//
Anda membaca...
Hiburan

Sinopsis Film Negeri Tanpa Telinga, Karya Lola Amaria

Gambar Poster Film Negeri Tanpa Telinga

Negeri Tanpa Telinga merupakan film drama karya Lola Amaria (sutradara sekaligus produser) yang mampu memberikan warna tersendiri dalam dunia perfilman Indonesia dengan menghadirkan sebuah cerita dan tayangan mengenai skandal seks dan korupsi para pejabat serta elite politik disertai dengan kritik sosial. Ya, film ini termasuk berani yang sepertinya menyinggung kasus korupsi di tanah air seperti kasus korupsi sapi yang dilakukan petinggi PKS dan proyek Hambalang oleh petinggi Partai Demokrat.

Walaupun banyak dipuji karena menguak dunia hitam politik Indonesia, film ini banyak dikritisi karena tidak menampilkan “fakta” yang baru walaupun Lola Amaria dikabarkan melakukan riset selama 5 tahun. “Risetnya cukup panjang. Saya menemukan skandal seks tidak hanya di politik, tetapi juga di mana-mana ada. Berita tentang skandal itu banyak di televisi dan ternyata realitasnya lebih menyeramkan dibandingkan dengan di film,” ujar Lola, seperti berita yang dirilis oleh kompas.com.

Mengungkap Skandal Korupsi Elite Politik Indonesia

Gamblang namun samar. Negeri Tanpa Telinga mencoba mengungkap aktivitas gelap dan keseharian lain para politisi Indonesia. Dalam film ini, tak jauh di lingkaran seks, kekuasaan, uang, juga korupsi. Sama halnya dengan hal-hal yang diberitakan di media massa. Karena dari media massa pula lah cerita Negeri Tanpa Telinga berangkat.

Secara menyeluruh, film yang naskahnya ditulis oleh Lola dan Indra Tranggono, memang dipenuhi dengan dialek-dialek intelektual, menyindir, dan acap kali mengundang gelak tawa, mengingat film ini bergenre komedi satir atau parodi politik. Anda tak perlu khawatir tak memahami film ini, karena Lola juga sebagai sutradara sudah mengemasnya sedemikian indah dan pas untuk disaksikan serta dijadikan pelajaran bagi Anda. Dengan kata lain, kisah film ini sangatlah mudah di cerna meskipun menggambarkan latar belakang dunia politik.

Dari sisi pemain yang dilibatkan, film ini juga menggandeng bintang-bintang yang sudah tidak diragukan lagi kualitasnya seperti Ray Sahetapy, Teuku Rifnu Wikana, Gary Iskak, Lukman Sardi, Tanta Ginting, Jenny Zhang, dan Kelly Tandiono. Masing-masing dari mereka berperan penting dalam menyambung benang merah cerita Negeri Tanpa Telinga dari awal hingga akhir pemutarannya.

Lola mengatakan film ini bukanlah film komersial yang diharapkan bisa laku ditonton orang. Dengan semangat memberikan edukasi kepada masyarakat, Lola yang mencari dana sendiri untuk film ini lebih ingin agar film tersebut bisa ditonton pelajar dan mahasiswa di Indonesia. “Setiap film tentu memiliki pesan positif yang bisa dipetik penontonnya. Kalau saya pribadi, saya ingin film ini bisa ditonton anak sekolah dan mahasiswa supaya bisa menjadi memori kolektif mereka pada masa depan,” kata Lola.

Jika memori kolektif itu sudah melekat, ia berharap, nantinya, generasi muda bisa menolak segala praktik yang tidak baik dalam berpolitik sehingga bisa menjadikan bangsa ini menjadi utuh, jujur, dan bersih. Lola mengatakan bahwa gagasan film itu berasal dari pemberitaan media massa yang terus-menerus membahas skandal seks dan korupsi para pejabat serta elite politik.

Ray Sahetapi mengatakan, upaya Lola menguak skandal politik dan korupsi Indonesia ini patut diacungi jempol. Sebagai sutradara perempuan, ia berani mengangkat tema yang jarang digarap sineas lainnya. Membuat film semacam ini tidaklah mudah. “Lola tak hanya mengamati media massa, tetapi perlu juga mewawancarai banyak narasumber agar bisa memperoleh gambaran yang riil,” kata Ray.

Simak video trailer Film Tanpa Telinga di bawah ini

Sinopsis Singkat Film Tanpa Telinga

Naga (T.Rifnu Wikana) tiba tiba merasa bahwa hidupnya terlalu menyakitkan. Padahal ia berprofesi sebagai tukang pijat, yang notabene bekerja untuk menyembuhkan sakit seseorang. Oleh karena itu, ia datang ke dokter Sangkakala (Landung Simatupang). Ia meminta kepada dokter sahabatnya itu untuk merusak gendang telinganya agar ia tidak lagi mendengar suara-suara yang menyakitkan hatinya itu.

Sementara sebuah rencana konspirasi besar dilakukan oleh Partai Amal Syurga. Sang ketua partai Ustad Etawa (Lukman Sardi) bekerja sama dengan importir daging domba, berusaha memanipulasi uang negara untuk keuntungan partainya. Rencana tersebut disusun rapi dengan berbagai dalih. Dan aktivitas partai yang selalu memakai symbol-simbol religi tersebut ternyata berbanding terbalik dengan segala tindak tanduk para petinggi partainya.

Partai Martobat adalah pengusung legitimasi politik di negeri itu. Piton (Ray Sahetapy) berambisi besar untuk menjadi presiden. Untuk itulah ia berusaha mendapatkan dana sebanyak-banyaknya dengan menggunakan pengaruhnya di parlemen dibantu oleh Joki Ringkik, teman separtainya yang mati-matian meyakinkan Piton untuk maju ke pilpres berikutnya. Piton juga memainkan peran Tikis Queenta (Kelly Tandiono) seorang perempuan pelobi ulung yang bisa masuk ke semua lini parlemen dan orang-orang partai.

Dibalik itu semua, konspirasi dan rencana busuk kedua partai besar tersebut ternyata sudah dincar oleh Kapak. Sebuah lembaga pemberantasan korupsi yang memang sudah mencium rekam jejak kedua partai itu. Di samping itu, aktivitas para petinggi partai juga sudah terendus oleh seorang host TV9 (TV Nine) bernama Chika Cemani (Jenny Zhang) yang melakukan investigasi lewat berbagai nara sumber.

Piton yang sudah berusaha bermain bersih, ternyata menghadapi kenyataan ia harus berhadapan dengan Kapak. Awalnya, ia mengira bahwa Tikis Queenta mempunyai peran. Tetapi belakangan ia menduga tahu bahwa sang reporter lah yang membocorkan apa yang dilakukannya. Piton mempunyai hubungan akrab dengan sang reporter.

Telinga Naga lah yang sebenarnya menangkap semua percakapan dan perbincangan orang-orang itu. sebagai tukang pijat, ia mendengar semua pembicaraan orang-orang penting itu, bagaimana mereka melakukan transaksi busuk, mendengar keluh kesah Piton yang selalu tidak dianggap pun oleh istrinya sendiri. Percakapan itulah yang membuat Naga muak. Orang kecil yang sangat mencintai istrinya, tetapi ia terjebak dalam suasana yang sangat tidak ia inginkan.

Telinga penting bagi cara berpikir dan kebeningan nurani. Tetapi ia menjadi indra yang menyakitkan ketika mendengar sebuah kebenaran yang berhadapan dengan nati nurani. Naga yang muak dengan curhatan itu akhirnya meminta dokter kenalan untuk menulikan telinganya.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: