada sesuatu hal lain. Tapi biasanya itu skalanya nasional,” pungkasnya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: