Iklan
//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Membaca ‘Perang’ Jokowi dan SBY Jelang Pencoblosan Pilgub DKI

Pertemuan SBY dan Jokowi pada 2014

Pertemuan SBY dan Jokowi pada 2014. (Tribunnews.com)

Anekainfounik.net. Dua minggu menjelang pencoblosan Pilgub DKI 2017, kondisi perpolitikan Indonesia semakin memanas setelah Ketum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan manuver politik dengan melakukan drama ‘terzalimi’ soal penyadapan teleponnya dengan Ketua MUI, Ma’ruf Amin. Secara kasat mata terlihat di depan publik, Pilgub DKI bukanlah sekedar Pilkada biasa, namun peperangan antar kubu Jokowi dan SBY.

Semua pasti setuju, Pilgub DKI 2017 merupakan pertempuran tiga kekuatan besar politik di Tanah Air yang diwakilkan oleh ketiga pasangan cagub-cawagub yakni antara SBY (Agus-Sylvi), Jokowi-Mega (Ahok-Djarot) dan Prabowo (Anies-Sandi). Namun mengapa justru peran Prabowo seperti tak terlihat dalam ‘pertempuran’ sehingga menyisakan Jokowi vs SBY?

Prabowo mencoba menarik diri dari pertempuran ini. Entah apa alasannya, namun kemungkinan besar dia sudah bisa membaca SBY mencoba melakukan segala cara untuk menggolkan putra sulungnya menjadi Gubernur DKI. Prabowo mungkin sadar cara ini sangat licik dan bisa mengakibatkan terjadinya perpecahan di kalangan masyarakat.

Sinyal ini sudah ditunjukkan Prabowo dengan melakukan pertemuan dengan Jokowi usai SBY menggelar konferensi pers soal ‘Lebaran Kuda’.

Baca juga: Ada ‘Lebaran Kuda’, Ini Pidato Lengkap SBY Soal Demo 4 November

Sinyal ini semakin ‘mengeras’ saat Prabowo melakukan orasi untuk Anies-Sandi di Kedoya, Jakarta Barat, Rabu (1/2/2017).

Baca: Kompas.com-Prabowo Sebut Ada Orang Licik Maju pada Pilkada DKI

Prabowo tidak menjelaskan lebih lanjut siapa calon yang dia maksud licik dan pintar bohong. Tapi dugaan ini lebih tepat mengarah ke Agus Harimurti Yudhoyono.

Ya, sejak Agus-Sylvi ditetapkan KPU DKI menjadi paslon. SBY melakukan gerakan yang bisa disebut ‘jahat’ untuk menjadikan anaknya DKI 1 sekaligus menuju Pilpres 2019. Ia memainkan isu agama untuk menggembos kekuatan Ahok. SBY tega bermain api demi kepentingan politiknya.

Anda boleh membantah analisis saya atau menurut anda hanyalah ‘dugaan prematur’. Tapi mayoritas rakyat Indonesia sudah bisa pintar membaca dinamika perpolitikan Tanah Air setahun belakangan ini. Mengapa saya sebut demikian? Lihat elektabilitas Agus yang sempat naik akibat aksi bela Islam yang dilakukan GNPF-MUI, sekarang malah jeblok. Mayoritas warga DKI percaya kasus penistaan agama Ahok adalah pemaksaan.

Memang banyak survei bayaran yang bisa mengakali masalah elektablitas namun SBY dulu sering menjadikan ketiga lembaga ini soal keakuratan survey yakni SMRC, Indikator dan Populi. Dan semuanya menyebut tren elektabilitas Ahok rebound.

SBY sadar dan memutuskan keluar dari belakang layar. Ia kembali memainkan drama soal penyadapan sekaligus menyerang Jokowi dengan tuduhan penyadapan ilegal dan political spying.

Baca juga: Samakan Penyadapan dengan Skandal Watergate, SBY Ingin Presiden Jokowi Mundur?

Di saat bersamaan, anggota DPR dari Partai Demokrat menyerukan hak angket dan pembentukan Pansus penyadapan. Di sosial media, cyber army kubu Cikeas mencoba membangun opini bahwa Ahok telah berlaku kurang ajar dalam persidangan terhadap KH Ma’ruf Amin. Mereka menginginkan suara NU mendukung Ahok berpindah ke kubu Agus-Sylvi sekaligus memprovokasi warga nahdliyin agar ikut bergabung dengan FPI Cs.

Jokowi sendiri sudah mengetahui langkah SBY tersebut. Dengan pelan dan meyakinkan Jokowi melakukan langkah ‘elegan’ untuk melemahkan rencana SBY. Dimulai dari kasus makar hingga membuat imam besar FPI, Rizieq Shihab tersandung banyak kasus hukum akibat ‘kepongahan’ Rizieq sendiri. Yang lebih mengena adalah menyerang dengan kasus dugaan chat mesum Rizieq dan Firza Husein yang bermaksud meminimalisasi jumlah pendukung Rizieq.

Karena tak memungkinkan lagi menunggangi FPI Cs, kubu SBY mencoba mengadu domba kalangan nahdliyin agar massa aksi Bela Islam jilid selanjutnya, yakni aksi 112 (11 Februari) bisa sukses dan diikuti banyak massa. Jokowi kemudian bergerak yang terlihat dari langkah Luhut Pandjaitan mendekati Ma’ruf Amin sehingga dapat meredam gejolak di kalangan warga NU.

Ma’ruf sendiri sadar, dia kini ‘dibuang’ SBY akibat SBY mengakui adanya percakapan via telepon. Padahal, di sidang kasus Ahok, Ma’ruf tetap setia dengan tak mengakui adanya komunikasi tersebut. Akibatnya, marwah Ma’ruf sendiri terjun bebas akibat tuduhan bersaksi palsu. Ia pun kini menarik garis, dengan tidak memihak salah satu kubu, Jokowi atau SBY.

Baca juga: Tolak Bertemu Ahok, Ma’ruf Amin: Nanti Saya Dimarahi Umat

Lalu apa kini langkah SBY setelah ia tak mampu mengadu domba NU? Aksi 211 dengan tag line “Wajib Memilih Pemimpin Muslim” tak mungkin dibatalkan. SBY mungkin akan mengeluarkan jurus berikutnya dengan mempersiapkan berbagai rencana cadangan, termasuk dalam masa tenang menjelang hari H pencobolosan.

Namun, apa pun yang akan dilakukan oleh SBY, Jokowi sepertinya juga sudah menyiapkan ‘penangkalnya’ walaupun SBY akan mencoba menyerang membabi buta jika sang putra gagal menang.

SBY sepertinya akan kalah dalam ‘perang’ ini karena ia bukan lagi menjadi presiden dan ia menghadapi seorang Jokowi, yang kini merupakan panglima tertinggi, menguasai Polri, TNI dan mayoritas dukungan di DPR. Lagipula Jokowi dikenal sangat mahir memainkan langkah ‘senyap’ namun mematikan.

SBY juga harusnya sadar bahwa Jokowi sudah memegang banyak ‘peluru’ kasusnya mulai PETRAL, e-KTP hingga Antasari Azhar. Berhentilah bermain api sebelum anda dan di sekeliling anda terbakar!

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: