//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Kronologi Johan Endra Bunuh Bos dan Rekan Kerjanya di Raprindo

Ilustrasi Pemuda Bunuh Dua Karyawati Raprindo

Seorang pemuda bernama Johan Endra (21) ditangkap karena membunuh bos dan rekan kerjanya karena merasa sakit hati. Ia baru sepekan bekerja di PT Rajawali Prima Indonesia (Raprindo) yang beralamat di Jalan Keamanan Nomor 14, kawasan Gajah Mada, Jakarta Barat, tersebut. Sebelumnya, ia membuat rencana pembunuhan kejinya.

Seperti yang diberitakan detik.com, Kanit Reskrim Polsek Tamansari, Kompol Ferio Ginting, Johan mengatakan kejadian berawal saat Johan beradu mulut dengan manajer keuangan, Yuyun Herawati (48) dan Yuniati Suryana alias Yoan (40), seorang kasir pada Rabu (8/10) lalu. Kemudian ketiganya ditenangkan oleh kuasa hukum PT Rajawali Prima Indonesia (Raprindo).

“Pelaku sempat minta maaf. Tapi sebetulnya dia masih sakit hati. Sejak hari itu, dia berniat membunuh 2 orang ini,” ujar Ferio di Mapolsek Taman Sari, Jl Blustru, Tamansari, Jakarta Barat, Senin (13/10/2014). Kemudian saat berangkat kerja pada hari Kamis, Johan telah menyiapkan pisau di dalam tasnya untuk membunuh Yuyun dan Yoan. Namun karena kondisi kantor cukup ramai, ia mengurungkan hal itu.

“Hari Jumatnya juga ramai, makanya nggak jadi. Akhirnya Hari Sabtu dia eksekusi. Memang pada hari tersebut hanya ada mereka bertiga,” kata Ferio. Sebelum membunuh, Johan mengaku sempat disapa oleh Yoan dan ditanya mengapa masuk kantor pada hari libur. Johan menjawab dengan pura-pura tidak tahu bahwa seharusnya ia tidak masuk.

“Dia kemudian duduk di belakang dan menunggu Yuyun lewat. Begitu lewat, Yuyun langsung ditusuknya dengan pisau,” ujar Ferio. Yoan yang sempat menyaksikan peristiwa keji ini juga menjadi bahan eksekusi selanjutnya oleh Johan. Keduanya dibiarkan terbujur dengan tubuh berlumuran darah di lokasi pembunuhan.

Teriakan Yoan ternyata terdengar oleh seorang sopir bajaj yang kebetulan melintas di depan kantor itu. Ia segera melaporkan teriakan itu kepada pengurus lingkungan setempat. “Polisi datang setelah dihubungi ketua RW,” ujar Tri.

“Dia (Johan) berusaha sembunyi. Tapi dia pegang pisaunya terbalik hingga melukai kedua tangannya,” ucap Ferio. Akibat luka tersebut, darah berceceran sehingga justru memudahkan polisi menemukan persembunyiannya, yaitu di gedung belakang lantai V, tepatnya di dalam bak penampungan air. Setelah ditemukan, Johan kemudian diamankan di Mapolsek Tamansari. Saat menangkapnya, polisi menemukan sejumlah barang bukti, seperti ponsel dan uang tunai Rp 8,2 juta.

Kapolsek Metro Taman Sari, AKBP Tri Suhartanto kepada wartawan, Sabtu (11/10) mengatakan kedua orang korban tersebut tewas dengan kondisi mengenaskan, terdapat ada 2 luka tusuk di perut, 6 di dada, 2 di kepala dan 3 sobekan di alis Yuniarti. “Sedangkan Yuyun mengalami luka tusuk di dada dan 6 di kepalanya,” tandas Tri.

Motif Pembunuhan Sakit Hati

Kepala Kepolisian Sektor Tamansari Ajun Komisaris Besar Tri Suhartanto mengatakan pembunuhan itu dilakukan lantaran JN sakit hati terhadap manajemen perusahaan. Untuk bekerja di perusahaan itu, tersangka diharuskan menyerahkan uang Rp 600 ribu. Manajemen berjanji uang itu dikembalikan setelah tersangka bekerja.

Belakangan tersangka menilai janji itu tidak ditepati manajemen. Selain itu, dia juga merasa tertipu karena uang makan sebesar Rp 30 ribu yang dijanjikan tidak pernah dia terima. Pekerjaan yang harus dia jalankan tidak seperti tugas karyawan kantoran. “Dari situlah dia merencanakan pembunuhan. Bahkan, JN punya keinginan membunuh semua karyawan di kantor itu,” kata Tri.

Johan sendiri mengatakan perbuatannya itu murni dilandasi rasa sakit hati. “Saya puas, saya ingin perusahaan itu diadili,” katanya saat ditemui di Kepolisian Sektor Metro Tamansari, Senin, 13 Oktober 2014. Pria ini baru sepekan bekerja di Raprindo.

Pria asal Pontianak, Kalimantan Barat, ini bekerja di bagian pengembangan sumber daya manusia perusahaan tersebut. Selama bekerja di sana, dia mengaku tidak diperlakukan layaknya karyawan kantoran. JN membayangkan tugasnya adalah duduk di belakang meja dan membuat laporan.

Nyatanya, dia malah disuruh-suruh, seperti kurir. Bahkan untuk makan dan memenuhi kebutuhan lain dia harus menggunakan uang sendiri. “Padahal harusnya ada jatah makan Rp 30 ribu sehari,” katanya. Johan dijerat pasal 340 jo 338 KUHP tentang pembunuhan berencana dan pasal 365 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: