//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Sadis, Pria di Semarang Tega Bunuh Neneknya Sendiri

Sadis, Pria Semarang Ini Tega Rampok dan Bunuh Neneknya Sendiri

Pria bernama Parwidi bin Sumarlan (32) warga Dusun Gedeg, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang tega membunuh dan merampok neneknya sendiri, sehingga ia terancam hukuman mati. Misteri tewasnya Rubiah (80) sang nenek yang jasadnya ditemukan dengan kondisi mulut dibekap serta tangan dan kaki terikat kain selendang di kamarnya Sabtu dinihari, 9 Agustus lalu, akhirnya terungkap.

Seperti yang diberitakan kompas.com, polisi meringkus empat pelaku di dua tempat berbeda. Parwidi (32) ditangkap di rumahnya di Jambu. Pelaku ternyata adalah salah satu cucu korban. Sementara, ketiga pelaku lainnya, yakni Bagus Ardi Mukti (24), Susi Susianto (27) dan Slamet Rukimin (26) ditangkap di tempat persembunyiannya di daerah Jetis, Karangrayung, Grobogan.

Parwidi, sang cucu, bahkan diduga sebagai otak dari pencurian yang berujung kematian Rubiah itu. Sebelum peristiwa itu terjadi, keempatnya beberapa kali melakukan pertemuan di rumah Parwidi yang tak jauh dari rumah korban.

“Para pelaku sudah merencanakan untuk mencuri di rumah korban sekitar bulan juli lalu,” kata Kepala Polres Semarang AKBP Augustinus Berlianto Pangaribuan, saat gelar perkara di Mapolres, Senin (18/8/2014) siang. Awal kecurigaan polisi adalah informasi yang menyebutkan sebuah mobil pikap putih dengan nomor polisi H1707NM hilir mudik di sekitar rumah Parwidi sebelum peristiwa pembunuhan terjadi.

Mobil tersebut belakangan diketahui milik tersangka Bagus untuk mengangkut dua tersangka lainnya dari Pasar Somowono ke rumah Parwidi. “Hasil pengendusan anjing pelacak di lokasi belum begitu kuat. Selanjutnya kami dalami informasi mengenai mobil pikap putih yang parkir di depan rumah Parwidi pada malam sebelum kejadian. Langsung saja kita ambil Parwidi untuk diinterogasi,” ujar dia.

Setelah diinterogasi secara mendalam, Parwidi akhirnya mengakui dia adalah otak pencurian itu. Berdasarkan pengakuan Parwidi, ketiga pelaku lainnya pun akhirnya berhasil ditangkap. “Kami amankan tiga buah hp tersangka, satu buah cincin, dua sepeda motor, satu mobil pikap dan uang Rp 932ribu hasil penjualan emas yang dirampas dari korban,” ujar Kasatreskrim Polres Semarang AKP Pahala M Nababan.

Keempat pelaku saat ini ditahan di Mapolres Semarang untuk diproses lebih lanjut. Mereka akan dijerat dengan Pasal 365 ayat 4 KUHP dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup.

Alasan Parwidi Membunuh, “karena Nenek Menjengkelkan”

Peran Parwidi tergambarkan di adegan pertama rekonstruksi. Adegan menggambarkan saat Slamet Rukimin pulang dari Boja mampir ke rumah Parwidi di Desa Genting, pada bulan puasa lalu sekitar pukul 13,00 WIB. Kemudian terjadi dialog antara Parwidi dan Min terkait rencana jahatnya.

“Ada kerjaan,” kata Parwidi. Min menjawab, “Kerjaan apa ?”. “Mencuri emas milik nenekku,” ujar Parwidi. Mendengar itu, Min sempat mengungkapkan keheranannya. ”Kok tega tho mas, emas neneknya akan diambil.” Lantas Parwidi menyatakan alasannya. ”Karena nenek menjengkelkan.”

Sementara untuk cara para tersangka mengeksekusi korban tergambar di adegan ke-12. Tersangka Bagus, Susi Susanto dan Rukimin melumpuhkan korban secara bersama saat tidur. Lantaran bersuara dan memberontak, akhirnya tiga tersangka membekap sekaligus menyumpal mulut korban dengan kain putih juga mengikat kedua tangan dan kaki korban dengan kain warna coklat dan selendang.

“Ada 14 adegan rekonstruksi. Rekonstruksi kami gelar di halaman polres, dengan pertimbangan keamanan. Karena memang salah satu pelaku masih keluarga, dikhawatirkan akan memicu kemarahan anggota keluarga yang lain hiak dilakukan di TKP,” kata Kasat Reskrim Polres Semarang Iptu Herman Sophian di sela rekonstruksi.

Parwidi Terancam Hukuman Mati

Parwidi (32), dalang perampokan disertai pembunuhan terhadap neneknya sendiri, Rubiah (80) terancam hukuman mati. Warga Dusun Gedeg, Desa Genting, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang ini bersama tiga rekannya, dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 365 ayat 2 1e, 2e, 3e dan ayat 4 KUHPidana.

“Primernya tentu yang ancamannya terberat, yakni pasal 365 ayat 4, dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu paling lama 20 tahun,” kata Kasat Reskrim Polres Semarang, Iptu Herman Sophian di sela rekonstruksi kasus tersebut, Senin (15/9/2014).

Menurut Herman, dalam rekonstruksi tersebut terungkap peran dari Parwidi sebagai otak atau dalang kasus pencurian dengan kekerasan (curas) tersebut. Aksi itu dipicu kejengkelan Parwidi terhadap Rubiah, sekaligus ingin menguasai perhiasan milik neneknya itu.

“Dia yang punya ide, kemudian merencanakan dan mengajak tiga tersangka lain serta memberi jalan bagi tersangka lain untuk beraksi. Ini (rekonstruksi) sekaligus memperkuat hasil pemeriksaan yang sudah ada,” jelasnya.

Sementara itu, empat tersangka yang menjalani rekonstruksi terlihat tenang menjalani setiap adegan. Meski tampak murung, namun mereka melakoni semua adegan dengan lancar dan tidak ada bantahan maupun sanggahan atas jalan cerita. “Parwidi sempat menyampaikan penyesalan atas kejadian tersebut. Karena niat awalnya hanya ingin mencuri emas milik neneknya, yang dipicu rasa jengkel,” tutur Much Chlizin, kuasa hukum para tersangka.

Terkait proses penyidikan hingga rekonstruksi, Much Chlizin menilai sudah sesuai dengan kaidah hukum dan fakta yang ada. “Memang dari awal dan sesuai rekonstruksi, para tersangka tidak ada niat membunuh. Saat beraksi, para tersangka takut ketahuan karena korban bersuara dan memberontak, sehingga disumpal mulutnya dan itu akhirnya menjadikan korban meninggal. Jadi penerapan pasalnya 365 sudah benar,” pungkas dia.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: