Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

BAP Banyak yang Janggal, Hakim Cecar Saksi Pelapor Imam Sudirman

Ahok kembali menjalani sidang ketujuh kasus penodaan agama

Ahok kembali menjalani sidang ketujuh kasus penodaan agama

Anekainfounik.net, Jakarta – Saksi pelapor dari Palu, Iman Sudirman dicecar hakim soal banyaknya kejanggalan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Salah satunya soal keterangan tanggal pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Di BAP, Iman menyebut pidato saat Ahok bertemu warga terjadi pada 8 Oktober.

Majelis hakim pada sidang lanjutan Ahok mulanya menanyakan kepada Iman soal isi BAP pada pelaporan ke Mapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 9 Oktober 2016.

“Setelah dibuat BAP, Anda baca lagi?” tanya hakim, yang langsung diiyakan Iman dalam sidang lanjutan Ahok di auditorium Kementan, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (24/1/2017), seperti diberitakan Detikcom.

“Benar isinya?” tanya hakim lagi soal BAP. “Benar,” kata Iman.

Hakim lantas menanyakan poin 6 BAP soal waktu dan lokasi kejadian dugaan tindak pidana, yakni penistaan agama yang dilakukan Ahok yang disebutkan pada 8 Oktober 2016. Padahal Ahok bertemu dengan warga Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016.

“Jawaban Saudara pada sekitar tanggal 8 Oktober pertemuan Saudara Basuki Tjahaja Purnama sudah terang-terangan mengucapkan kalimat jangan mau dibohongi (dan selanjutnya). Ini kok tanggal 8 Oktober 2016 pertemuan Saudara Basuki ini?” tanya hakim.

Iman Sudirman, Ketua HMI Palu

Iman Sudirman, Ketua HMI Palu

Iman langsung meralat keterangan yang tertuang dalam BAP. Menurut dia, 8 Oktober adalah pertemuan yang dilakukan di Sekretariat IMM saat membahas video Ahok. Dia kemudian menyatakan merevisi keterangannya dalam BAP.

Hakim kembali mempertanyakan kejanggalan keterangan dalam berita acara pemeriksaan (BAP) saksi pelapor ini.

“Coba pertanyaan nomor 2, apa sebabnya saudara diperiksa polisi? Iya, karena melaporkan saudara Basuki Tjahaja Purnama karena diduga melakukan penodaan agama pasal 156A KUHP. Ini pernyataan saudara bukan?” tanya hakim.

“Sebentar, saksi basic-nya bukan hukum, pemberkasan BAP saksi tidak pernah sebut pasal yang dilanggar (Ahok) ya?” tanya Dwiarso kembali kepada Iman.

Iman Iman mengaku, dirinya hanya mengerti hukum fisika karena latar belakang pendidikannya fisika. Ia menegaskan tidak pernah menyebutkan pasal terkait dugaan pidana yang dilaporkan ke Mapolda Sulawesi Tengah (Sulteng) pada 9 Oktober 2016.

“Tidak ada pasal,” sebutnya.

Hakim mengkonfirmasi lagi jawaban Iman. Sebab pada awal persidangan Iman membenarkan BAP yang ditandatanganinya saat ditanya majelis hakim.

(Baca juga: Mengenal 5 Orang Saksi dalam Sidang Ke-7 Kasus Ahok)

“Kalau bukan kenapa ditandatangani?” tanya hakim Dwiarso. “Katanya tadi sudah dibaca,” sebutnya.

“Luput dari perhatian saya,” jawab Iman.

Sebelumnya, Iman mengaku bahwa ia melaporkan Ahok ke Mapolda Sulawesi Tengah. Namun kop surat BAP pemeriksaannya merupakan kop Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Mabes Polri, bukanlah Mapolda Sulawesi Tengah.

Iman berkelit bahwa dirinya tidak paham administrasi kepolisian.

Dwiarso juga mencecar waktu pemeriksaan Iman oleh penyidik Sulawesi Tengah. Menurut Dwiarso, Sulawesi Tengah termasuk dalam Waktu Indonesia Tengah (WITA). Namun dalam BAP, dituliskan WIB (Waktu Indonesia Barat) bukan WITA.

Dwiarso juga menyoroti penandatanganan BAP yang dilakukan di Jakarta. “Penyidik Anda polisi Palu atau Jakarta?” tanya Dwiarso.

“Tidak pernah,” jawab Iman.

Iman mengaku tidak pernah diperiksa di Jakarta. Ahok yang berada di sisi kanan depan Iman terlihat serius menyaksikan kesaksian Ketua Terpilih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) cabang Palu, Sulawesi Tengah itu.

Dalam persidangan, Iman juga ditanyai soal adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia. Iman mengetahui fatwa tersebut pada 11 November 2016.

“Isi pokoknya, pernyataan Basuki Tjahaja Purnama penodaan Alquran dan menghina ulama,” sebut dia.

Penyebutan surat Al Maidah oleh Ahok, menurut Iman, menyinggung umat Islam.

“Kami marah. Alquran yang kami percayai, yang merupakan wahyu Allah itu, yang kami yakini kesucian, (lalu) disebutkan bahwa bagian dari kitab itu digunakan sebagai alat, dibohongi pakai Al Maidah 51. Ini nggak boleh, sehingga kami sampaikan kepada pihak yang berwenang,” tegas Iman.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: