//
Anda membaca...
Kesehatan

Wabah Virus Ebola Diduga Berawal dari Anak 2 Tahun di Guinea

Indonesia Lakukan Antisipasi Penyebaran Virus Ebola

Sekelompok peneliti dari WHO menduga penyebaran wabah virus Ebola berawal dari seorang pasien anak, berusia dua tahun yang tinggal di desa Meliandou, Gueckedou, Guinea. Wabah penyakit ini yang terjadi tahun ini bisa jadi tercatat sebagai yang terburuk sepanjang sejarah karena telah menelan korban sebanyak 961 orang sehingga dinyatakan sebagai darurat internasional.

Seperti yang diberitakan CNN dan Detik.com, sekitar 8 bulan lalu, anak yang dipercaya sebagai ‘Patient Zero’ ini jatuh sakit dengan gejala seperti demam, buang air besar dengan feses berwarna hitam dan muntah-muntah. Empat hari kemudian atau tepatnya pada tanggal 6 Desember 2013, nyawanya tak bisa diselamatkan. Setelah itu, peneliti dapat mengurai ‘rantai penularan’ yang terjadi dalam keluarga si bocah.

Pasalnya setelah anaknya meninggal, seminggu berikutnya sang ibu mendadak mengalami pendarahan dan meninggal pada tanggal 13 Desember. Disusul oleh kakak perempuan si ‘Patient Zero’ yang masih berusia tiga tahun yang meninggal pada tanggal 29 Desember, dengan gejala persis seperti yang dialami sang adik. Hingga pada akhirnya penyakit yang sama juga menulari sang nenek, yang meninggal tak berapa lama setelah cucu perempuannya, yaitu pada tanggal 1 Januari 2014.

Ebola baru menyebar ke luar desa ini setelah beberapa orang menghadiri pemakaman sang nenek. Apalagi setelah itu muncul laporan ada dua orang yang berasal dari desa sebelah dan sempat menghadiri pemakaman lantas jatuh sakit sesudahnya. Bisa jadi kemudian ia menyebarkan virus Ebola ke petugas kesehatan dan anggota keluarganya yang lain.

“Memang seorang petugas kesehatan dari Gueckedou yang diduga mengidap Ebola. Bisa jadi dialah yang memicu penyebaran virus tersebut ke desa lain seperti Macenta, Nzerekore dan Kissigougou pada bulan Februari 2014 karena menangani si pasien yang terinfeksi,” kata peneliti. Salah satu yayasan kesehatan yang membantu penanganan Ebola di Afrika asal Prancis, Medecins Sans Frontières (MSF) sebelumnya sudah menegaskan bahwa kurangnya pemahaman masyarakat akan cara penularan Ebola menjadi alasan banyaknya kasus baru yang terjadi. Salah satunya berkaitan dengan pemakaman jenazah.

“Masih banyak yang masyarakat yang melayat, menyiapkan dan menguburkan jenazah korban Ebola tanpa pengamanan yang cukup membuat mereka rentan tertular,” tulis MSF dalam keterangan persnya. Padahal Ebola bisa menular dengan cukup mudah. Bersentuhan hingga terkena keringat orang positif Ebola dapat membuat seseorang tertular dan mengalami demam tak sampai 24 jam setelahnya.

“Sampai saat ini belum jelas dari mana anak 2 tahun itu tertular. Salah satu kemungkinannya adalah tertular dari hewan, mungkin kelelawar, atau dari buah-buahan yang terkontaminasi dari binatang yang sakit ebola. Tapi semua penular ini baru hipotesis ilmiah,” tulis Prof Dr Tjandra Yoga Aditama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI dalam rilis yang diterima wartawan baru-baru ini.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: