//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Usut Dalang Walkout Demokrat, SBY Lempar Tanggung Jawab?

Foto SBY dalam Wawancara Suara Demokrat di Video Youtube

Youtube

Benarkah sikap SBY yang ingin mengusut dalang walkout anggota Fraksi Partai Demokrat di DPR dalam paripurna RUU Pilkada merupakan bentuk tindakan untuk lempar tanggung jawab? Atau anggota PD tidak menuruti perintah SBY dan ingin membusukkan partainya sendiri? Ataukah benarkah SBY actor intelektual untuk menggolkan RUU Pilkada?

Ketua Umum Partai Demokrat (PD) SBY menyatakan marah dengan sikap anggotanya di DPR yang malah memilih walkout, dalam paripurna RUU Pilkada. Menurut Ketua Dewan Kehormatan PD Amir Syamsuddin, SBY meminta agar mengusut siapa dalang aksi walkout itu.

“Dari Washington AS, SBY selaku Ketua Umum PD telah memerintahkan Dewan Kehormatan partai untuk segera memeriksa dan mengusut tuntas siapa yang menjadi dalang dari drama/tragedi politik memalukan dan mengomandoi walkout kader PD pada sidang paripurna DPR di Senayan,” kata Amir, Jumat (26/9/2014).

“Dan menjatuhkan sanksi seberat-beratnya. Segera DK PD akan melaksanakan perintah ketua umum tersebut,” terang Amir. Amir mengaku, apa yang dilakukan Fraksi Demokrat sungguh mencengangkan. Semestinya dilakukan diskusi dan perundingan untuk pemantapan sikap fraksi setelah pimpinan DPR mencabut ketok palu soal opsi RUU Pilkada.

Tambah lagi, PDIP sudah menerima opsi Demokrat. Karena PD walkout ini, koalisi merah putih menang dan Pilkada kini dipilih DPRD. “Semestinya saat itu, dimulai debat dan dengan serius melakukan lobi. Ini tiba-tiba muncul WO,” tegas Amir. (Baca: PDIP: Demokrat Dukung Pilkada Langsung itu Sandiwara Politik)

Ruhut: Katanya Waketum Sudah Izin ke SBY

Politikus Partai Demokrat Ruhut Sitompul ikut walk out di paripurna UU Pilkada karena loyal kepada partainya. Rubut mengatakan walk out itu dilakukannya setelah Wakil Ketua Umum Demokrat, Max Sopacua, mengaku mengantongi izin dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

“Nah, kalau itu kalian tahu kan aku orang paling bagaimana? Dengan Max Sopacua dan aku paling bagaimana. Kalian tahu kan, ribut terus kan. Dia bilang terima kasih sudah ikut keluar walk out. Nah, aku tanya betul kalian sudah minta izin ke SBY? Katanya ada SMS dari SBY. Lha, saya mau bilang apa?” kata Ruhut di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (26/9/2014).

Ruhut walk out karena loyal terhadap partainya. Dia pun menepis anggapan kader Demokrat sepertinya sudah tidak loyal dan kalah komitmen dari I Gede Pasek Suardika dan kawan-kawan yang memilih tidak walk out.

“Kalau SBY kecewa, itu aku enggak tahu. Aku kan orangnya loyalis, Bos. Kalau kalian tanya, hanya enam orang yang loyal itu kan Gede Pasek kan di DPD, yang lain enggak kepilih lagi. Aku ini terpilih lho. Aku masih loyal sama partaiku dan ketua umumku,” sebut Anggota Komisi III DPR itu.

Ditanya ada miss communication antara SBY dengan elite Partai Demokrat, dia lebih memilih menyerahkan persoalan tersebut kepada dua wakil ketua umum Partai Demokrat. “Dapat SMS katanya dari Max Sopacua sama Ibu Nurhayati. Ya sudah katanya dari SBY, ya sudah apalagi. Kalau SBY kecewa, itu urusan waketum yang penting katanya ngaku sudah izin,” sebutnya.

Syarief: Saya Sudah Instruksikan Bertahan, Tapi Fraksi PD Berkata Lain

Ketua Harian Partai Demokrat Syarief Hasan angkat bicara mengenai aksi walk out Fraksi Demokrat pada paripurna pembahasan RUU Pilkada. Menurut pria yang menjabat sebagai Menteri Koperasi dan UKM ini, dia tak kuasa membendung pergerakan di tingkat fraksi.

“Saya sudah instruksikan bertahan, tapi di lobi fraksi berkata lain,” ujar Syarief usai rapat di Komisi VI DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (26/9/2014). “Sebenarnya semalam itu kami dalam posisi yang betul-betul sangat sulit karena usulan kami golkan 10 poin pada saat poin perbaikan UU Pilkada langsung, di lobi fraksi nggak ada yang mendukung,” sambungnya.

Syarief mengklaim Partai Demokrat sudah berupaya keras untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Dia beralasan, apa yang diperjuangkan PD terbentur proses lobi fraksi-fraksi. “Kami sudah berupaya keras untuk kepentingan rakyat. Tapi di lobi fraksi nggak ada yang mendukung. Karena sesuai tata cara lobi fraksi, maka nggak ada kesepakatan, itulah yang dibawa ke Paripurna,” kata Syarief. “Tapi itulah yang terjadi. Nasib terakhir ketua fraksi kami tidak ketahui. Ada yang terjadi demikian karena lobi fraksi nggak ada dukungan. Karena nggak ada dukungan jadi walk out,” sambung Syarief.

LSI: Rakyat salahkan SBY apabila Pilkada lewat DPRD disahkan

Peneliti LSI Ardian Sopa mengatakan, publik menilai SBY sebagai aktor utama kemunduran demokrasi, jika kepala daerah dipilih DPRD. Hasil survei yang dilakukannya, sebesar 83,07 persen responden menyalahkan SBY, dan 13,41 persen publik menyatakan SBY tidak dapat disalahkan.

“Publik menyadari jika RUU Pilkada akan diputuskan oleh DPR, maka pihak pendukung Pilkada oleh DPRD (Koalisi Merah Putih) akan menang. Oleh karena itu, publik berharap SBY harus mengambil sikap tegas dalam kapasitasnya sebagai presiden,” kata Ardian di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (18/9).

Lebih lanjut Ardian mengatakan, posisi Presiden SBY saat ini adalah tokoh kunci untuk menghentikan upaya pengebirian hak politik masyarakat. Sebesar 81,54 persen publik akan mencatat SBY sebagai tokoh yang merusak perjalanan demokrasi Indonesia selama 10 tahun. “Sebesar 79,28 persen publik pun meyakini bahwa SBY akan dihukum oleh publik internasional, sebagai aktor utama dalam kemunduran demokrasi Indonesia,” tandasnya.

Pengumpulan data dalam survei dilakukan pada tanggal 14-16 September 2014, dengan menggunakan metode Multistage Random Sampling, dengan jumlah responden sebanyak 1200 orang, di mana margin of error berada di posisi 2,9 persen.

Yunarto Wijaya: SBY, Bapak Pilkada tidak Langsung

Direktur Eksekutif Charta Politica, Yunarto Wijaya mengatakan, sikap walk out Partai Demokrat pada saat paripurna RUU Pilkada menunjukan Demokrat dan SBY sedang bermain dan mengorbankan demokrasi Indonesia.

Selain itu, penegasan sikap Demokrat dan SBY yang sebelumnya mendukung pilkada langsung menunjukan bahwa mereka telah melakukan pembohongan publik dengan aksi walk out yang dilakukan.

“Saya tidak percaya sikap Demokrat berbeda dengan SBY. Tanpa kebijakan SBY Demokrat akan sulit untuk bersikap,” ujar Yunarto Wijaya saat dihubungi Republika, Jumat (26/9). “Ini akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. SBY akan dikenal sebagai bapak pilkada tidak langsung yang melakukan pembodohan demokrasi.”

Ia menjelaskan, sejak awal SBY tidak menunjukan keseriusan dan komitmennya mengenai RUU Pilkada. Padahal, SBY memiliki kesempatan untuk menarik draft RUU dan memanfaatkan otoritas yang ia miliki. Manuver yang dilakukan Demokrat tersebut akhirnya membuat pihak Koalisi Merah Putih memenangkan voting. Dan ini menunjukan sikap politik Demokrat dan SBY yang mendukung pilkada langsung hanya lip servicesemata.

“SBY telah berhasil memainkan panggung sandiwara. Saya bisa katakan, aktor intelektual terkait kegagalan pilkada langsung pada paripurna semalam tidak lain dan tidak bukan ialah SBY,” katanya. (Baca: Kecam SBY, #ShameOnYouSBY Jadi Trending Topic di Twitter)

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: