Iklan
//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Jokowi Pernah Disadap Saat Jadi Gubernur DKI, SBY yang Menginstruksikan?

Pertemuan Presiden Jokowi dan SBY di Istana Merdeka pada 8 Desember 2014

Pertemuan Presiden Jokowi dan SBY di Istana Merdeka pada 8 Desember 2014. (beritadaerah.co.id)

Anekainfounik.net. Isu penyadapan kini menjadi pembicaraan hangat publik Tanah Air setelah Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggelar konferensi pers di Wisma Proklamasi, Jakarta, Rabu (1/2). Dugaan penyadapan itu mencuat usai persidangan tersangka kasus penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang menghadirkan saksi Ketua Umum MUI Ma’ruf Amin, Selasa (31/1/) kemarin.

SBY malah meminta Presiden Jokowi memberi penjelasan atas dugaan penyadapan terhadap dirinya karena menilai sebagai kejahatan. Ia berharap siapa pun yang menyadap diusut oleh penegak hukum.

SBY bahkan mengisyaratkan Jokowi harus mundur dari presiden jika terbukti ada penyadapan terhadap dirinya karena dilakukan dengan motif politik. Ia menyamakan penyadapan ini dengan skandal Watergate yang terjadi di Amerika Serikat pada kurun waktu 1972-1974. Penyadapan dilakukan oleh Richard Nixon untuk menyadap lawan politiknya di Pilpres Amerika Serikat. Memang akhirnya Nixon terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat. Namun skandal penyadapan itu membuat dia harus mengundurkan diri sebelum di-impeach.

Baca juga: Samakan Penyadapan dengan Skandal Watergate, SBY Ingin Presiden Jokowi Mundur?

Namun SBY lupa bahwa saat ia menjadi presiden, pemerintahannya ‘terindikasi’ melakukan penyadapan terhadap Jokowi saat menjabat Gubernur DKI. Saat itu, nama Jokowi memang sedang ‘naik daun’ dan menjadi kandidat kuat capres pada Pilpres 2014 dengan elektabilitas cukup tinggi.

Pada tahun 2013, Jokowi telah disadap di ruang privat dan ruang kerjanya. Pelakunya terdeteksi adalah warga Indonesia dan warga asing.

”Sebenarnya Gubernur sudah merasa ada penyadapan sejak Juni 2013. Lalu, akhir tahun 2013, atas permintaan Gubernur, ada pembersihan alat sadap di rumah dinas dan kantor di Balaikota Jakarta. Saya tidak tahu kepentingan mereka, tetapi pelaku sudah kami deteksi,” kata Pelaksana Tugas Kepala Biro Kepala Daerah dan Kerja Sama Luar Negeri Pemprov DKI Jakarta Heru B Hartono, Kamis (20/2/2014), seperti diberitakan Kompas.com.

Menurut Heru, mereka ini bekerja secara samar, memasukkan alat penyadap diam-diam ke tempat yang ditentukan. Selain memasang alat sadap, pelaku juga membawa alat penguat sinyal yang bisa mendeteksi gelombang suara orang yang disasar. Penguat sinyal ini terhubung dengan stasiun pemantau di dekat lokasi penyadapan.

”Sinyal suara itu bisa ditangkap oleh alat penyadap sehingga pembicaraannya dapat disimak,” kata Heru.

Saat itu, Jokowi membenarkan temuan alat sadap di Rumah Dinas Gubernur DKI di Jalan Taman Suropati Nomor 7, Jakarta Pusat yaitu di kamar tidurnya, ruang tamu dan ruang makan yang sering digunakan sebagai tempat rapat.

Namun, dia menanggapi enteng soal penyadapan yang tergolong kejahatan serius. Hal ini berbanding terbalik dengan respon SBY saat ini yang sepertinya panik dan sampai menggelar konferensi pers.

Walaupun Jokowi cenderung santai menanggapi penyadapan ini, Politisi Partai Demokrat malah menudingnya sebagai upaya pencitraan untuk melambungkan nama menjelang Pilpres 2014. (Baca: JPNN.com-Politikus Demokrat Curiga Jokowi Bangun Citra dengan Penyadapan)

Seperti kita ketahui, hanya ada lima lembaga negara yang boleh melakukan penyadapan di Indonesia , yakni Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kepolisian, Kejaksaan, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Jadi sungguh dimaklumi, saat itu SBY yang masih menjadi presiden menjadi terduga yang memberikan instruksi kepada lembaga negara. Kalau pun benar, motif SBY menyadap Jokowi dipertanyakan. Namun diduga untuk kepentingan Pilpres 2014.

Yang pasti saat Pilpres 2014, besan SBY, Hatta Rajasa menjadi cawapres pesaing Jokowi. Disamping itu, saat kampanye, beredar pula Tabloid Obor Rakyat yang dikelola Setiyardi Budiono. Nama ini memang dikenal dekat dengan kubu Cikeas dan memainkan peranan penting dalam aksi demo Anti-Ahok belakangan ini.

Baca juga: Sari Roti Bantah Bagi Roti Gratis di Aksi 212, Setiyardi ‘Obor Rakyat’ Kecewa

Patut dicurigai, kala itu kubu SBY ingin menghimpun data soal Jokowi untuk ‘memainkannya’ dalam bentuk kampanye hitam pada Pipres 2014.

Jadi, soal penyadapan yang dihembuskan SBY baru ini hanyalah sekedar playing victim dan ingin membentuk opini adanya pelanggaran hukum terkait hal itu. SBY seperti melakukan serangan setelah namanya dicurigai mengintervensi Ketua Umum Ma’ruf Amin dalam mengeluarkan sikap keagamaan soal kasus penistaan agama Ahok.

Kini, SBY memang sedang dalam posisi panik karena ‘belangnya’ sudah mulai dibaca publik. Sebagai pribadi yang ingin sellau menjaga citranya sebaik mungkin di saat dia memiliki kepentingan politik baik untuk mengganggu pemerintahan Jokowi dan menjadikan anaknya sebagai Gubernur DKI, SBY perlu menggelar konferensi pers untuk membentuk opini yang buruk soal Jokowi dan Ahok.

SBY seperti lupa sejarah. Ia dulu menginstruksikan penyadapan terhadap Jokowi namun kini malah menuduh Jokowi menyadap dirinya. Lebih seperti menuai apa yang ditaburkan, bukan?

Yang pasti, ‘perang’ antara Jokowi dan SBY akan terus berlanjut. Kemungkinan mereka melakukan pertemuan di Istana mengecil karena Jokowi pasti ‘tersinggung’ atas pernyataan SBY soal penyadapan ini. Keduanya akan mencoba memainkan strategi politik tinggi untuk membungkam lawan sekaligus meraih simpati rakyat.

Jadi, pemenang ‘perang’ ini adalah sosok yang bisa meraih dukungan mayoritas rakyat. Jadi isu SARA pun akan terus dimainkan untuk meraih simpati sebagian rakyat yang masih berpikir secara sosiologis.

Semoga ‘perang’ ini takkan selesai sampai lebaran kuda, lebaran yang kita tak ketahui tanggalnya. Jika ‘perang’ ini tak cepat selesai, energi bangsa ini akan habis untuk hal-hal yang kontra-produktif.

Iklan

Diskusi

2 thoughts on “Jokowi Pernah Disadap Saat Jadi Gubernur DKI, SBY yang Menginstruksikan?

  1. Sadar dong pak SBY dulu sdh pernah jadi presiden slm 10 thn. Tetap saja masih kurang Legowo dgn Presiden JOKOWI..manusia tidak ada yang selalu benar,,kebenaran Adalah milik manusia yg berhati Mulia dn Lapang dada..Ya allah kenapa Umat Manusia di Indonesia saling menyerang..

    Posted by Surya | Februari 2, 2017, 8:43 am
  2. ya Allah Yg Maha Esa, kenapa esbeye selalu menyerang Presiden Jokowi, apa ini biangnya makar yaaa Allah….bukakanlah kebenaran di Indonesia yg kami cintai ini, biarlah org jahat terjeblos ke penjara agar kami tau…masih ada Engkau Tuhan penguasa alam semesta yg selalu berpihak kepada orang benar….yaaa Allah

    Posted by Tokek Noor Lilla | Februari 3, 2017, 6:09 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: