Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Inilah Frank Amando, Satu-Satunya Terpidana Mati Warga Negara AS

Frank Amado saat ditahan di Rutan Salemba pada 2012

Frank Amado saat ditahan di Rutan Salemba pada 2012. (Foto: freefrankamado.wordpress.com)

Dari daftar terpidana mati di Indonesia, ada nama Frank Amando (51 tahun), satu-satunya terpidana mati berkewarganaraan Amerika Serikat (AS). Ia dijatuhi pidana mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat karena dianggap terbukti menjadi perantara dan memperjual-belikan norkotika golongan I.

“Dijatuhi hukuman dengan pidana mati dan harus membayar biaya perkara Rp 2.000,” kata Ketua Majelis Hakim Dehel K. Sandan dalam vonisnya pada 4 Agustus 2010. Majelis hakim menyakini Frank bagian dari jaringan narkotika yang terorganisir. “Tidak ditemukan alasan pembenar atau pemaaf bagi terdakwa.”

Frank ditangkap polisi bersama temannya, Peyman bin Azizallah alias Sorena alias Paulo Russo, seorang warga negara Iran di Apartemen Royal Park Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pada 19 Oktober 2009 lalu. Pria kelahiran Maryland itu diamankan karena terlibat perdagangan sabu seberat 5,6 kg. Sabu tersebut ditemukan di apartemennya saat polisi melakukan penggeledahan.

Peyman sebagai bandar sabu merupakan residivis dalam kasus yang sama karena dia pernah dihukum dua tahun penjara tahun 2002 lalu. Tahun 2004, Peyman bebas dan pulang ke negaranya namun kembali datang ke Indonesia. Selama di Indonesia, ia kembali menjadi bandar sabu sebelum tertangkap bersama Frank.

Frank pertama kali bertemu Peyman pada Juni 2009 di Bangkok. Saat itu, Frank menetap di Thailand sejak tahun 2006 dan bekerja sebagai guru Bahasa Inggris serta menyambi jadi aktor dalam beberapa film. Ternyata, Peyman merupakan bagian sindikat narkoba bekerja sama dengan bandar narkoba yang beroperasi di Thailand yaitu Kami dan Komayon, keduanya warga negara Iran.

Dengan imbalan $6 per gram sabu, Peyman kemudian menawarkan pekerjaan sebagai kurir narkoba kepada Frank untuk menerima sabu dari Kami dan Komayon di Jakarta dan kemudian membawanya ke tempat yang telah ditentukan Paymen. Karena sedang mengalami krisis keuangan akibat bisnisnya bangkrut, tanpa pikir panjang, Frank menerima pekerjaan itu.

Dilansir dari thejakartaglobe, sebelum ditangkap, Frank telah tiga kali menerima kiriman sabu tersebut yang dibawa Kami dan Komayon melalui penerbangan Bangkok-Jakarta. Frank selalu menemui mereka di Pasar Festival Kuningan lalu memberikan sabu tersebut kepada Peyman di beberapa hotel berbeda di Jakarta.

Selama di Jakarta, Frank selalu berpindah-pindah tempat tinggal baik di apartemen maupun hotel di Jl Gunung Sahari, Jl Gajah Mada, Jl Rasuna Said dan Jl Gatot Subroto. Dia mengaku bekerja sebagai desainer web selama di Jakarta, selain mengajar komputer.

Frank selalu memakai celana pendek dengan kaos saat masuk ke kamar hotel sehingga sekilas nampak seperti turis asing yang sedang berlibur dan menginap di hotel. Kurir ini selalu menggunakan jalur terputus dalam transaksi dan pembayaran barang melalui jasa bank.

Peyman sendiri dijatuhkan hukuman 15 tahun penjara. Menurut Frank, Peyman telah menyuap hakim untuk mendapatkan keringanan hukuman. Frank mengklaim mendapat banyak penyiksaan saat penangkapan dan diinterogasi polisi. Ia juga menyatakan diminta uang sebesar $50,000 oleh hakim untuk mendapatkan keringanan hukuman, sama dengan Peyman.

Frank menjadi WN AS pertama yang dijatuhi hukuman mati di Indonesia. Menurut data Kontras seperti yang dikutip detikcom, Senin (4/5/2015), Frank telah mengajukan grasi kepada Presiden tetapi ditolak pada 2011 lalu. Ia kini menghuni LP Cipinang.

Selain Frank, terdapat pula beberapa terpidana mati yang berasal dari negara-negara besar, seperti WN Inggris, Lindsay June Sandifor, yang dijatuhi hukuman mati karena menyelundupkan sabu 3,5 kg. Gareth Cashmore juga dijatuhi hukuman mati dengan barang bukti 7 kg sabu.

Kita tunggu saja bagaimana reaksi pemerintah Amerika Serikat menyikapi vonis mati Frank Amado sama seperti Australia, Belanda dan Brasil yang melakukan protes keras terhadap pemerintah Indonesia. Belum diketahui apakah ia menjadi salah satu dari terpidana yang akan dieksekusi pada gelombang ketiga.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: