//
Anda membaca...
Bisnis

Jokowi Disarankan Jangan Lepas Dulu Ditjen Pajak dari Kemenkeu

Foto dan Profil Ahmad Fuad Rahmany, Dirjen Pajak

Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany menyarankan presiden terpilih Jokowi jangan melepas dulu Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan dan menjadi lembaga independen.lembaga pajak dalam waktu dekat ini. Karena menurutnya, untuk menjadikan pajak sebagai otoritas penerimaan tersendiri perlu waktu lama.

“Kalau pandangan saya, dalam jangka pendek ini mungkin tetap di dalam Kemenkeu. Untuk membentuk badan tersendiri dan lepas dari Kemenkeu itu butuh waktu,” ujarnya di kantor pusat Ditjen Pajak, Jakarta, Selasa (14/10/2014). Lembaga khusus untuk memungut pajak, lanjut Fuad, harus melalui perubahan Undang-undang (UU). Perubahan UU harus dibahas bersama DPR, dan diperkirakan butuh waktu sampai 3 tahun karena tidak hanya 1 UU yang diubah.

“Jadi sebaiknya dia tetap saja di Kemenkeu. Tapi diberikan fleksibilitas seperti penerimaan pegawai, penambahan kantor, anggaran operasional. Itu yang dibutuhkan, jadi nggak perlu harus terpisah dulu,” jelas Fuad. Menurut Fuad, pemberian fleksibilitas cukup besar pengaruhnya dalam mendorong penerimaan pajak. Misalnya dari sisi perekrutan pegawai, karena saat ini Ditjen Pajak tidak punya keleluasaan untuk menambah personel sementara kebutuhannya sangat tinggi.

“Menambah pegawai itu harus harus cepat, tidak ada tawar menawar lagi. Kita butuh recruitment dan itu jumlahnya harus besar. Ini saja yang dilakukan dulu, mungkin lebih urgent. Yang lebih mendesak bukan bentuk badannya,” papar Fuad.

Ketika pegawai Ditjen Pajak ditambah, menurut Fuad, maka potensi pajak bisa semakin tergali. “Jadi yang paling urgent untuk mengejar setoran pajak itu adalah kapasitasnya yang harus lebih besar lagi,” ujarnya. Sebelumnya, Andi Widjajanto, Deputi Tim Transisi Jokowi-JK, mengatakan pihaknya tengah mengkaji pembentukan lembaga baru untuk memungut penerimaan negara, baik pajak atau Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

“Opsinya adalah Badan Otoritas Pajak dan Badan Penerimaan Negara. Dua-duanya di luar Kemenkeu,” ungkap Andi beberapa waktu lalu. Ia mengakui proses pembentukan dua lembaga ini tidak akan sederhana. Misalnya harus mengubah UU Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP). Perubahan UU atau menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu), demikian Andi, harus melalui proses di DPR. “Kalau melewati DPR, butuh waktu ada 6 bulan,” tegasnya.

Tiga Skenario untuk DJP Disiapkan

Kementerian Keuangan tengah mengkaji semua kemungkinan untuk perubahan lembaga Direktorat Jenderal Pajak (DJP) ke depan. Perubahan lembaga ini dilakukan sebagai cara untuk mengoptimalisasi penerimaan negara.

“Opsinya dimungkinkan tiga. Satu, BPN (Badan Penerimaan Negara) sebagai sebuah lembaga, tetapi di bawah Kementerian Keuangan,” ungkap Menteri Keuangan, Chatib Basri di Jakarta, Senin (13/10/2014). Dia menuturkan, lembaga pengganti DJP itu nantinya berbentuk seperti Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). “Dulu waktu BKPM zaman Pak Lutfi, itu badan yang lapor ke Menteri Perdagangan,” imbuh Chatib.

Opsi kedua, sambung dia, BPN menjadi sebuah lembaga di luar Kemenkeu, dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Jika lembaga baru ini berada di luar Kemenkeu, artinya harus ada revisi Undang-undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. “Kalau dia sebagai badan tapi bertangungjawab kepada Kemenkeu, revisinya enggak terlalu banyak,” ucap Chatib.

Opsi terakhir, kata dia, DJP dalam jangka pendek tetap berbentuk seperti sekarang ini, namun diberikan fleksibilitas dalam hal penambahan pegawai, remunerasi, dan lain kewengan. “Tapi, itu terserah pemerintahan baru,” pungkas Chatib.

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Gravatar
Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: