Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Penjelasan Ahli MUI soal Kata Aulia di Al-Maidah 51 di Sidang Ahok

Ahok dan pengacaranya mendengarkan keterangan saksi di sidang ke-10

Ahok dan pengacaranya mendengarkan keterangan saksi di sidang ke-10. (Liputan6.com)

Anekainfounik.net. Saksi ahli dari Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesi (MUI), Muhammad Amin Suma, menjelaskan arti kata “aulia” dalam Surat Al-Maidah ayat 51 pada persidangan kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama, Senin (13/2/2017).

Menurut Amin, terjemahan dalam Al Quran bisa bermacam-macam, termasuk kata “aulia” dalam Al-Maidah ayat 51.

“Jangankan terjemahannya, hurufnya saja bermacam-macam. Kata “aulia waliyun” artinya bisa melindungi, teman setia, yang menolong, yang memberi sesuatu, mendampingi, menemani,” ujar Amin di Kementerian Pertanian, Ragunan, Senin (13/2/2017).

Meski demikian, menurut dia, semua terjemahan itu tidak ada yang salah. Amin mengatakan, arti kata “aulia” sebagai teman setia hanya salah satu saja.

Begitu pun dengan “aulia” sebagai pemimpin. “Makanya, ada sebagian ulama haram menerjemahkan Al-Quran karena enggak mungkin bisa diterjemahkan, tetapi tidak berarti ini salah dan keliru,” ujar Amin.

Ia mengatakan, menerjemahkan Al Quran juga bisa dengan cara tematik. Jika dilihat dari segi tematik, kata “aulia” dalam Al-Maidah ayat 51 berarti pemimpin.

Adapun pemimpin yang dimaksud adalah yang memenuhi karakter yang diperintahkan agama Islam. “Tiap pemimpin pun harus berteman, harus membela, dan harus menolong,” ujar Amin.

Amin Suma juga menceritakan tentang kisah latar belakang turunnya Surat Al-Maidah ayat 51. Hal itu disampaikan Amin dalam sidang lanjutan kasus dugaan penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

“Salah satunya terkait dengan salah seorang yang berpura-pura mengaku memeluk Islam, padahal dia tidak. Namanya Abdullah bin Ubai bin Salul,” kata Amin.

Amin mengatakan Abdullah hidup di zaman Nabi Muhammad SAW. Saat itu, lanjut Amin, Abdullah melakukan kerja sama dengan orang-orang nonmuslim, meski mengaku memeluk agama Islam.

“Di sebelah lain ada juga tokoh yang tidak sependapat dengan Abdullah bin Ubai, itu yang saya katakan. Berbeda-beda, termasuk sikapnya saat itu,” ujar Amin.

“Abdullah bin Ubai menyatakan saya tidak ikut bersama Muhammad, karena saya begini-begini, masing-masing punya alasan,” tutur Amin.

Menurut Amin, Abdullah sering bertentangan dengan Muhammad meski mengaku Islam. Saat itulah, kata Amin, turun Surat Al-Maidah ayat 51.

“Di saat ada sesuatu yang diperlukan, Nabi memerlukan, kalau istilah sekarang itu bantuan, termasuk bantuan suara. Di mana Islam ini bisa eksis tanpa mengganggu orang lain. Abdullah bin Ubai bin Salul, yang secara formal mengaku muslim, tapi dia tidak mau, malah berpihak kepada yang nonmuslim. Itulah turunnya ayat itu,” ujar Amin.

Semua Bisa Tafsirkan Ayat Alquran

Dalam sidang itu, Amin menyampaikan keahliannya sebagai ahli syariah. Ketika ditanya jaksa penuntut umum Ali Mukartono tentang penerjemahan tergantung konteks, Amin mengatakan bisa saja terjadi asalkan teks dan konteks tidak bertentangan.

“Dimungkinkan, tapi antara teks dan konteks tidak boleh bertentangan. Kalau di depan mahasiswa itu beda, di ceramah majelis taklim itu beda juga, di persidangan beda juga. Bukan karena plinplan, tapi untuk mempermudah orang memahami,” ujar Amin.

Selama Amin memberikan keterangan sebagai ahli agama Islam, sempat terjadi perdebatan antara majelis dan Amin. Perdebatan yang dimaksud perihal satu pertanyaan dari majelis, apakah orang yang memberi tahu isi surat Al-Maidah ayat 51 menyampaikan kebenaran.

Awalnya, Amin menjawab belum tentu orang tersebut menyampaikan kebenaran. Namun, ketika ditanya lebih detail lagi, Amin mengungkapkan bahwa makna sebuah kalimat dapat ditangkap berbeda jika disampaikan orang yang berbeda di tempat dan waktu yang berbeda pula.

“Kalimat disampaikan oleh orang yang berbeda (golongan) di tempat dan waktu yang berbeda, penafsirannya juga akan berbeda. (Surat Al-Maidah) ayat 51 kan bukan soal dibohongi. Titik fokus saya pada kata dibohongi,” ujar Amin.

Meski begitu, perdebatan tidak membuat suasana dalam ruang sidang jadi tegang. Sebaliknya, majelis dan penuntut umum tampak antusias ingin menggali pandangan Amin seputar surat Al-Maidah ayat 51.

Ketika diberi kesempatan, pihak kuasa hukum tidak mengajukan pertanyaan apa pun. Sedari awal, mereka menyatakan sikapnya kepada majelis bahwa keberatan dengan kehadiran ahli dari MUI yang dianggap tidak netral.

Usai bersaksi, Amin tampak memberikan buku ke majelis hakim.Tak tampak jelas buku apa yang diberikan Amin.

“Terima kasih, ahli,” kata ketua majelis hakim Dwiarso Budi Santiarto.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: