//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Akhirnya Florence Sihombing Ditahan Polisi di Polda DIY

Foto Florence Sihombing Menjalani Pemeriksaan di Polda DIY

Akhirnya Florence Sihombing ditahan polisi di Polda DIY berkaitan kasus pernyataannya di media sosial. Mahasiswi Program Studi Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut ditahan di ruang tahanan Direktorat Kriminal Khusus (direktorat) Polda DIY, di Ringroad Utara Sleman, Sabtu (30/8/2014) mulai pukul 14.00 WIB.

Florence dituding melakukan pencemaran nama baik di media sosial. Dia dilaporkan oleh LSM di Yogya. Pernyataan Florence di Path dinilai berbau SARA dan melanggar pasal 28 ayat 2 UU ITE dengan ancaman hukuman penjara 6 tahun.

Seperti yang diberitakan detik.com, sebelum ditahan, Florence didampingi pengacaranya Wibowo Malik, SH, LLM datang memenuhi panggilan Polda DIY pada pukul 10.30 WIB. Setelah itu dilakukan pemeriksaan. Setelah dilakukan pemeriksaan selama lebih kurang 2 jam, Florence kemudian dinyatakan ditahan. Namun saat akan ditahan, Florence dan pengacara menolak menandatangani Berita Acara Pemeriksaan (BAP).

“Kami keberatan klien kami untuk ditahan,” kata Wibowo Malik. Wibowo mengatakan pihaknya tidak mau menandatangani BAP. Sebab untuk melakukan penahanan itu harus dilengkapi surat penyidikan terlebih dulu. Sementara itu surat-surat yang diminta belum diberikan. Sementara itu dari penyidik belum diketahui pasal apa dan berapa yang menjadi dasar Florence ditahan dalam kasus tersebut.

Florence Berharap Warga Yogyakarta Cerdas, Tidak Terprovokasi

Florence Sihombing menyatakan dirinya menyesal dan telah meminta maaf atas status Pathnya yang menjelek-jelekkan warga Yogyakarta. Ia berharap agar semua pihak tenang dan tak lagi mengecam dirinya. “Saya berharap warga Yogya menghadapi persoalan ini dengan cerdas,” kata Florence saat berbincang dengan detikcom via telepon, Jumat (29/8/2014).

Florence ingin agar semua orang, khususnya warga Yogyakarta bisa bersikap bijak. Apalagi sosok yang tengah menempuh studi pascasarjana program Kenotariatan Fakultas Hukum UGM itu menilai ada pihak-pihak yang ingin memperkeruh keadaan. “Saya berharap warga Yogya tidak terpengaruh isu berlebihan, dan adanya provokasi yang membuat keadaan makin panas. Supaya kita sama-sama bisa mengendalikan keadaan,” imbuh Florence.

Komite Etik Fakultas Hukum UGM rencananya akan memanggil Florence Sihombing Senin (1/9/2014) depan terkait status Pathnya yang menjelek-jelekkan warga Yogyakarta. Hal itu disampaikan oleh Kepala Bidang Humas UGM Wijayanti. (Baca: Florence Sihombing Diusir dari Jogja dan Dapat Sanksi dari UGM?)

Florence mengaku sudah mengetahui pemanggilan oleh Komite Etik Fakultas Hukum UGM itu. Ia siap datang dan siap menerima sanksi yang setimpal atas perbuatannya. Di sisi lain, LSM Jatisura tak mencabut laporan ke polisi meski Florence telah meminta maaf atas perbuatannya menghina warga Yogyakarta. Mereka berharap hal itu bisa menjadi pelajaran. (Baca: Dinilai Lecehkan Warga Jogja, Florence Dilaporkan ke Polda DIY)

Indra J Piliang Bela Florence Sihombing

Tentu saja banyak yang kontra seperti mem-bully Florence di Twitter hingga aksi mengusir Florence dari UGM dan juga dari Jogja. Namun politisi ini membela Florence. “Sy (saya) bersedia jd saksi ahli yg meringankan utk Florence,” kata Indra J Piliang dalam akun Twitter pribadinya, @IndraJPiliang, Jumat (29/8) lalu.

Indra menilai Florence terlihat cerdas dan kritis. Menurutnya yang terpenting dari komentarnya tentang monopoli Pertamina yang mengakibatkan kemiskinan di daerah-daerah. Ia berpendapat ada dua cara membaca tanggapan Florence dan sebagian besar yang mem-bully Florence membacanya secara diakronis, bukan sinkronis.

Jika dibaca secara sinkronis, lanjutnya, Florence merupakan mahasiswa cerdas dengan nalar yang jalan terkait sengkarut Pertamina. Monopoli Pertamina yang dipersoalkan Florence itu tepat dan memang ada SPBU dari perusahaan-perusahaan asing. Tapi asing itu kan cari untung. “Nah, Florence menukik tajam ke monopoli Pertamina yg gagal ciptakan kesejahteraan, akibat minimnya pelayanan dan pemerataan SPBU,” ujarnya.

Sedangkan menurutnya Jogja hanya konteks dari teks yang ditulis Florence soal monopoli Pertamina. Ia menggunakan bahasa ‘telanjang’ yaitu kemiskinan. Ia membaca bully-an terhadap Florence, mayoritas isinya adalah teks yang dia ditulis dan dibaca (ditafsirkan) secara diakronis.

Persoalan di sosial media, tambahnya, adalah antara penulis dan pembaca berinteraksi secara tekstual dengan nalar masing-masing. Akibat pembacaan secara diakronis atas teks Florence memunculkan resonansi teks dan kemudian diberi stigma. “Kalau Florence diadili, sy kira teks2 yg memunculkan resonansi atas teks aslinya (pelaku bully terhadap Florence) jg layak diadili. Lbh ganas dari teks Florence sendiri,” tegas politisi ini.

Diskusi

Satu respons untuk “Akhirnya Florence Sihombing Ditahan Polisi di Polda DIY

  1. Ngga sejauh itu kali pemikiran doi Om Indra J Piliang…

    Posted by Abdullah Hamadin | Agustus 30, 2014, 11:36 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: