Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Ini Perbedaan Kesaksian Mary Jane Vs Maria Kristina Sergio

Seperti kita ketahui, Jaksa Agung HM Prasetyo mendapat perintah Presiden Jokowi untuk menunda eksekusi mati Mary Jane di Nusakambangan, Rabu (29/4/2015) dini hari dengan alasan memberikan kesempatan untuk proses hukum di Filipina.

Eksekusinya ditunda karena adanya bukti baru yaitu orang yang memberinya pekerjaan (perekrut), Maria Kristina Sergio, muncul di kantor polisi untuk minta perlindungan. Namun, ada yang berbeda dari kesaksian mereka.

Berikut dua versi kesaksian Mary Jane dan Maria Kristina Sergio seperti dikutip dari media Filipina, ABS-CBN dan Rappler, seperti yang dilansir dari Detikcom.

Kesaksian Mary Jane

Mary Jane mengenakan kebaya saat peringatan Hari Kartini

Mary Jane mengenakan kebaya saat peringatan Hari Kartini. (Tribun Jogja)

Mary Jane lahir dari keluarga miskin, pernah bekerja sebagai PRT di Dubai selama 10 bulan. Dia kembali ke negaranya sebelum kontrak 2 tahunnya berakhir karena mendapat percobaan pemerkosaan dari majikannya. Selama di kampung halaman, dia sering mengontak agen tenaga kerja untuk mendapatkan pekerjaan, namun tawaran pekerjaan tak kunjung datang.

Mary Jane mengenal Kristina karena mereka tetangga di kampung. Suatu hari, Kristina menawarkan pekerjaan pada Mary Jane yang memang sangat membutuhkan untuk membiayai sekolah kedua anaknya.

Karena tetangga, Mary Jane percaya pada Kristina. Keluarga Mary Jane juga mengenal baik Kristina. Kristina diketahui suka pergi ke Malaysia dan setiap pulang ke Filipina, membawa beberapa kebutuhan seperti sampo, lotion, parfum dan sebagainya. Semua tetangganya tahu bahwa pekerjaan Kristina adalah jual-beli barang-barang itu.

Saat ditanya Kristina, Mary Jane pun mengungkapkan bahwa dia ingin menjadi pembantu di Malaysia, namun tidak punya uang untuk membeli tiket.

“Dia (Kristina) bilang ke saya ‘Jangan khawatir tentang itu karena saya akan menolongmu. Namun jika kamu sudah kerja, kamu akan membayar saya 2 bulan gajimu’. Untuk saya ini anugerah jadi saya terima dan mengatakan terima kasih,” jelas Mary Jane.

April 2010, Mary Jane pun berangkat ke Malaysia membawa 2 celana jeans dan 2 kaos serta beberapa pakaian dalam di dalam ransel. Mary mengaku bersama Kristina tinggal di Hotel Sun Inn, Kuala Lumpur. Sekitar 3 hari tinggal di Kuala Lumpur, Mary Jane dan Kristina makan bersama, beli dress dan beberapa keperluan pribadi. Hingga pakaiannya menjadi terlalu banyak dan ranselnya tidak cukup, Mary Jane pun mengeluhkan hal ini pada Kristina.

“Jangan khawatir, aku akan bilang itu ke pacarku, dan dia akan membelikan tas buatmu,” demikian respons Kristina seperti disampaikan Mary Jane.

Mary Jane pun bertemu pacar Kristina di tempat parkir dan mendapati pacar Kristina, Prince, dan saudara pacarnya yang disebut Mary Jane “I.k”. Kedua pria itu keluar dari mobil putih. Ciri-ciri kedua pria itu berkulit hitam namun I.k tinggi, bertubuh subur, berambut keriting. Sedangkan Prince, tidak bertubuh subur.

“I.k mengatakan pada saya bahwa saudara saya mengatakan Anda butuh tas, jadi saya membelikan tas buat Anda,” demikian kata Mary Jane menyambut tas dengan ucapan terima kasih.

Mary Jane menerima tas itu dan bertanya mengapa tas ini terasa berat namun Kristina hanya menjawab, “Karena tas itu baru”. Mary Jane pun mengecek risleting dan kantong tas itu. Semuanya kosong, jadi dia tak berpikiran negatif.

Kristina kemudian memberikan amplop coklat berisi uang US$ 500 dan tiket pesawat Air Asia. “Dia mengatakan pada saya untuk pergi ke Indonesia selama 7 hari dengan tujuan berlibur dulu,” jelas Mary Jane menirukan Kristina.

Di sana, Mary Jane diminta bertemu teman Kristina, dan setelah itu baru mulai bisa bekerja setelah kembali lagi ke Kuala Lumpur. “Jadi, saat itu saya tak punya pilihan dan saya harus ke sana. Pikiran saya saat itu, selesai saya ke Indonesia, saya mulai bekerja, dan bekerja penting bagi saya karena anak-anak saya,” jelas dia.

Mary Jane ke Indonesia pada 25 April 2010, dan terbang pukul 07.00 waktu setempat. Kristina hanya berpesan sesampainya di Indonesia, Mary Jane harus ke hotel, hotel apa saja, dan Kristina akan mengontak temannya untuk menemui Mary Jane.

Setibanya di Bandara Yogyakarta, petugas pun mengecek tas yang diberikan saudara pacar Kristina, I.k. Petugas yang curiga meminta memasukkan tas Mary Jane ke dalam mesin pemeriksaan X-Ray hingga 3 kali. Petugas lalu meminta izin untuk merobek tas itu.

“Petugas pria itu melihat ada plastik hitam, dan di dalam plastik hitam itu ada aluminium foil. Aluminium foil dibuka dan di dalamnya ada bubuk coklat muda. Pria itu memegang bubuk itu dan bubuk itu menjadi padat. Pria itu bertanya pada saya ‘Anda tahu ini apa?’. Saya menjawab tidak tahu. Semua tertawa dan pria itu mengatakan ini sejenis narkoba, heroin,” tutur Mary Jane.

“Badan saya dingin, saya tak bisa bicara, cuma menangis dan menangis. Saya tahu hidup saya tamat, karena narkoba adalah barang ilegal nomor 1. Saya benci diri saya, mengapa, saya percaya Kristina, mengapa saya tak berpikiran negatif tentangnya. Dan saya di sini (penjara) sekarang, tapi nggak tahu apa-apa,” jelas Mary Jane.

Nah, bagaimana kesaksian versi Maria Kristina Sergio? Klik selanjutnya

Halaman Selanjutnya

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: