//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Dalam Penyusunan Kabinet, Hubungan Jokowi dan JK Retak?

Foto Jokowi dan JK dalam Konferensi Pers Usai Putusan MK

Beredar isu bahwa hubungan Jokowi dan Jusuf Kalla (JK) sedang mengalami keretakan karena persoalan penyusunan calon anggota kabinet di pemerintahan yang akan datang dan pembentukan Rumah Transisi yang digagas oleh kubu Jokowi terus menuai pro dan kontra. Pasalnya, JK tak pernah dilibatkan dalam pembentukan wadah yang dijadikan sebagai tempat untuk pematangan visi dan misi di pemerintahan bila keduanya resmi sebagai presiden dan wakil presiden terpilih.

Isu keretakan antara kedua kubu Jokowi dan JK semakin berhembus pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait perkara sengketa Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014. Salah satunya diungkapkan Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjat Wibowo. “Gesekan ada di kubu Jokowi-JK. Ini cerita langsung dari tokoh-tokoh kunci di kubu Jokowi-JK,” ujar Dradjat dalam diskusi Sindo Trijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu 23 Agustus 2014.

Kendati demikian, dia mengatakan, di setiap partai tentu memiliki permasalahan. “Bagaimana mereka menangani masalah itu, solid atau tidak. Kalau tidak mampu mengatasi, retakan-retakan,” pungkasnya “Tetap fokus di (Koalisi) Merah Putih, terakhir kami menjelang rapat, kami tetap solid. Semua petinggi partai hadir lengkap. Terjadi saat ini malah ada gesekan-gesekan keras yang terjadi di koalisi Jokowi-JK,” kata Drajad.

Bantahan Jokowi, JK dan Anies Baswedan

Joko Widodo membantah informasi tentang hubungan yang kurang harmonis antara dirinya dan wakil presiden terpilih Jusuf Kalla. Hal itu terkait persoalan calon anggota kabinet di pemerintahan yang akan datang. “Wong tiap hari kita ketemu, tiap malam kita ketemu, gimana sih?Selak-selek (slack) gimana?” kata Jokowi, Minggu (24/8/2014) di Jakarta.

Jokowi mengatakan, sampai saat ini belum ada pembicaraan terkait kursi kabinet, baik dengan JK maupun partai mitra koalisi. Jokowi beralasan, dirinya sampai saat ini belum menjabat secara resmi sebagai presiden. “Dengan partai belum bicara, dengan Pak JK juga belum bicara. Kelembagaannya saja belum jelas apa, kementeriannya 30, 34, apa cuma 20,” katanya.

Jokowi menegaskan, ia memiliki hak prerogatif untuk memilih siapa saja yang akan menduduki jabatan menteri yang akan datang. Jokowi akan menjadi penentu para pembantunya di kabinet. Jokowi telah membentuk tim transisi yang bertugas menyusun arsitektur kabinetnya. Tim ini dipimpin oleh mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini M Soemarno dan dibantu oleh empat deputi, yakni Hasto Kristiyanto, Anies Baswedan, Akbar Faizal, dan Andi Widjajanto.

Saat dikonfirmasi mengenai hal itu, JK berkelit. “Enggak, kita sebelumnya bicarakan tapi tentu pelaksanaannya kan kebetulan saya ke luar negeri,” katanya usai menghadiri pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (16/8/2014).

JK kembali berusaha menepis kabar tersebut dengan mengatakan kalau di Indonesia berbeda pendapat merupakan sesuatu yang tidak dilarang. Sehingga, bila ada pandangan yang berbeda tidak perlu dipersoalkan. “Ya di Indonesia sih ada yang sepakat boleh saja, ada yang tidak sepakat boleh saja kan,” pungkasnya.

Anies Baswedan juga membantah isu tentang adanya perbedaan pendapat antara Jokowi-JK. Dia meminta media tidak membuat sesuatu yang sama seolah-olah menjadi beda. “Menarik untuk pemberitaan, tapi kita membutuhkan perjalanan ke depan yang baik. Jadi jangan ada kesan sedikit langsung ini, jangan. Mereka sama,” ujar Anies di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Minggu (24/08/2014).

Anies menegaskan Jokowi dan JK sama-sama ingin pemerintahan yang efektif. “Mereka ingin pemerintahan yang bisa menjalankan semua yang dijanjikan. Mereka ingin pemerintahan diisi orang yang bersih, kompeten,track record baik,” ujarnya.

Pendapat Pengamat Politik

Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago mengaku kurang percaya bila koalisi rampingnya Jokowi-JK saat ini disebut sedang mengalami keretakan karena perebutan kursi di kabinet.

Menurut Pagi, ketergantungan Jokowi terhadap parpol koalisi yang mengusung dirinya saat Pilpres 2014 sangat besar. Selain itu ia menambahkan, kemungkinan bergabungnya Partai Golkar, Partai Demokrat, PPP, dan PAN masih sangat tipis. “Semua ini akan berjalan dimamis (koalisi pemerintah). Ini tergantung kesolidan parpol Koalisi Merah Putih,” kata Pangi kepada Liputan6.com melalui pesan elektronik, Sabtu malam.

Pangi menilai, jika parpol Koalisi Merah Putih itu pecah, tentu kondisi ini akan berimbas ke koalisi Jokowi. Bahkan akan terjadi perubahan peta koalisi Jokowi. “Bisa saja koalisi Jokowi makin besar dan solid atau sebaliknya, koalisi yang sudah ada jadi retak,” tandas Pangi.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: