//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Diduga Malpraktik, Klinik Metropole Hospital di Glodok Tutup

Foto Klinik Metropole di Pintu Besar Selatan, Jakarta Barat

Klinik pengobatan MH (Metropole Hospital) di Jalan Pintu Besar Selatan, Glodok No 38, Jakarta Barat diduga melakukan malpraktik, menipu dan menjebak pasien dengan dengan diagnosa bohong-bohongan serta harga pengobatan yang terlampau mahal.

Seperti yang diberitakan Kompas.com, pintu di bagian depan klinik telah dipasang papan gantungan bertuliskan “Closed”. Klinik ini terletak tepat di pinggiran jalan yang mengarah ke arah Harmoni dari Kota. Klinik tersebut bermodel ruko dengan cat berwarna oranye. Di bagian depannya terpasang beberapa keterangan pelayanan medis yang meliputi USG, Lab, Apotik, Bedah, Medical Check Up, Penyakit Wasir, Penyakit Dalam, Penyakit Pria, dan Penyakit Wanita.

Meski tutup, terlihat petugas sekuriti dan seorang pria yang duduk di halaman depan klinik. Petugas sekuriti ini hendak menutup pagar parkir klinik. Ia mengatakan, pelayanan medis di klinik itu sedang tidak beroperasi. “Hari ini lagi tutup, enggak buka. Saya juga enggak tahu kenapa,” kata dia.

Setelah diminta untuk bertemu dengan pihak internal klinik, petugas itu mengarahkan kepada pria yang tengah duduk di dekatnya tersebut. Pria dengan seragam kemeja dan setelan celana panjang ini mengatakan, pemilik klinik sedang tidak berada di tempat. “Orangnya lagi keluar, ada keluarga yang berduka. Jadi tutup kliniknya,” ujar pria yang mengaku bernama Pais tersebut.

Pais mengaku belum mendengar kabar di internet yang menyebut klinik dengan nama lengkap “Metropole Klinik Utama” ini disebut-sebut melakukan dugaan malapraktik. Namun, pria yang mengaku sebagai karyawan di bagian umum ini mengatakan, pemiliknya yang akan memberikan klarifikasi berkenaan dengan hal itu. Ia pun tak memperbolehkan ketika beberapa kali diminta untuk bertemu dengan siapa saja yang ada di dalam klinik.

“Enggak ada siapa-siapa. Besok datang lagi saja. Jam 9 atau sore. Pasti nanti ada klarifikasi. Karena itu kan baru sepihak ya,” ujar Pais. Pais mengaku baru bekerja sebagai karyawan selama 15 hari. Dia tak menyebut jelas siapa pemilik klinik tersebut. “Yang jelas orang Jakarta. Ada yang bilang klinik ini baru dibuka setengah tahun, satu tahun, atau lebih,” ujar dia.

Meski tampak tak ada aktivitas, beberapa orang terlihat keluar masuk klinik tersebut. Salah satu yang datang adalah seorang pria dengan seragam TNI menggunakan sepeda motor. Di balik kaca transparan, terlihat beberapa wanita dan seorang pria sedang duduk di kursi dalam klinik.

Merebaknya isu dugaan malapraktik ini muncul dalam forum Kaskus dengan judul “Hati-hati terhadap METROPOLE HOSPITAL/KLINIK JAKARTA”. Dugaan malapraktik itu di-postingpemilik akun Singlebreath. Postingan itu bertanggal 20 Juli 2014. Ia menceritakan pengalamannya berobat di klinik tersebut. Ia merasa ganjil dengan biaya dan prosedur pengobatan. Apalagi, ia mengaku, setelah mengecek di rumah sakit lain, penyakit yang didiagnosis Klinik Metropole ternyata tidak benar.

Setelah dicek di internet, Singlebreath mengaku mendapati komentar negatif tentang klinik itu. Dalam tulisannya, ia menyarankan agar tidak ada lagi yang “terjebak” di klinik itu. Hingga berita ini diberitakan, belum ada konfirmasi dari pemilik klinik tersebut.

Pengalaman Pasien Lainnya

NZ (23), salah satu pasien menceritakan pengalaman saat berobat pertama kalinya di MH. NZ awalnya menemukan klinik MH di internet, kemudian dia melakukan konsultasi tentang kesehatan reproduksi melalui chat di website klinik tersebut. Merasa dilayani dan dijawab dengan baik setiap pertanyaan-pertanyaannya, NZ memutuskan untuk datang ke sana.

Saat tiba di klinik MH, Senin (15/9/2014), NZ langsung diperbolehkan masuk. Sedangkan saat itu NZ datang jam 17:30, yang menurut jadwal di dalam klinik seharusnya sudah tutup. Kesan dia saat datang ke klinik tersebut pun aneh, karena banyak hal tidak seperti biasanya yang terdapat pada klinik atau rumah sakit pada umumnya.

“Dari resepsionisnya aja masa pakai daleman baju ketat dan cuma ditutupi jas snelli dokter,” tutur NZ kepada Kompas.com, Rabu (17/9/2014). Setelah masuk ke klinik MH, NZ didata terlebih dahulu di resepsionis. Kemudian dia diantar ke lantai satu klinik tersebut untuk ke ruangan dokter. Di dalam sana, NZ bertemu dengan dokter asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Dokter tersebut tidak bisa berbahasa Indonesia sehingga di dalam pun didampingi oleh seorang perawat Indonesia yang juga bertugas sebagai penerjemah dokter tersebut. Dari hasil konsultasi itu, NZ diminta untuk melakukan pemeriksaan USG dengan biaya sebesar Rp 345 ribu.

Sebelum melakukan USG, NZ diberi tahu untuk banyak minum air putih agar pemeriksaan tersebut dapat berjalan dengan lancar. Namun dokter tidak bisa memberikan hasil USG kepadanya saat itu juga. Menurut dokter, kata NZ, dia harus kembali lagi berobat di klinik tersebut untuk bisa mendapatkan hasil pemeriksaan.

Lalu NZ dibawa ke ruangan lainnya lagi untuk proses lebih lanjut. Di sana, dia bertemu dengan seorang dokter yang terlihat masih muda sekitar 20 tahun dan memakai sepatu kets sambil menonton film Korea di mejanya. “Kelihatannya dokternya orang Cina, pakai sepatu kets pula. Makin curiga deh,” tambah NZ.

Dari ruangan itu, NZ dibawa kembali ke ruangan dokter pertama yang dia temui untuk dijelaskan mengenai hasil pemeriksaan. Menurut dokter tersebut, kata NZ, pemeriksaan harus dilanjutkan segera dengan operasi. Mendengar hal itu, NZ kaget dan berusaha menolak ajakan pemeriksaan lanjutan itu.

NZ mengaku juga sempat diancam bahwa kalau tidak melakukan terapi maka nantinya NZ tidak bisa melakukan hubungan intim dengan suami. NZ pun dikatakan bahwa memiliki gaya hidup yang tidak sehat, tetapi hal itu ditampik NZ. Menurut NZ, sehari-hari dia selalu rajin membersihkan diri dan telah membiasakan diri dengan gaya hidup sehat.

Adapun untuk pemeriksaan lanjutan akan dilaksanakan selama tujuh hari dengan biaya per harinya sebesar Rp 700 ribu. Sebelum NZ pergi, dia diberikan kartu member VIP oleh perawat di sana dan diiming-imingi dengan diskon biaya berobat bila ke klinik itu lagi. Tidak ketinggalan perawat dan dokter di sana membujuk NZ datang lagi untuk pemeriksaan lanjutan dan terapi.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: