//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Kapolri: Ada Wanita Pengaruhi AKBP Idha Hingga Terjerumus Narkoba

Foto Mesra AKBP Idha Endri Prastiono dan Istri, Titi Yustinawati

+EndriPrastiono

Kapolri Jenderal Sutarman mengatakan ada seorang wanita teman dekatnya yang mempengaruhi AKBP Idha Endri Prastiono hingga terjerumus narkoba dan tertangkap di Kuching, Malaysia. Siapakah wanita itu? “Nanti, nanti ya dek. Saya ada janji,” kata Sutarman sambil berjalan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/9/2014). Sutarman ditanya apakah benar wanita itu adalah orang dekat AKBP Indha.

Sebelumnya, Sutarman juga ditanya soal kemungkinan menyelidiki harta kekayaan AKBP Idha, apakah ada kaitannya dengan urusan narkoba. Tak hanya itu, kekayaannya juga disorot karena sang istri, Titi Yustinawati, melaporkan kehilangan perhiasan sebesar Rp 19 miliar. Belakangan, nilainya diralat hanya Rp 181 juta.

“Kenapa dinilainya Rp 180 juta karena kehilangan itu ditemukan setelah dicek nilainya segitu. Itu kan kehilangan barang yang dibawa dalam bagasi. Setelah dicek, nilainya segitu. Tapi, kalau memang ada masalah-masalah lain nanti, tentu Polri akan melakukan ketentuan-ketentuan sesuai peraturan yang berlaku,” tegasnya.

Titi, istri AKBP Idha, memang berlatar belakang pengusaha. Berdasarkan catatan yang disampaikan oleh Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulityanto, wanita berusia 50 tahun itu menjabat sebagai dirut PT Berlian Kapuas Khatulistiwa, perusahaan yang bergerak dalam bidang trading. Lalu dia juga sebagai dirut PT Fitria Maharani Trading, dan dirut CV Fitria.

Siapa sebenarnya wanita misterius yang mempengaruhi AKBP Idha? Mantan Direktur Tindak Pidana Narkoba yang saat ini menjabat Kapolda Kepulauan Riau (Kepri), menutup rapat siapa perempuan yang dimaksud Jenderal Sutarman. Dia beralasan sudah bukan wewenang dirinya lagi untuk bicara soal pidana narkotika.

“Kalaupun saya tahu saya tidak akan beritahu, karena itu bukan otoritas saya lagi,” kata Arman di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (2/9/2014). Begitu pula dengan Direktur Tindak Pidana Narkotika yang baru Brigjen Anjan Pramuka Putra, menolak menjawab pertanyaan wartawan mengenai siapa sosok misterius yang disebut Kapolri kemarin. Penolakan Anjan karena dia merasa bukan kewenangan dia untuk bicara hal tersebut, mengingat dirinya masih menjabat sebagai Kepala Biro Pengawas Penyidikan (Karo Wasidik).

Wakil Direktur Tindak Pidana Narkotika Kombes Nugroho Adji juga menolak menjelaskan siapa sosok A yang dimaksud. “Saya tahu, tapi silakan ke Pak Anjan (Dir Tipid Narkotika),” elak Nugroho. Informasi yang didapatkan, perempuan yang mempengaruhi AKBP Idha ini adalah orang dekat perwira menengah itu.

Sang perempuan digadang-gadang pernah memiliki hubungan dengan bandar kakap narkotika. Sang bandar juga dikenal piawai memasok narkotika dari lapas ke lapas. Maklum saja, hampir seluruh lapas di Jakarta dan Bandung pernah ditempatinya. Termasuk Nusa Kambangan. Perempuan ini juga diketahui pernah memiliki hubungan dengan perwira menengah kepolisian yang bertugas di lembaga antinarkotika.

Namun, karena hubungan tersebut, terlebih perempuan itu pernah berhubungan dengan bandar besar, sang perwira diberi sanksi tegas pimpinan. Sementara bandar besar tersebut saat ini berada di otoritas kepolisian China, setelah sekian lama lolos dari sergapan petugas kepolisian internasional. (Baca: Inilah Catatan Hitam Polisi AKBP Idha Endri Prastiono)

Kapolri: Tidak Ada Bukti Narkoba dalam Penangkapan AKBP Idha di Kuching

Hingga kini belum jelas berapa barang bukti yang diamankan bersama mereka. Namun Kapolri Jenderal Sutarman bahkan menegaskan, barang bukti itu tak ada. “Kepada masyarakat bahwa penangkapan yang dilakukan Kuching, oleh otoritas kepolisian Kuching Malaysia itu tidak disertai dengan barbuk yang disebutkan yang selama ini beredar di Indonesia ya,” kata Sutarman di DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (2/9/2014).

Menurut Sutarman, barang bukti yang diperoleh polisi Malaysia adalah 3,1 kilogram amphetamine dari kurir bernama Cushi, WN Filipina di bandara Kuala Lumpur. Kemudian polisi Malaysia menangkap AKBP Idha dan Harahap di Kuching tidak lama kemudian. Kaitan dua peristiwa ini masih ditelusuri.

“Jadi, kita tunggu dulu pemeriksaan dilakukan oleh jabatan siasatan narkotik DPRM untuk menentukan ada kaitan atau tidak. Kalau ada kaitannya, kita menghormati hukum yang berlaku, silakan diproses secara hukum,” tegasnya. “Sehingga mesti menunggu dulu. Jadi, jangan seolah-olah anggota kita itu ditangkap karena sudah ada narkobanya. Belum, belum seperti itu,” tambahnya.

Ada waktu tujuh hari bagi polisi Malaysia untuk melakukan pemeriksaan. Bila tidak cukup, maka ada tujuh hari tambahan. Setelah itu, baru akan diputuskan bagaimana status dua anggota Polda Kalbar itu. “Jadi, keluar negeri itu ilegal. Tidak izin pimpinannya itu salah. Melanggar disiplin, maupun kode etik,” ungkapnya.

Sebelumnya, Sutarman menyebut AKBP Idha sebagai troublemaker. Rekam jejaknya sebagai polisi dipenuhi masalah, mulai dari perselingkuhan sampai narkoba. Terakhir, istrinya disorot karena mengaku kehilangan perhiasan sebesar Rp 19 miliar, namun belakangan jumlahnya diralat. Sutarman juga menyatakan AKBP Idha layak dihukum seberat-beratnya bila terbukti terlibat narkoba. (Baca: Kronologi Penangkapan 2 Polisi Indonesia di Kuching Malaysia)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: