Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Rizieq: Hanya Ulama Seperti Saya Bisa Jelaskan Maksud Ayat Alquran

Habib Rizieq di sidang Ahok

Habib Rizieq di sidang Ahok. (Detikcom)

Anekainfounik.net. Jakarta – Habib Rizieq Syihab menyebut siapa saja boleh menjelaskan tentang Alquran. Namun, menurut Rizieq, hanya ulama yang bisa menjelaskan tentang maksud dari suatu ayat di Alquran.

“Ya siapa saja boleh (menjelaskan tentang ayat Alquran). Tapi dalam menjelaskan maksud dari suatu ayat itu ya yang merupakan ahli di bidang ini yaitu para ulama,” ucap Rizieq dalam persidangan lanjutan kasus dugaan penodaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (28/2/2017).

“Siapa pun berhak artinya menyampaikan ayat Alquran meskipun satu ayat?” tanya hakim menimpali.

Rizieq mengamini dengan catatan siapa pun yang menyampaikan itu paham artinya. Apabila tidak paham, lanjut Rizieq, maka bisa terjadi penodaan agama.

“Iya dengan catatan, dia paham artinya. Maksudnya, karena nanti kalau tidak paham bisa terjadi penyelewengan dan bisa terjadi penodaan agama,” ujarnya.

Hakim lalu bertanya pada Rizieq bahwa tidak semua orang tua muslim adalah ulama dan bagaimana kewajiban orang tua untuk mengajarkan agama ke anaknya. Rizieq mengatakan orang tua itu bisa mengajarkan anaknya melalui pondok pesantren.

“Walaupun tidak mengerti agama ya bisa saja mengirimkan kepada para guru di pondok pesantren, madrasah, atau mengundang guru privat untuk mengajarkan agama kepadanya,” kata Rizieq.

Dalam sidang tersebut, Rizieq menjelaskan maksud kata ‘aulia’ dalam surat Al-Maidah ayat 51. Menurut Rizieq, ahli tafsir salaf sepakat bahwa kata aulia setidaknya memiliki lima pengertian.

Baca juga: Di Sidang Ahok, Rizieq: Al-Maidah Dijadikan Alat dan Sumber Kebohongan

“Semua ahli tafsir salaf, saya katakan salaf maksudnya klasik. Semua ahli tafsir salaf sepakat apakah itu diartikan teman setia, orang kepercayaan, penolong, pelindung, pemimpin, semua sepakat bahwa ayat tersebut sah dijadikan dalil haramnya orang kafir sebagai pemimpin bagi umat Islam,” jelas Rizieq.

Rizieq menjelaskan, pemimpin punya arti lebih tinggi dibanding penafsiran lainnya. Ia mencontohkan, ketika seseorang menjadi pemimpin ia otomatis menjadi teman dekat. Namun tidak berlaku sebaliknya.

“Kenapa mereka tidak berbeda pendapat, pertama kalau menjadi orang setia atau orang kepercayaan saja tidak boleh, apalagi jadi pemimpin. Kenapa? Setiap teman setia belum tentu jadi pemimpin, tapi setiap pemimpin wajib jadi teman setia orang yang dipimpinnya,” ujar Rizieq.

“Pemimpin harus jadi teman setia rakyatnya. Begitu pun dalam konteks orang kepercayaan. Jadi pemimpin ini artinya lebih tinggi. Kalau jadi pelindung dan penolong umat Islam saja tidak boleh, apalagi jadi pemimpin,” jelasnya.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: