Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Kesaksian Sopir Pribadi Soal Gencarnya Serangan SARA ke Ahok Sejak Dulu

Suyanto, sopir pribadi keluarga Ahok

Suyanto, sopir pribadi keluarga Ahok. (Kumparan.com)

Anekainfounik.net. Suyanto, sopir pribadi keluarga Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mengungkapkan kedekatannya dengan Ahok di saat masa muda dulu hingga kini. Hal itu ia ucapkan dalam persidangan yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Utara di Auditorium Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Selasa (14/3).

“Saya kenal Pak Ahok waktu tahun 1989. Saat itu, saya jadi caddie tennis. Bapak sering main tennis, saya yang ambil bolanya. Dari situ saya sering diajak main ke rumah, ngobrol dengan keluarga, menginap dan tidur satu kamar dengan keluarga Bapak,” ujar Suyanto yang dihadirkan sebagai saksi meringankan, seperti diberitakan Kumparan.com.

Suyanto adalah salah satu sopir pribadi Ahok khusus daerah Belitung. Ia juga pernah bekerja sebagai buruh di salah satu perusahaan Ahok. Pun memutuskan untuk mundur sejak 2003, ia masih sering dipanggil saat Ahok pulang kampung ke Belitung.

Kedekatan Suyanto dengan Ahok terbilang cukup lama. Teguh Samudera, salah satu kuasa hukum Ahok lantas menanyakan keseharian mereka saat Ahok masih tinggal di Belitung dulu.

“Saksi bilang sering jadi sopir serabutan, apakah pernah disarankan salat?” tanya Teguh

“Pernah disuruh Salat Jumat. Bapak bilang begini, ‘kamu (Suyanto) salat Jumat dulu aja sana, saya tunggu di mobil,” kata Suyanto.

Suyanto juga menceritakan kedekatan anaknya, Dandi dengan Nikolaus, anak laki-laki Ahok. Kedekatan mereka berdua digambarkan Suyanto di persidangan.

“Dekat sekali, bahkan dulu Niko sering ingatkan Dandi untuk rajin sembahyang, waktu itu Dandi kan lagi kuliah di Bandung,” ujar Suyanto.

Dia juga mengaku Ahok tinggal di lingkungan perkampungan biasa dan sering membantu pembangunan masjid. Selain itu, Suyanto juga menyebut Ahok pernah menaikkan haji 4 orang di kampungnya.

“Pak Basuki sampai sekarang bantu masjid, naikin haji 4 orang,” ujarnya.

Sesekali, Suyanto melirik Ahok saat menjawab pertanyaan. Sambil bercanda, majelis hakim mengingatkan Suyanto agar jangan takut dengan atasannya itu.

“Kenapa lirik-lirik terus? Jangan takut ya. Emang Pak Ahok suka marah-marah ya? Pernah dimarahin enggak kamu?” ujar hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto.

“Enggak kok, Pak. Saya enggak pernah telat kalau datang kerja. Bapak enggak pernah marah-marah, cuma kasih nasihat saja,” tutur Suyanto.

Sejak 1989, Suyanto sudah mengikuti keseharian Ahok, bahkan saat Ahok memutuskan menjadi Bupati Belitung Timur dan mencalonkan diri sebagai Gubernur Bangka-Belitung.

Lantas hakim menanyakan bagaimana suasana kampanye saat itu. Suyanto mengatakan, isu perihal Surat Al-Maidah yang kini membuat Ahok duduk di kursi terdakwa sudah lama dibicarakan.

“Dari zaman bapak mencalonkan diri, isu jangan pilih pemimpin nonmuslim sudah lama ada, berhamburan selebarannya di persimpangan jalan. Tapi saya tidak tahu isinya karena saya tidak ambil. Saya cuma dengar dari orang-orang waktu ngobrol di warung kopi,” kata Suyanto.

Padahal, dalam pengakuan Suyanto, sebelum Ahok menyalonkan diri sebagai Gubernur Bangka-Belitung, masyarakat sekitar tidak pernah mempermasalahkan keluarga Ahok. Saat itu, banyak warga yang meminta pertolongan ke keluarga Ahok.

“Sering bantu, pinjemin uang, bangun masjid. Bahkan saat bapak pulang ke sini, masih sering kunjungi guru SMP nya yang muslim anggota Muhammadiyah, Pak Nerwan yang sampai sekarang masih terbaring sakit,” tuturnya.

Di awal persidangan, Ketua tim jaksa penuntut umum, Ali Mukartono sempat menolak kesaksian Suyanto, dikarenakan memiliki hubungan dekat dengan terdakwa.

“Kami meragukan keterangan saksi karena saksi sopir pribadi dan dekat dengan keluarga terdakwa,” ujar Ali.
Hal itu dibantah oleh I Wayan Sudirta, salah satu kuasa hukum Ahok. Menurutnya, hal tersebut sudah sesuai dengan Pasal 168 KUHAP.

“Saksi yang dilarang adalah keluarga yang segaris lurus dengan terdakwa, mereka yang memiliki hubungan pernikahan dan pasangan suami istri. Hanya itu,” kata Wayan.

Majelis Hakim akhirnya menyetujui bantahan Wayan. “Suyanto bisa dimintai keterangan di bawah sumpah,” ujar hakim Dwiarso.

Persidangan kali ini berlangsung cukup ringan tanpa banyak pertanyaan yang dilontarkan jaksa penuntut umum. Suyanto selesai memberikan keterangan pukul 11.30 WIB.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: