Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Patrialis Akbar, Hakim MK yang Kena OTT KPK, Ternyata Pembenci Ahok

Patrialis Akbar ternyata pembenci Ahok

Patrialis Akbar ternyata pembenci Ahok

Anekainfounik.net. Berbagai pihak terkejut saat Patrialis Akbar terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK. Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menyebut hakim Mahkamah Konstitusi tersebut ditangkap sekitar pukul 21.30 WIB pada Rabu (25/1/2017) di Grand Indonesia (GI) di Jakarta Pusat bersama 10 orang lainnya. Empat dari 10 orang itu disebut empat wanita yang berinisial F, R, A, dan D. Para wanita itu dikabarkan bekerja sebagai caddy yang membantu pemain di lapangan golf.

Patrialis selama ini memang dikenal sebagai pejabat santun dengan penampilan agamis. Ia sering menjadi pembicara dalam berbagai khotbah atau ceramah agama. Videonya pun banyak diunggah di Youtube. Hal ini menjadi sesuatu yang miris karena penampilan alim di depan publik berbanding terbalik apa yang dilakukannya di belakang.

Tertangkap tangan menerima suap untuk uji materi UU Peternakan merupakan kesalahan fatal karena ini menyangkut kehidupan rakyat yang mengeluh tingginya harga sapi. Apalagi, hakim MK ini disebut ditangkap saat bersama seorang wanita yang bukan istrinya menemaninya di dalam kamar.

Baca juga: KPK: Patrialis Akbar Ditangkap Bersama Wanita, Tak Ada Gratifikasi Seks

Patrialis sebenarnya merupakan pembenci cagub petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) karena dia kerap menyerukan kampanye jangan memilih pemimpin kafir atau non-muslim dalam berbagai ceramah.

Dalam memberikan sambutan di Pertemuan Dai se-Asia Tenggara, Selasa (26/7), patrialis bahkan menyebut keprihatinannya karena umat bercerai berai dalam memilih pemimpinnya. Bahkan lebih memilih pemimpin non-Muslim. Padahal banyak yang dapat dipilih dari tokoh Islam.

“Banyaknya provokasi sehingga yang dipilih adalah pemimpin non-Muslim,” jelasnya, seperti diberitakan Republika.

Bahkan, ia mengklaim bahwa pejabat non-muslim yang telah menguasai jabatan strategis di lembaga berbagai negara telah merugikan umat Islam dengan kebijakannya.

“Ketika putusan berada di tangan non-Muslim, maka umat Islam yang selalu dirugikan,” jelas dia.

Patrialis bahkan pernah menyindir soal Ahok terkait pelayanan masyarakat. Menurut Patrialis, kehadiran Ahok di MK juga dianggap mengurangi pelayanan terhadap masyarakat.

“Keinginan Pak Basuki ini kan berkaitan dengan pelayanan masyarakat juga, tetapi sidang ini aja sudah lima kali ya Pak Ahok, menghabiskan waktu. Pelayanan masyarakatnya juga berkurang. Ini enggak tahu beberapa kali ini. He-he. Agak repot juga,” kata Patrialis di Gedung MK, Jakarta, Senin (26/9/2016), seperti diberitakan Kompas.com.

Sindiran ini aneh karena Ahok mengajukan permohonan di MK soal masa cuti petahana selama kampanye agar ia dapat terus melayani masyarakat.

Ahok mengajukan permohonan soal Pasal 70 ayat 3 Undang-Undang (UU) Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada. UU tersebut menyoal cuti selama masa kampanye bagi petahana dan kewenangan pelaksana tugas (plt) Gubernur DKI dalam menyusun anggaran APBD.

Anehnya, hingga kini MK belum mengambil keputusan soal gugatan uji materi yang diajukan Ahok ini. Ketua MK Arief Hidayat beralasan kasus ini masih dalam tahap pengkajian padahal berbagai pihak telah mendesak MK untuk segera memutuskannya termasuk KPUD DKI Jakarta.

“Proses itu tidak bisa saya ceritakan. Saya hanya bisa informasikan karena itu masih dalam proses pembahasan RPH, jadi nanti kita segera selesaikan,” ujar Ketua MK Arief Hidayat, dilansir Detikcom.

Patrialis juga pernah berceramah dengan memastikan Ahok adalah pelaku penistaan agama dalam acara Tabligh Akbar Gunungkidul Mengaji di Masjid Agung Al-Ikhlas Wonosari Gunungkidul pada Minggu, 20 November 2016. Kajian tersebut bertemakan: “Terorisme, Radikalisme dan Penistaan Agama Menurut Putusan Mahkamah Konstitusi RI“, di mana kajian tersebut dipandu hingga selesai oleh Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal.

Patrialis menyamakan kasus Ahok dengan kasus yang pernah terjadi di Bali. Dengan mengatakan ada seorang Kristen menista agama Hindu, hanya disaksikan dua orang saja, dikenakan pasal 156 A KUHP, akhirnya masuk penjara selama 1 tahun 2 bulan.

Di Youtube, banyak beredar soal pendapat Patrialis soal Ahok telah menistakan agama Islam. Salah satunya seperti diunggah akun bernama SAFDAH TV.

“Begitu juga kalau ada seseorang yang mengatakan bahwa Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 51 membodoh-bodohi masyarakat, itu kualifikasinya juga sama dengan penistaan terhadap kitab suci, ini jelas ya,” kata Patrialis pada menit ke 5:50.

Simak videonya di bawah ini.

Perihal kebencian Patrialis terhadap Ahok memang patut dipertanyakan karena bermotifkan kepentingan politik. Patrialis pernah menjabat Menteri Hukum dan HAM selama 2 tahun di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang merupakan ayah dari cagub nomor urut 1, Agus Harimurti Yudhoyono. Ia juga pernah tercatat sebagai anggota DPR selama dua periode dari Partai Amanat Nasional (PAN). Partai ini merupakan salah satu pengusung Agus-Sylvi.

Lagipula, Patrialis sangat berhutang budi dengan SBY. Sebelum diangkat SBY jadi menteri, ia tergabung dalam tim sukses pasangan SBY -Boediono pada 2009 sebagai anggota tim advokasi dan bantuan hukum. Ia juga ‘dipaksakan’ SBY menjadi calon hakim MK dari unsur pemerintah. Dia menggantikan Achmad Sodiki yang pensiun. Penunjukkan Patrialis sebagai hakim konstitusi dari unsur pemerintahan sempat memunculkan kontroversi.

Baca juga: Profil Patrialis Akbar, Eks Menteri SBY, Hakim MK yang Ditangkap KPK

Koalisi Masyarakat Sipil Selamatkan Mahkamah Konsitusi menuntut pembatalan pencalonan Patrialis Akbar sebagai Hakim Konstitusi. Koalisi menilai pencalonan ini cacat hukum dan mengabaikan rekam jejak Patrialis.

Mereka menilai penunjukkan Patrialis sebagai calon Hakim Konstitusi tidak transparan dan partisipatif. Pencalonan Patrialis juga dinilai melanggar pasal 19 Undang-undang tentang Mahkamah Konstitusi.

Setelah 3 tahun menjabat hakim MK, Patrialis tersandung kasus suap. Masyarakat pun sadar dan mengetahui siapakah sebenarnya sosok pembenci Ahok ini yang terkesan alim, santun dan agamis.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: