//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Profil Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto yang Anti Korupsi

Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto dengan jejak rekam yang baik

Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto dengan jejak rekam yang baik. (Foto: Polri)

Sosok Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto kini diperbincangkan karena keberaniannya mengungkap kasus korupsi di tubuh polri dengan mempidanakan AKBP ET yang diduga korupsi anggaran komunikasi senilai Rp 6,5 miliar. Polda Kalbar dibawanya berani melakukan aksi bersih-bersih dan menjalankan revolusi mental walau yang melakukan pidana di kalangan internal.

Siapakah sebenarnya Arief Sulistyanto? Berikut profil dan jejak rekamnya seperti dilansir dari beberapa sumber.

DAFTAR ISI

1. Kehidupan Awal
2. Karir
3. Kapolda Kalbar
4. Kehidupan Pribadi
5. Biodata

.

Kehidupan awal


Arief lahir di Nganjuk, 24 Maret 1965 dari keluarga pendidik. Ayah, Mardjono, guru agama di STMD. Ibu, Hj Halimah Saadiyah, ibu rumah tangga. Arief nomor dua dari lima bersaudara. Ia menamatkan sekolah dari SD hingga SMA di Nganjuk. Ayahnya meninggal saat ia berusia 13 tahun yang menyebabkan ia harus tinggal dari satu paman ke paman lainnya.

Masalah biaya membuat Arief harus berpikir ulang, ketika ingin melanjutkan kuliah. Karenanya, ketika lulus SMA jurusan IPA, dia langsung daftar ke Akabri. Ia merupakan satu-satunya siswa dari Kabupaten Nganjuk yang diterima masuk Akabri tahun 1987.

Setelah test selama empat bulan di Magelang, dia diterima di Kepolisian. Arief masuk pendidikan di Akpol, Semarang. Setelah mengikuti pendidikan di Semarang, Arief lulus Akpol, menempati rangking empat.

.

Karir


Ada aturan tak tertulis di Akpol, mereka yang lulus 10 besar, bisa memilih penempatan. Biasanya orang bakal memilih penempatan di kota besar, seperti Jakarta. Karir lebih cepat naik. Namun, Arief memilih bertugas di Jawa Timur. Alasannya, lebih dekat dengan keluarga besarnya. Tugas pertama Arief sebagai polisi, dimulai sebagai Pamapta Polresta Surabaya Selatan. Setahun kemudian, pindah ke Kanit Serse.

Tahun 1999, menjabat sebagai Wakasat Serse. Naik pangkat Lettu (saat itu kepangkatan masih sama dengan TNI), Arief dipindahkan ke Malang, Jawa Timur sebagai Kasatserse, Polres Malang. Dia bertindak tegas dan menyapu para pelaku pencurian kendaraan bermotor. Arief dapat penghargaan.

Kebetulan, tahun 1991, terjadi kerusuhan. Sebuah gereja di Nguling, Sidoarjo dibakar. Jajaran Polres Sidoarjo, mulai dari Kapolres, Kasatserse, dan petinggi lainnya dicopot, karena insiden tersebut. Arief dipindah ke Sidoarjo sebagai Kasatserse. Sebagai Kapolresnya, Sutanto, mantan Kapolri. Di sinilah, peran Arief sebagai “pemadam kebakaran” terlihat. Ketika peran polisi dianggap lemah di masyarakat, dia berhasil menegakkan supremasi hukum dan mengembalikan peran polisi di wilayah yang sedang berkonflik tersebut.

Tugas di Sidoarjo dia selesaikan dengan baik. Selanjutnya, 1993, Arief menempati Polres Pasuruan, Jawa Timur, sebagai Kasat Serse. Tahun 1995, Arief masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta.

Dia lulus dan mendapat rangking lima besar. Setiap lulusan 10 besar, dapat penempatan di Jakarta. Arief sudah membayangkan, bakal di tempatkan di Jakarta. Ternyata, hasilnya jauh panggang dari api. Dia malah diminta mengajar di PTIK.

Ketika menjadi Sespri Waka Polri, Arief mendapat kesempatan ikut pendidikan Sespim, 2001. Wakapolri, Bimantoro, minta lima nama orang untuk direkomendasikan masuk Sespim. Dia minta teman Arief, menulis lima nama. Satu nama yang diminta Wakapolri termasuk nama Arief. Namun, teman tersebut, tak memasukkan nama Arief.

Hal itu membuat Wakapolri marah. “Ini teman kamu, aku minta nama kamu dimasukkan, ternyata namamu tak ada,” kata Arief, menirukan ucapan Wakapolri.

Meski sudah dicurangi, Arief tetap melindungi temannya di hadapan Wakapolri. Arief diberikan katabelece atau surat rekomendasi untuk mengikuti Sespim. Namun, surat itu tak mau dia terima.

Sang mertua yang juga polisi, juga bertanya, “Sudah menghadap siapa untuk Sespim?” “Menghadap Allah,” jawab Arief. Sang mertua hanya geleng-geleng kepala dengan sikapnya.

Padahal, ketika masuk Sespim, dia dengar dari banyak orang yang ikut Sespim, mereka menghadap ke mana saja untuk ikut pendidikan itu.

Ketika pengumuman peserta Sespim, Arief lolos sebagai peserta dan masuk peringkat satu. Dia langsung menghadap Wakapolri. Dari peristiwa itu, Arief mengambil suatu pelajaran. Kalau dia jadi ambil katabelece dari Wakapolri, dia bakal dianggap lulus karena surat itu. Arief semakin percaya diri.

Dia berani ambil resiko dalam menghadapi sesuatu. Setelah Sespim, Arief bertugas di Pabanda Strajemen Padya Renum Paban I/Ren Spers Polri. Selanjutnya, menjabat sebagai Kapokdik I Subdit Dana Pemerintahan Dit Tipidkor Korserse Polri, 2001-2002.

Pada masa ini, Arief mendapat beasiswa program Doktoral (S3) di bidang ilmu kepolisian, angkatan kedua. Ketika hendak menyelesaikan tugas akhirnya, dia mendapat tugas sebagai Kapolres di Indragiri Hilir, Polda Riau, 2003. Arief langsung tancap gas.

Kalau kesempatan itu tidak diambil, dia tidak bakal dapat kesempatan lagi. Akhirnya, program doktoralnya ditunda. Sang profesor sempat telepon Kapolri, agar tugas sebagai Kapolres ditunda. Dia bernegosiasi dengan profesornya. Arief bakal menyelesaikan program doktornya, dan menjadikan tugasnya di Indragiri sebagai bahan penelitian.

Di Indragiri, Arief menjadi ‘pemadam kebakaran’ lagi. Mapolres Indragiri dibakar massa. Terjadi disfungsi polisi. Polisi tidak berani menindak warga. Polisi mau memberikan tilang, warga sudah mengancam. Arief mendekati para tokoh masyarakat. Mereka didatangi dan diajak bermusyawarah. Setelah itu, ketika terjadi masalah, para tokoh masyarakat inilah yang turut menyelesaikan masalah. Hukum kembali tegak. Fungsi polisi kembali berjalan.

Dua tahun bertugas di Indragiri, Arief bergeser menjadi Kapolres Tanjungpinang. Warga Indragiri ingin, dia tetap bertugas di sana. Setahun di Tanjung Pinang, dia ditarik ke Bareskrim. Selama menjabat sebagai Kapolres di Indragiri dan Tanjung Pinang, dia menjadikan wilayah yang semula dikenal sebagai pusat perjudian, menjadi nol perjudian.

Selanjutnya, Arief Menjabat sebagai Kasubag Prodsus Bag Biro Analisis, Kanit II Dit II/Ekonomi, Koorspripim Polri. Tahun 2010, dia dipercaya menjabat sebagai Dir II/Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri. Bertugas di Bareskrim Ekonomi tantangannya besar.

Berkali-kali Arief ditawari uang untuk sebuah kasus yang sedang disidik. Dia kembalikan uang itu, tentunya setelah melapor atasannya. Sehingga tidak ada konflik kepentingan ketika bekerja. Pada masa-masa inilah, banyak kasus besar yang ditangani. Mulai dari kasus Cicak-Buaya, Rekening Gendut Polri, Gayus Tambunan, terbunuhnya Munir.

Di kasus rekening Gendut Polri, dia bisa menyelesaikan penghitungan yang tidak sinkron dilakukan PPATK. Di kasus Gayus Tambunan, Arief harus mengamputasi para penyidik yang memeriksa Gayus. Dan, Gayus yang semula sudah bebas, harus masuk tahanan lagi.

Dalam kasus Munir, timnya berhasil menerjemahkan secara ilmiah, bagaimana racun yang bekerja di tubuh Munir. Sehingga Pollicarpus yang semula bebas, terbukti sebagai pelaku pembunuhan Munir.

.

Kapolda Kalbar


Semenjak menjadi Kapolda Kalimantan Barat pada 2014, Brigjen Arief Sulistyanto membuat sejumlah gebrakan. Yang paling mencolok adalah saat mantan Dirtipideksus Bareskrim ini menangkap Budiono Tan, pengusaha sawit yang menjadi buronan sejak tahun 2010.

Budiono Tan dikenal sebagai buronan licin. Budiono yang dulu adalah anggota MPR pernah menggelapkan sekitar 1.535 sertifikat petani sawit di Kabupaten Ketapang. Selepas Budiono tertangkap, sejumlah praktik ilegal lainnya terungkap.

Penjahat yang bersarang di Kalbar pun dibuat gerah. Para penjahat rela patungan sampai Rp 10 miliar agar Arief lengser dari kursinya. Namun aral merintang seperti ini bagi Arief adalah hal biasa. Dia pun tetap kokoh berdiri dalam menegakkan hukum di wilayahnya.

Arief yakin, meski ada yang tidak menyukainya di Kalbar, namun ia tetap dikelilingi oleh orang-orang yang ingin kebenaran ditegakkan. Dia mengaku selalu melapor setiap pendapatan yang diperoleh kepada istrinya. “Supaya jelas, dari mana sumbernya,” ujar Arief.

Arief juga melakukan sejumlah gebrakan dalam menekan penyelundupan, hingga pejabat Bea Cukai pun menjadi terpidana.

Gebrakan terakhir yang dilakukannya adalah yang mempidanakan AKBP ET yang diduga korupsi anggaran komunikasi senilai Rp 6,5 miliar. ET dan dua orang dari Kopegtel dan seorang manajer keuangan diduga melakukan korupsi anggaran pada 2011-2014, sesuai laporan BPK dan Irwasda Polda Jabar. Mereka dijerat dengan UU Korupsi. ET melakukan markup anggaran komunikasi Rp 100 juta setiap bulannya dan oleh oknum Kopegtel Pontianak dibuat sebagai surat utang Polda Kalbar.

.

Kehidupan Pribadi


Ketika mendapat tugas sebagai Kasatserse di Jawa Timur, Arief meminang Niken Manohara. Pasalnya, keduanya sudah pacaran tujuh tahun. Niken keluarga polisi. Ayah, kakak dan adiknya, semua polisi. Ketika itu, Niken sedang kuliah kedokteran di Surabaya. Setelah menikah, dia pindah kuliah kedokteran di Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Anak pertama, Bhredipta Cresti Socarana, tanggal lahirnya sama dengan nama kampus tersebut, 11 Maret. Kini mereka dikaruniai dua anak. Anak bungsu bernama Bhawika Tanggwa Prabuttama.

Bhredipta, 21 tahun, kini tengah menempuh pendidikan S2 ilmu hukum di Universitas Leiden, Belanda. Sedangkan putra keduanya, Bhawika, 16 tahun, kuliah di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

.

Biodata Lengkap


Nama: Drs. Arief Sulistyanto, Msi
Tempat / Tgl Lahir: Nganjuk / 24 Maret 1965
Agama: Islam
Istri: Dr. Niken Manohara
Anak: Bhredipta Cresti Socarana dan Bhawika Tanggwa Prabuttama

Jejak Karir

1987: Pamapta Polresta Surabaya Selatan (ipda)
1988: Kanitserse Polresta Surabaya Selatan.
1989: Wakaserse Polresta Surabaya Selatan (Iptu)
1990: Kasatserse Polres Malang – (AKP)
1991: Kasatserse Polres Sidoardjo
1993: Kasatserse Polres Pasuruan
1995: Kaur Binops Puskodal Polres Jakbar
1996: Kapolsek Bekasi Kota
1998: Kapolsek Metro Pasar Minggu (Kompol)
1998: Kasubag Mufi Bag Listik La Litlistek PPIKT PTIK
1999: SPRI Kapolri
1999: Pabda Strajemen Padya Renum Paban I/Ren Spers Polri
2000: Spri Waka Polri
2001: Paban Strajemen Padya Renum Paban I/Ren Spers Polri
2002: Kapokdik Piddanapem Dit Pidkor Korserse Polri (AKBP)
2003: Kapolres Indragiri Hilir (Riau)
2005: Kapolres Tanjungpinang (Riau) – Mengungkap anggota DPRD setempat pesta sabu.
2006: Kasubbag Prodsus Bag Produk Roanlisi Bareskrim Polri
2007: Kanit II Dit/Ekonomi dan Khisis Bareskrim Polri (Kombes)
2008: Pamen Spripim Polri
2009: Tepatnya, Rabu 28 Januari 2009 Koorsspripim Polri
2010: Dir II/ Ekonomi dan Khisis Bareskrim Polri
2010: Dirtipideksus Bareskrim Polri
2011: Pada 8 Mei 2011 bersama 13 perwira tinggi, Arief Sulistyanto mendapat kenaikan pangkat satu tingkat dari Kombes menjadi Brigjen. Salah satunya teman seangkatannya, Brigjen Pol Drs Paulus Waterpauw dengan jabatan Widyaiswara Madya Sespim Polri Lemdikpol. Kini Kapolda Papua Barat dengan pangkat Irjen.
2014: Setelah tiga tahun Dirtipideksus Bareskrim Polri. Brigjen Pol Arief Sulistyanto dipercaya menjadi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Barat menggantikan Brigjen Pol Arie Sulistyo. Sedang posisi Dirtipideksus Polri diiisi Brigjen Pol A Kamil Razak yang sebelumnya ditugaskan di Pusat Pelaporan Analisis Keuangan (PPATK). Brigjen Pol Arie Sulistyo selaku Kapolda Kalimantan Barat dimutasi menjadi Staf Ahli Madya.

Iklan

Diskusi

Satu respons untuk “Profil Kapolda Kalbar Brigjen Arief Sulistyanto yang Anti Korupsi

  1. Pak arif , knp setiap seleksi sespimen soal test psikologi selalu bocor dan diperjual belikan, mohon dibenahi

    Posted by Rhidho antara | Januari 8, 2018, 7:18 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Agen Bola
Iklan
%d blogger menyukai ini: