Iklan
//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Paslon 1 dan 3 Sudah Janjian Tak Saling Menyerang di Debat Final?

Ketiga paslon selfie dengan moderator Alfito Deannova Gintings

Ketiga paslon selfie dengan moderator Alfito Deannova Gintings. (Kompas.com)

Anekainfounik.net. Ada satu hal yang menarik dalam dalam debat ketiga atau final di Hotel Bidakara, Jakarta, Jumat (10/2/2017). Debat malam ini mengangkat soal masalah kependudukan dan peningkatan kualitas hidup untuk debat ketiga pasangan cagub-cawagub Pilkada DKI Jakarta 2017.

Yang menarik adalah saat pasangan calon (paslon) nomor urut satu Agus Yudhoyono-Sylviana Murni dan paslon Anies Baswedan-Sandiaga Uno diharuskan saling bertanya dalam sesi kesempatan untuk saling bertanya. Cara dan isi pertanyaan kedua paslon ini sangat berbeda ketika saat bertanya kepada paslon petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Diduga Agus-Sylvi dan Anies-Sandi sudah janjian dan sepakat sebelumnya untuk tak saling menyerang dan menggunakan kesempatan ini untuk menjelaskan program dan keunggulan mereka dengan jawaban yang tak ‘nyambung’. Metode ini sedikit berbeda dibandingkan saat debat kedua, Jumat (27/1/2017). Saat itu Sandi menggunakan pertanyaan kepada Agus-Sylvi untuk menyerang Ahok-Djarot.

Sebagai contoh, saat Anies bertanya kepada Agus-Sylvi soal masukan kepadanya jika terpilih menjadi Gubenur dalam mengelola dan memimpin Satpol PP. Tak ada serangan dan kritikan terhadap Agus-Sylvi. Pertanyaan itu sepertinya digunakan Sylvi untuk membanggakan kinerjanya saat menjabat Plt Kasatpol PP.

“Saya punya contoh, penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Sabang. Di sana, kami bisa menjadikan PKL terbaik. Jadi Satpol PP tidak menakutkan,” kata Sylvi.

Sylvi menyatakan kuncinya memimpin dengan hati. Satpol PP bisa menjadi humanis tanpa ditakuti. “Yang penting kita punya hati,” ujarnya dengan membanggakan diri.

Agus sendiri menggunakan pertanyaan itu untuk menyerang Ahok dengan membangun opini seakan-akan Ahok tak manusiawi terhadap PKL. Agus menjawab bahwa Satpol PP memang harus bekerja sesuai tupoksinya namun bukan menggusur dan menertibkan PKL dengan tidak manusiawi.

Sandiaga Uno yang diberi kesempatan menanggapi jawaban Agus-Sylvi kemudian menekankan jawaban serupa. Sandi mencontohkan nasib Bu Cecep, pedagang bahan bangunan di Berlan, Jakarta Timur, yang khawatir jika melihat Satpol PP.

Sandi mengatakan pedagang kaki lima harusnya bisa diberdayakan dengan program kewirausahaan OK OCE.

“Kami berjalan di 267 keluharan. Kami melihat cerita Bu Cecep, pengusaha bahan bangunan di Berlan. Tapi setiap kali, Satpol PP hadir. Kami ingin program pemberdayaan, kisah seperti Bu Cecep, Bu Awi penjual bir pletok. Program OKE OCE bisa mengangkat program perempuan. Kesejahteraan adalah yang diinginkan PKL. Mereka ingin tertib, ikut program pemerintah, tapi mereka ingin diberi lokasi dan akses.” kata Sandi.

Baca juga: Netizen: Apapun Masalahnya, Jawaban Sandiaga Pasti Oke Oce

Tanggapan Agus tidak jauh berbeda dengan yang disampaikan Sandiaga. Ia pun kembali menyerang Ahok seakan-akan membuat opini Ahok bukan pemimpin yang baik karena tak membuat rakyatnya mengikuti program dengan ikhlas tanpa paksaan.

“Memang membutuhkan kreativitas dalam melakukan berbagai hal untuk menata lingkungan sehingga tertib, humanis, manusiawi. Ini yang seharusnya dimiliki pemimpin. Kalau sekadar menggusur, tidak perlu ada pemimpin. Yang penting pembinaan, pemberdayagunaan PKL. Semuanya harus tumbuh bersama-sama. Jangan sampai yang lemah tergusur, sedangkan yang memiliki bisa berjaya di atasnya. Satpol PP itu juga harus gunakan logika dan hati nurani. Memang terkesan klise, tapi inilah esensi kepemimpinan,” ujar Agus.

Cara ini mungkin dianggap paslon nomor 1 dan 3 menyerang Ahok yang elektablitasnya kini berada di puncak seperti dinyatakan survey terakhir Litbang Kompas.com.

Namun mereka tak menyadari bahwa pemilih Ahok-Djarot lebih setia daripada pemilih mereka. Litbang Kompas menyatakan Ahok-Djarot memiliki strong voters sebesar 85 %, sementara Agus-Sylvi hanya 62% dan Anies-Sandi 77 %. Artinya debat ini digunakan paslon 1 dan 3 untuk meraih swing voters dari Ahok-Djarot yang lebih kecil di antara mereka.

Baca: Kompas.com-Survei Litbang “Kompas”: Kemantapan Pemilih Agus 62%, Ahok 85%, Anies 77%

Bukankah menyerang Ahok sepertinya percuma karena sebenarnya elektabiltas Agus-Sylvi dan Anies-Sandi sangatlah ketat untuk menjadi pemenang kedua dalam Pilgub DKI? Dari semua survey, Pilgub ini diprediksi berakhir dua putaran karena sangat berat salah satu paslon melebihi raihan suara di atas 50 persen. Seharusnya paslon 1 dan 3 menyerang satu sama lain dalam debat untuk merebut swing voters masing-masing paslon. Lagipula, mayoritas swing voters Agus berpindah ke kubu Anies dalam 2 bulan terakhir ini.

Walaupun sepertinya tak efektif, mengapa keduanya memaksakan diri menyerang Ahok-Djarot? Paslon 1 dan 3 tak membutuhkan debat untuk meraih pemilih sosiologis yang menggunakan SARA sebagai alasan memilih gubernur DKI. Cara lain bisa dilakukan dengan mengunjungi ulama dan habib atau membuat kampanye hitam soal SARA di belakang layar.

Ingat salah satu tujuan debat adalah memaparkan program untuk meraih simpati warga DKI yang rasional. Jadi keduanya mencoba untuk menyerang Ahok dan Djarot dengan membuat ‘opini menyesatkan’ agar pemilih Ahok menjadi ragu. Namun, hal ini sepertinya tak akan sukses karena dalam debat terakhir ini, Ahok tampil lebih menyerang yang membuat kedua paslon ini mati kutu terutama saat statement penutup Ahok soal ‘om dan tante’.

Baca juga: Ahok: Paslon 1-3 Ibarat Om Tante yang Mau Rusak Aturan Orangtua

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: