//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Apa Arti Nama Trisakti untuk Kabinet Jokowi-JK yang Diusulkan PDIP?

Foto Pidato Presiden Soekarno Tentang Trisakti Tahun 1963

Apa sebenarnya arti dan makna trisaksi yang diusulkan pada Rakernas PDIP sebagai nama untuk kabinet pemerintahan Jokowi-JK? “Rakernas IV PDI Perjuangan mengusulkan kepada presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk memberi nama kabinet yang akan dipimpinnya dengan nama Kabinet Trisakti,” kata Ketua DPP PDIP Puan Maharani saat membacakan pernyataan sikap dan rekomendasi Rapat Kerja Nasional IV PDIP di Semarang, Sabtu malam, 20 September 2014.

Permintaan tersebut merupakan yang ke-19 dari seluruh rekomendasi yang berjumlah 24 item. Selama ini ajaran Trisakti memang identik dengan ajaran bekas Presiden RI I Sukarno. Trisakti berisi tentang berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam budaya. Rekomendasi Rakernas PDIP juga beberapa kali meminta Jokowi-Kalla benar-benar memperhatikan ajaran Trisakti Bung Karno.

“Agar pemerintah secara sungguh-sungguh meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai perjuangan dan ajaran Bung Karno sebagai Bapak Bangsa,” kata Puan. Puan menyatakan Jokowi diharapkan bisa menjalankan cita-cita Bung Karno. Hal tersebut, kata Puan, bukan untuk PDIP saja, tapi untuk masa depan Indonesia.

Arti Konsep Trisaksi

Dalam pidatonya tahun 1963, Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, yaitu:

1. Berdikari dalam ekonomi.

Berdikari artinya berdiri di atas kaki sendiri. Bangsa Indonesia sebagai sebuah bangsa yang kaya raya harus membangun perekonomiannya secara mandiri karena ketika perekonomian Indonesia tdk dibangun oleh hasil kemandirian bangsanya maka akan timbul kecenderungan nantinya Indonesia selalu bergantung kepada bangsa lain dalam hal ekonomi dan juga ketergantungan itu dpt dimanfaatkan bangsa lain untuk mengeruk keuntungan dari Indonesia sehingga timbul Kolonialisme dan Imperialisme gaya baru yakni dengan menggunakan pendekatan ekonomi.

2. Berdaulat dalam politik.

Menjadi bangsa dan negara merdeka dan berkuasa untuk menentukan nasib dan pembangunannya sendiri tanpa intervensi negara lain! Menentang keras segala bentuk penjajahan, termasuk kapitalisme dan imperialisme (anak kapitalisme)

3. Berkepribadian dalam budaya.

Walaupun pengaruh budaya dari luar datang bertubi-tubi, tapi bangsa Indonesia tetap mempertahankan budayanya sendiri karena Budaya merupakan salah satu identitas dari bangsa.

Fidel Castro mengatakan dengan tegas, dirinya adalah murid Bung Karno. Itu dikemukakannya sendiri kepada Bung Karno,ketika dua tokoh Gerakan Nonblok ini bertemu, dan kepada Adam Malik ketika almarhum menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI. Secara terbuka Castro menegaskan bahwa dirinya telah mengadopsi ajaran-ajaran Presiden RI pertama itu untuk dijadikan acuan guna memimpin negaranya yaitu ajaran Trisakti.

Yang menarik adalah bahwa Fidel Castro mengadopsi dan menerapkan prinsip Soekarno itu secara konsisten dan tegar dalam seluruh sistem pemerintahannya. Konsistensi yang paling kentara adalah menolak segala bentuk imperialisme dan kapitalisme yang merupakan pendiktean oleh Barat tentang ekonomi, politik dan budaya.

Castro sangat jelas menolak kehadiran dan campur tangan IMF dalam negaranya, bahkan menyerukan agar lembaga pendanaan kapitalis internasional yang menindas negara-negara berkembang itu semestinya dibubarkan dan dihentikan perannya. Ini merupakan wujud pelaksanaan Trisakti yang konsisten oleh Castro dalam konteks Kuba, yakni kemandirian dalam politik, berdikari dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Kekuatan ekonomi sendiri merupakan landasan bagi pemerintah Kuba untuk membangun negara dan rakyatnya. Tidak ada hutang luar negeri yang diterima sebagai landasan, sehingga tak ada kewajiban cicilan bunga hutang yang tinggi yang harus dibayar oleh pemerintah Kuba. Seluruh pendapatan negara dialokasikan pertama-tama untuk belanja tunjangan sosial, dan kedua untuk belanja pendidikan. Kepentingan lain berada dalam urutan prioritas berikutnya. Karena berdikari dalam bidang ekonomi, Kuba telah mampu mempertahankan kedaulatan dalam bidang politik dan kedaulatan dalam kebudayaan nasionalnya.

Sementara itu, Guruh Soekarnoputra, menilai Jokowi akan kesulitan menjalankan konsep Trisakti Soekarno jika tak terlebih dulu mengamandemen konstitusi. Ia menyebut konstitusi Indonesia saat ini sudah bercorak neoliberalis. Penghayatan Pancasila sebagai dasar negara pun menurutnya semakin luntur karena tidak diajarkan pada generasi muda.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: