Iklan
//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Agus-Sylvi Kalah Karena Debat dan Manuver Politik SBY?

Agus Yudhoyono gelar jumpa pers soal kekalahannya

Agus Yudhoyono gelar jumpa pers soal kekalahannya. (Liputan6.com)

Anekainfounik.net. Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni pernah dijuluki sebagai kuda hitam di Pilkada DKI Jakarta. Pada masa awal pencalonan, pasangan yang diusung Poros Cikeas ini diyakini oleh sebagian kalangan, berpeluang memenangkan perebutan kursi DKI Jakarta 1 dan 2. Hal ini terbukti dengan tingginya elektablitasnya keduanya di awal masa kampanye.

Tetapi kenyataan berkata lain. Agus-Sylvi hampir dipastikan tersingkir jika tak ada perbedaan signifikan antara hasil quick count sejumlah lembaga survei, dengan hasil akhir penghitungan manual KPU DKI Jakarta.

Berdasarkan hasil quick count LSI Denny JA, SMRC, dan Vox Populi, Agus-Sylvi ada di posisi buncit, di bawah pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Pengamat politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani, Bandung, Jawa Barat, Yohanes Sulaiman menyebut dua faktor utama yang menyebabkan Agus-Sylvi tersingkir di pentas Pilkada DKI. Faktor pertama dan yang paling utama adalah performa Agus-Sylvi dalam tiga acara debat resmi yang diselenggarakan KPU DKI.

Dalam tiga rangkaian debat itu, Yohanes menilai performa Agus-Sylvi berada di bawah dua pesaingnya, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.

“Pengaruhnya sangat besar. Terbukti, tren penurunan elektabilitasnya dimulai setelah debat digelar,” kata Yohanes, seperti diberitakan CNNIndonesia.com.

Baca juga: Hasil Quick Count Data > 95%: Ahok Teratas, Anies Masuk Putaran Dua

Buruknya performa debat Agus, menurut Yohanes, bukan hal aneh jika merujuk pada latar belakangnya yang belasan tahun menjadi tentara.

Agus disebut Yohanes tak pandai berdebat karena dididik dalam dunia militer yang tak mengenal budaya perdebatan. Menurut Yohanes, kekurangan itu sebenarnya bisa diatasi jika tim pemenangan memiliki persiapan yang matang dan bisa memaksimalkan peran Sylvi.

“Tapi saya tak melihat itu. Persiapan mereka terlihat minim dan itu terlihat dari tak ada kolaborasi antara Agus dan Sylvi. Sylvi yang diharapkan bisa menutupi kekurangan Agus di panggung debat, justru tak banyak berperan,” ujar Yohanes.

“Buruknya performa mereka saat debat pada akhirnya membuat publik sadar bahwa pasangan ini (Agus) masih terlalu hijau,” imbuh Yohanes.

Faktor kedua yang menyebabkan Agus-Sylvi tersingkir, menurut Yohanes, adalah manuver politik Susilo Bambang Yudhoyono yang tak lain adalah ayah kandung Agus Harimurti Yudhoyono.

Yohanes menilai kesalahan politik SBY lantaran menyeret nama Agus dalam sejumlah persoalan yang ia hadapi belakangan ini.

SBY dalam sejumlah pidatonya memang kerap membawa-bawa nama Agus. Itu ia lakukan ketika mengomentari isu penyadapan. Dan, yang terbaru, saat berbicara ‘menangkis serangan’ dari mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar, kemarin.

Manuver politik SBY disebut telah terlalu jauh mencampuri urusan politik putra sulungnya. Akibatnya, manuver politik SBY gagal mendulang simpati publik, melainkan justru menimbulkan kesan negatif di mata publik.

“Karena manuver ayahnya, publik justru melihat Agus sosok yang manja. Padahal, jika dibiarkan tanpa campur tangan SBY, mungkin hasilnya bisa berbeda,” kata Yohanes.

Sementara, Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median) Rico Marbun mengatakan suara dukungan untuk Agus-Sylvi terpecah cukup lumayan tinggi. Dia menduga, pemilih Agus yang basisnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah tak datang ke tempat pemungutan suara.

“Split votingnya tinggi dan saya curiga pemilih ekonomi menengah bawah yang basis Agus tidak datang ke TPS. Jadi operasi teritorialnya tumpul,” kata Rico, Kamis (16/2/2017), seperti diberitakan Detikcom.

Sementara Tim Agus-Sylvi tak bisa mengharapkan perolehan suara dari kalangan menengah atas dan mudah terpengaruh oleh opini publik. Performa debat Agus-Sylvi sangat mempengaruhi pemilih dari kalangan menengah atas.

Sehingga meskipun tahun ini tingkat partisipasi publik atas Pilkada cukup tinggi, Agus-Sylvi tak bisa mendapat suara maksimal. “Yang hadir di TPS meningkat hampir 80 persen. Tapi strata demografi sepertinya menengah atas sangat terpengaruh isu dan opini publik serta melek debat, jadi rontok deh suara Agus-Sylvi,” papar Rico.

Kondisi ini masih ditambah daya tarik tokoh partai pendukung yang tidak terlalu massif. “SBY seperti sendirian, Ketum PPP, PAN, PAN dan PKB nyaris tidak terlalu terasa,” tambah dia.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan

Berita Terbaru: Aneka Info Unik

Kami tidak dapat memuat data blog saat ini.

%d blogger menyukai ini: