//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Apa Pendapat Sultan Hamengku Buwono X soal Kasus Florence?

Foto Florence Sihombing dan Dosen UGM, Heribertus Jaka Triyana

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X memberi pendapat soal kasus Florence Sihombing yang statusnya di Path dianggap menghina warga Yogyakarta sehingga mahasiswi S2 UGM itu dilaporkan ke polisi dan sempat ditahan. Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini mengaku tidak terlalu mengikuti perkembangan kasus Florence.

“Saya tidak terlalu mengikuti. Saya punya harapan itu bisa dijembatani sehingga ada win-win solution,” ungkap Sultan kepada wartawan seusai pelantikan anggota DPRD DIY, di Jl Malioboro, Senin (1/9/2014). Sultan berharap Florence jangan merasa menang sendiri. “Kalau antre menyerobot. Apa itu karakternya, saya nggak tahu,” katanya.

Sultan sendiri mengaku tidak terlalu mempermasalahkan kasus tersebut. Yang menjadi masalah, karena ada pihak yang melaporkan kejadian itu ke polisi. Oleh karena itu, polisi harus memprosesnya. “Bagi saya nggak masalah. Saya nggak punya kepentingan di situ. Sekarang ini bagaimana hubungan antara pelapor dengan yang dilaporkan. Itu terserah polisi,” katanya.

Sultan menilai saat ini polisi tengah melakukan tugasnya sebagai penegak hukum. Kalau tidak merespons laporan, polisi dianggap diam dan tidak tanggap. “Saya punya harapan, polisi bisa berperan di situ. Saya juga nggak tahu Pak Rektor dan Dekan sudah bertemu. Harapan saya sudah ada jembatan ke situ,” katanya.

Menurut Sultan, polisi hanya menjalankan tugas dan perannya sebagai aparat penegak hukum. Ketika ada pihak yang melapor, lalu segera ditindaklanjuti demi menegakkan hukum. “Kalau tidak ditanggapi, nanti polisi dianggap diam saja. Kalau cepet, kok terlalu cepet. Lha terus piye. Polisi jadi salah terus,” tandasnya. (Baca: Akhirnya Florence Sihombing Ditahan Polisi di Polda DIY)

Hari ini, Dekan Fakultas Hukum UGM Dr Paripurna mendatangi Polda DIY. Selain meminta maaf atas perbuatan Florence, ia juga minta penangguhan penahanan. Polisi mengabulkan permintaan itu, tapi tetap akan memproses Florence secara pidana. Polisi menilai kasus Florence termasuk delik absolut, bukan aduan. Artinya, tanpa perlu pengaduan atau laporan, kasusnya bisa disidik.

Walikota Yogyakarta Berharap Warga Memaafkan Florence

Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti berharap penyelesaian kasus Florence bisa mengedepankan kata maaf karena Yogyakarta merupakan daerah istimewa, berbudaya, dan merupakan city of tolerance (kota toleransi).

“Agar tidak berlarut-larut dan tetap menghormati proses hukum, sebagai masyarakat yang berbudaya, harus mengedepankan rasa memaafkan,” kata Haryadi, Senin (1/9/2014). Haryadi mengatakan, sikap memaafkan adalah bagian dari budaya masyarakat Yogyakarta. Oleh karena itu, kata Haryadi, dia berharap agar semua pihak bisa legawa untuk memaafkan. “Harapan saya, pihak-pihak yang bersangkutan bisa mengedepankan kata maaf… agar cepat selesai,” ujar Haryadi.

Ia berharap, peristiwa yang menimpa Florence bisa menjadi pembelajaran bersama, bagaimana menggunakan media sosial dengan baik dan tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang ada. “Semua harus belajar dari peristiwa ini. Media sosial saat ini sudah sangat luar biasa,” pungkas dia.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: