//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

3 Kasus Asusila Terkait Gubernur Riau, Annas Maamun

Foto Gubernur Riau Annas Maamun, Sosok Kontroversial

Sekarang ini kasus atau skandal asusila Gubernur Riau, Annas Maamun setelah ia dilaporkan ke Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri atas dugaan tindak pidana pencabulan. Pelapor yang juga korban pencabulan Annas, Wide Wirawaty (WW), 38 tahun, putri tokoh pendidikan Riau dan mantan anggota DPD RI, Soemardi Thaher. Atas laporan itu, Gubernur yang berasal dari Partai Golkar itu membantah telah melakukan pelecehan seksual.

Skandal yang melibatkan Annas, pria berusia 74 tahun, itu ditengarai bukan kali pertama terjadi. Sejak tahun lalu, Annas yang menjabat gubernur sejak Februari 2014, acap kali dikait-kaitkan dengan sejumlah laporan dugaan perbuatan asusila dan tak senonoh oleh sejumlah perempuan. Berikut ini 3 skandal asusila yang diduga melibatkan gubernur pengganti Rusli Zainal, terpidana kasus korupsi PON ke-18 Riau, seperti yang diberitakan tempo.co

1. Pengakuan Eks Pembantu Rumah Tangga

Saat masih menjadi Bupati Rokan Hilir, Annas diduga melakukan tindak asusila terhadap S, pembantunya. Kepada sejumlah media pada pertengahan November tahun lalu, perempuan berusia 52 tahun itu bercerita awalnya Annas yang kelihatan capek meminta S memijat beberapa bagian tubuhnya. Lantaran yang meminta itu majikan, Sulastri manut. Awalnya proses pemijatan tersebut berlangsung sopan layaknya majikan dan pembantu. Namun, belakangan Annas mengajak S berhubungan badan. Seingat S, dua kali mereka pernah benar-benar berhubungan badan. (Baca: ‘Tangan Saya Dipaksa Pegang Kelaminnya’)

Menanggapi tudingan S, Annas mengaku banyak isu yang dibangun di tengah masyarakat tentang dirinya, antara lain isu dugaan korupsi, perselingkungan, dan terlibat G-30S PKI. ia sengaja tidak membalas semua itu karena ia menyangkal melakukannya. “Saya ini Bupati, kalau pun mau selingkuh masa dengan perempuan tua, saya bisa mencari yang lebih mudalah sedikit,” katanya saat menghadiri lokakarya peningkatan pembangunan desa di Kepulauan Meranti, Selasa, 19 November 2013.

2. Pengakuan Mantan Istri Anggota Ketua DPRD Dumai

Persis sebulan sebelum dilaporkan oleh Sumardhi, Annas juga dilaporkan oleh DS, mantan istri Ketua DPRD Dumai, Riau, pada 25 Juli 2014. DS mengatakan, peristiwa itu terjadi sore hari di sebuah rumah mewah dua lantai tepatnya di Jalan Belimbing 18 pada pertengahan April 2014. DS mengaku membeberkan kasus itu ke permukaan pada 25 Juli lalu, lantaran masih memberi kesempatan pada Anas agar meminta maaf dan mengakui perbuatannya.

DS akhirnya menentukan sikap dengan berkonsultasi kepada teman-temannya yang kebetulan berprofesi sebagai pengacara. Bersama tim kuasa hukumnya, DS melayangkan somasi ke Annas selaku Gubernur untuk dua alamat yang berbeda, yaitu ke Kantor Gubernur dan ke rumah pribadi Anas di Jalan Belimbing 18, Pekanbaru, Riau, sebagai tempat kejadian perkara.

Menurut DS, kejadiannya bermula ketika ia ingin mengadukan persoalan keluarga antara dia dengan suaminya ke Annas. Suami DS adalah Ketua Golkar Dumai, sedangkan Anas Ketua Golkar Provinsi Riau. DS berharap Annas mau menasehati suami DS. Mereka berbincang di lantai kedua rumah itu. Namun, tanpa diduga usai mengobrol DS mengaku Annas melecehkannya secara seksual. Korban diduga dipaksa memegang alat vital pelaku.

3. Pengakuan Anak Mantan Anggota DPD

Gubernur Riau Annas Maamun dilaporkan mantan anggota Dewan Perwakilan Daerah, Soemardhi Thaher, ke Markas Besar Kepolisian RI atas dugaan tindak asusila terhadap WW, anaknya. Kepada wartawan, W menceritakan kronologis tindakan asusila yang dia alami. (Simak: Kasus Ijazah Palsu Anak Gubernur Riau Mandek)

Semula W datang ke kediaman Annas pada 30 Mei 2014 sambil membawa proposal untuk meminta persetujuan kegiatan pelatihan dan seminar. Pria yang kini berumur 74 tahun itu menanggapi positif program yang ditawarkan W. Bahkan, Soemardhi mengklaim Annas menjanjikan akan mengangkat WW menjadi staf khusus gubernur. Usai mengobrol, WW juga mengaku dilecehkan oleh Annas secara seksual.

Gubernur Annas belum berhasil dimintai konfirmasi terkait dengan kasus asusila itu. Kepala Biro Humas Pemerintah Provinsi Riau Yoserizal pun enggan mengomentari persoalan tersebut. Ia menolak mempertemukan wartawan dengan Annas untuk mendapat konfirmasi. “Jangan dululah,” tuturnya.

3 Hal Kontroversial Lainnya Libatkan Annas Maamum

Sebenarnya ada juga tiga hal kontroversial yang melibatkan Gubernur Riau Annas Maamun, sejak dilantik pada 19 Februari 2014. Berikut adalah rangkumannya.

1. Berkata Kasar “Pant*k” kepada Wartawan

Pada tanggal 17 April 2014, 2 bulan setelah dilantik, Gubernur Riau (Gubri) Annas Maamun membuat kontroversi pertama. Dalam kunjungan ke KPU Riau itu, wartawan bertanya kepada Gubri Annas Maamun tentang pengangkatan anak menantu dan beberapa keluarganya di beberapa posisi penting pemerintahan Provinsi Riau. Gubri Annas Maamun berkata kasar, “Jangan dinasti-dinasti lagi, Pant*k!” Pant*k adalah kata kasar yang digunakan di daerah Sumatera Bagian Tengah.

Tuduhan dinasti politik dianggap wajar karena sehari sebelumnya, banyak kerabat Annas Maamun diberi jabatan penting. Sebelumnya, Fitriana (putri) menjabat Kepala Seksi Mutasi dan Non Mutasi Badan Kepegawaian Daerah Riau. Winda Desrina (putri) menjabat Kepala Seksi Penerimaan Unit Pelaksana Teknis Dinas Pendapatan Daerah Riau.

Noor Charis Putra (putra) menjabat Kepala Seksi Jalan dan Jembatan Dinas Pekerjaan Umum. Dwi Agus Sumarno (menantu) menjabat Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Provinsi Riau. Syaifuddin (ipar) menjabat Kepala Sub Bagian Tata Usaha Bagian Kas Daerah Biro Keuangan Sekretariat Daerah Provinsi Riau. Maman Supriadi (menantu) menjabat manajer PSPS Riau.

2. Kasus Ijazah Palsu Anak Annas Maamun

Masih berkaitan dengan tudingan dinasti politik pada awal-awal masa jabatan, kini Annas Maamun terseret kasus yang menimpa putranya. Ternyata “dinasti politik” tidak hanya di Pemprov Riau tapi juga di Rokan Hilir, di mana Annas Maamun pernah menjadi Ketua DPRD dan Bupati. Awal bulan Agustus 2014 ini, polisi mengusut dugaan ijazah palsu Erianda, putra Gubri Annas Maamun yang saat ini menjabat Wakil Bupati Rokan Hilir.

Faisal, pelapor atas perkara itu, mengatakan tanggal kelulusan Erianda di STIE YAI tidak ada pada sistem database perguruan tinggi tersebut. “Kemudian nama Erianda tidak tercantum dalam serah terima ijazah. Terakhir, jumlah SKS tidak terpenuhi, dimana dari 156 SKS cuma 150 yang baru terpenuhi,” kata Faisal pada tanggal 5 Agustus 2014.

3. Mahasiswa Ditangkap Setelah Memberi Alquran

Kontroversi ketiga terjadi ketika Gubri Annas Maamun hendak menyampaikan sambutan dalam acara sidang paripurna istimewa HUT Riau ke-57 di Gedung DPRD Riau pada 9 Agustus 2014. Setelah naik podium dan hendak berpidato tiba-tiba tiga mahasiswa yang duduk di bagian belakang berlari ke depan dan menyeruduk Gubri Annas Maamun.

Salah satu dari tiga mahasiwa yang menggunakan jas almamater salah satu universitas Riau itu memegang Alquran. Alquran itu tampak akan diberikan kepada Gubri Annas Maamun namun petugas Satpol PP bergerak cepat dan mengamankan ketiga mahasiswa tersebut. Belakangan diketahui, mahasiswa yang membawa Alquran itu adalah Zulfa Heri, Presiden BEM Unviersitas Riau. Zulfa Heri mengatakan, “Banyak-banyak membaca ayat Allah agar bisa kembali ke jalan yang benar.”

Diskusi

Satu respons untuk “3 Kasus Asusila Terkait Gubernur Riau, Annas Maamun

  1. Kalau udah tua,harus jd contoh yg baik donk pak,jgn kelayapan juga.

    Posted by syafriadi | September 20, 2014, 9:20 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: