//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

5 Kelucuan dari Keterangan Para Saksi Prabowo di Sidang MK

Foto 25 Saksi Prabowo-Hatta Diambil Sumpah di Gedung MK

Banyak keanehan dan kelucuan yang terjadi dari keterangan atau kesaksian para saksi pasangan Prabowo-Hatta dalam sidang lanjutan sengketa hasil Pilpres di Mahkamah Konstitusi, hari Jumat (8/8/2014). Beberapa kali majelis hakim MK justru dibuat kesal oleh keterangan saksi karena tidak bisa menunjukkan bukti kecurangan dalam agenda sidang untuk mendengarkan jawaban termohon, keterangan pihak terkait, dan Bawaslu terkait gugatan Pilpres 2014 oleh pasangan Prabowo-Hatta.

Padahal pada hari Rabu, 6/8/2014, dalam sidang perdana sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) presiden dan wakil presiden 2014, Prabowo Subianto menyebut pihaknya sanggup mendatangkan ribuan saksi dari seluruh Indonesia untuk keperluan persidangan. Walaupun demikian, Ketua Majelis hakim Konstitusi Hamdan Zoelva mengatakan, pihaknya akan membatasi jumlah saksi yang akan diajukan dalam sidang perselisihan hasil pemilu presiden 2014. Alasannya, penanganan gugatan perselisihan hasil Pilpres di MK dibatasi waktu sehingga kubu Prabowo-Hatta hanya menghadirkan 25 saksi.

Berikut adalah lima (5) kelucuan dari penyataan para saksi Prabowo-Hatta di depan hakim MK pada tanggal 8-8-2014 yang diperoleh dari beberapa sumber, yang tentu saja hal ini menjadi bahan pembicaraan dan candaan di berbagai forum online dan sosial media.

Adukan Kelebihan 1 Suara di TPS-nya

Saksi pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Amir Darmanto, mengadukan adanya kelebihan satu suara di tempat ia memberikan hak suaranya. Amir menjelaskan, dirinya merupakan saksi Prabowo-Hatta di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Ia memberikan hak suaranya di tempat dirinya tinggal, yakni di TPS 19, Batursari, Demak, Jawa Tengah.

“Di TPS kami (TPS 19), ada satu surat suara yang tidak ditandatangani oleh petugas KPPS,” kata Amir dalam persidangan tersebut. “Anda lihat sendiri? Hanya satu surat suara?” tanya Arief Hidayat, salah satu hakim konstitusi. “Iya, saya lihat sendiri. Surat suara yang tidak ditandatangani itu membuat jumlah suaranya lebih satu suara,” jawab Amir. “Mungkin karena lupa, kelewatan (tak ditanda tangan). Ada lagi yang mau disampaikan?” kata Arief menimpali.

Mendengar itu, anggota DPRD Kabupaten Demak dari Fraksi PKS itu langsung menyampaikan adanya kasus serupa di beberapa TPS lain di wilayah Demak. Meski begitu, hakim konstitusi tak antusias menanggapinya karena Amir melaporkan dugaan kecurangan yang tidak ia saksikan langsung dan tanpa bukti yang memadai. “Saya enggak hafal jumlahnya, tapi terjadi di sekitar 11-12 TPS di sana,” ungkapnya. (Baca: kompas.com)

Bukti Kliping Koran dan Menangis Dalam Sidang

Seorang saksi yang diajukan pasangan calon presiden dan calon wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menangis di depan majelis hakim. Saksi tersebut adalah Rahmatullah Al Amin yang merupakan saksi Prabowo-Hatta di Kota Surabaya, Jawa Timur. Rahmatullah menangis ketika mengatakan bahwa apa yang ia sampaikan kepada majelis hakim merupakan amanat dari rekan-rekannya di Surabaya tentang banyaknya ketidakadilan sehingga merugikan Prabowo-Hatta. “Ini saya bawa suara teman-teman di Surabaya, Yang Mulia. Ini benar, saya punya buktinya,” kata Rahmatullah sambil terisak dalam persidangan tersebut. (Baca: Saksi Prabowo Menangis di Depan Majelis Hakim Saat Sidang MK)

Menggunakan Bahasa Jawa di Sidang MK

Peristiwa lucu terjadi dimana berkali-kali majelis hakim MK harus mengingatkan agar saksi menggunakan bahasa Indonesia yang baik selama memberikan keterangan. Peristiwa tersebut bermula ketika anggota majelis hakim, Ahmad Fadlil Sumadi, mengajukan pertanyaan kepada saksi Prabowo Subianto-Hatta Rajasa yang bertugas mengawasi proses perhitungan suara di KPUD Demak, Ahmad Gufron, terkait proses rekapitulasi suara.

“Jadi, Anda keberatan rekapitulasi di tingkat desa dilakukan lebih cepat dari tanggal 10 Juli ke tanggal 9 Juli,” tanya Fadlil kepada Gufron. Secara spontan, Gufron yang merupakan warga asli Jawa Tengah itu secara spontan menjawab pertanyaan Fadlil dengan menggunakan bahasa Jawa halus. “Enggih (iya),” jawab Gufron.

Jawaban Gufron sontak membuat peserta sidang yang menyaksikan jalannya persidangan di dalam ruang sidang pun tertawa. Gufron sendiri terlihat kikuk melihat reaksi dari peserta yang menertawakan jawabannya. Fadlil kemudian mengingatkan agar Gufron menggunakan istilah bahasa Indonesia yang baik. “Ini Jakarta Om, tidak seperti Demak. Tolong gunakan bahasa Indonesia yang baik,” ujarnya. (Baca: kompas.com)

Tak Ada Bukti, Hakim MK Kesal

Majelis hakim MK jdibuat kesal oleh keterangan saksi karena tidak bisa menunjukkan bukti kecurangan.
Tak heran jika hakim konstitusi menyebut pemohon tidak serius mempersiapkan para saksinya. Salah satu saksi yang memantik kekesalan hakim adalah Purwanto dari Sidoarjo, Jatim.

Saksi Prabowo-Hatta dalam rekapitulasi di Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo itu menyoal kisruh jumlah DPT dan Daftar Pemilih Khusus Tambahan (DPKTb) di TPS 23, Desa Kepuh Kiriman, Waru, Sidoarjo. Menurut dia, di TPS itu DPKTb berjumlah 130, setengah dari jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang berjumlah 260.

Setelah memberi keterangan panjang lebar, saksi justru tidak tahu bukti maupun saksi dari pihak lain yang bisa ditunjukkan untuk memperkuat ceritanya. “Di TPS kami tidak ingat ada saksi atau tidak yang mulia,” kata Purwanto dalam sidang di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Jumat (8/8).
“Saudara nggak punya saksi nggak hadir kok bisa cerita?. Anda hadir di TPS itu?” tanya hakim Ahmad Fadlil Sumadi.

Namun saksi yang agaknya tidak konsentrasi mendengar tersebut meminta hakim Fadlil mengulangi pertanyaannya. “Bagaimana diulang yang mulia (pertanyaannya)?” timpal saksi yang sudah disumpah dengan Alquran ini. “Ah, ini main-main saja!. Bagaimana kalau tidak hadir bisa membuktikan ada 130 DPKTb?. ” semprot hakim.

“Kalau jumlah DPT hanya 260, dan kertas suara dilebihkan dua persen, cuma bertambah berapa itu? Dapet surat suara darimana 130 yang lain itu?” tanya Arif. “Dari tim data yang dsampaikan dalam rekap,” jawab saksi Purwanto. (Baca: globalindo.co)

Bingung dan Lupa Akan Tiga Keberatan yang Disampaikan

Bendot Widoyo, kewalahan menjawab pertanyaan hakim konstitusi dalam persidangan sengketa perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) presiden dan wakil presiden 2014 di Gedung Mahkamah Konstitusi, Jumat (8/8/2014) sore. Bendot merupakan saksi Prabowo-Hatta untuk wilayah Jepara, Jawa Tengah. Pada awal keterangannya, Bendot mengatakan akan menyampaikan tiga keberatan dalam proses rekapitulasi di KPUD Jepara, Jawa Tengah.

“Ada tiga keberatan yang ingin saya sampaikan terkait rekapitulasi perolehan suara pemilu presiden di KPUD Jepara,” kata Bendot dalam persidangan tersebut. Namun, ia hanya menyampaikan laporan dari relawan Prabowo-Hatta tentang dugaan kecurangan yang terjadi di Jepara.

Keberatan pertama, kata Bendot, terkait dengan laporan relawan Prabowo-Hatta tentang pembagian mi instan dan uang sebesar Rp 5.000 untuk menggiring warga memilih Joko Widodo-Jusuf Kalla. Namun, saat diperdalam oleh hakim konstitusi, Bendot tak mampu menjawab dan mengaku tak melihat langsung dan tak memiliki bukti.

“Apa Anda tahu siapa yang bagi-bagi mi instan? Kapan dibaginya? Di mana pembagiannya?” tanya salah satu hakim konstitusi, Ahmad Fadlil Sumadi, kepada Bendot. “Enggak tahu. Saya cuma dapat laporan dari tim relawan,” jawab Bendot. Keberatan kedua, kata Bendot, adanya pengarahan oknum petinggi di Jepara untuk memilih Jokowi-JK. Petinggi yang dimaksud Bendot adalah kepala desa dan pihak yang ia sebut memberi pengarahan itu adalah Wakil Bupati Jepara Subroto.

“Saya enggak tahu kapan waktu pengarahan itu, dilakukannya di Restoran Malibu, tapi saya enggak hafal alamat restorannya,” ungkap Bendot. “Jadi, Anda tidak tahu? Kalau Anda harus ajari bagaimana caranya membuat laporan,” kata Fadlil menimpali. Setelah itu, Bendot langsung mengakhiri keterangannya. Ia lupa bahwa baru ada dua hal yang ia sebutkan dari tiga hal yang awalnya akan ia sampaikan kepada majelis hakim. (Baca: Kompas.com)

Diskusi

2 respons untuk ‘5 Kelucuan dari Keterangan Para Saksi Prabowo di Sidang MK

  1. salah satu dari lima saksi adalah temenku Bendot Widoyo asli Manjung-sawit-boyolali. Aku temenmu Ndot..? dulu waktu SD hanya Ismanto yg bisa ngejar Rangkingku, aku selalu Rangking 2, begitu juga Pilihan Presiden ku gak bisa 1. tapi bagaimanpun juga you tetap Sahabatku.

    Posted by Suparno Yuwono Milanisty | Agustus 16, 2014, 4:05 pm
  2. Tapi sayang Ndot.. masyarakat Manjung mengkritikmu, sebenarnya bangga ada warga yg masuk TV. you tetap dihormati. O… ya.. Pilpres kemaren Kalurahan Manjung 87% tuk Bossku JOKOWI-JK. Sory lho Ndot.. jangan sakit hati.. beginilah dunia Politik, kadang seneng tapi aku menyadari you baru susah, bossmu gak marah kan.? kalo marah tinggal aja.

    Posted by Suparno Yuwono Milanisty | Agustus 16, 2014, 4:11 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: