Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Viral di Medsos, Ini Cerita Abil Bocah SD yang Tertidur Usai Jualan

Foto Abil Alifudin tertidur usai jualan

Foto Abil Alifudin tertidur usai jualan. (Instagram)

Anekainfounik.net. Selama sepekan terakhir, beredar di sosial media foto bocah kecil tertidur di depan sebuah trotoar di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Posisinya tidak terlentang, melainkan bersandar pada sebuah dinding pagar. Sang bocah tampak masih mengenakan seragam sekolah lengkap: pakaian pramuka, sepatu, dan setangan leher alias kacu merah-putih. Di depan sang bocah tampak sebuah kardus kecil berisi tisu dan aneka jajanan.

Dilansir Detikcom, bocah tersebut diketahui bernama Abil Alifudin. Selepas sekolah, dia mencari rezeki dengan berjualan tisu dan aneka jajanan anak-anak.

“Awalnya sudah setahunan saya jualan,” kata Abil saat ditemui detikcom di kontrakannya, Gang H. Toncit, Jagakarsa, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Minggu (19/3/2017).

Anak kelahiran 18 Januari 2004 ini mengaku berjualan setiap hari setelah pulang sekolah, pada pukul 14.00-22.00 WIB. Hasil dari berjualan sebagian dia gunakan untuk membeli perlengkapan sekolah dan membantu ibu. Jika ada sisa, Abil menggunakannya untuk sekadar bermain ke warnet (warung internet).

“Uangnya buat beli tas, sepatu, kasih ke ibu, sama main warnet (warung internet),” kata Abil.

“Pulang jualan sampai rumah jam 22.00 WIB, sudah malam, tapi saya dari warnet belajar dulu di rumah teman buat ngerjain tugas juga,” tambah Abil. Kali ini dia sambil menahan tangis.

Dia sering mengambil barang jualan, seperti tisu, kepada Irma atau yang sering disapa Umi oleh Abil. Setiap hari ia diberi 10-20 tisu per hari untuk dijual.

“Jualan tisu atau kue kering, juga keripik. Kalau tisu biasanya ambil ke Umi (Irma). Sehari bisa habis 10-20 tisu, itu sekitar 25 ribu rupiah, tapi kadang ada yang ngasih jadi bisa 50 ribu sehari,” imbuhnya.

Akibat sering berjualan hingga malam, tak jarang Abil ketiduran di ruang kelas saat jam pelajaran sekolah. Teman-teman di kelas pun pernah meledeknya.

Namun, bagi Abil, selama yang dia lakukan benar dan halal, itu tak jadi soal. “Saya sempat diledekin kayak, ‘Dih Abil jualan, malu-maluin’. Kayak gitu, tetapi ya sudah nggak apa-apa, yang penting halal. Pernah ketiduran juga di kelas, terus dibangunin guru,” kata Abil sambil terisak.

Bukan hanya teman, guru dan orang tua juga tahu Abil sering berjualan sepulang dari sekolah. Kini Abil duduk di bangku kelas IV SD. Dia bersekolah di SDN 09 Tanjung Barat. Ketika ditanya apakah sang guru tahu bahwa dia berjualan, Abil cerita bahwa gurunya tahu.

“Guru kelas tahu, tapi dia cuma bilang nggak apa-apa yang penting halal. Saya juga tetap belajar kalau habis main warnet,” kata anak keempat dari lima bersaudara ini.

Abil Alifudin saat berada di rumahnya

Abil Alifudin saat berada di rumahnya. (Detikcom)

Abil merasa, untuk memenuhi kebutuhannya, ia harus berjualan. Meski sempat dilarang oleh orang tua dan kakaknya, hal itu tidak membuat dia berhenti berjualan.

“Ia sempet dilarang sama orang tua, tapi saya emang mau jualan biar bisa nambah penghasilan,” imbunya.

Widi kakak sulung Abil kerap melarang Abil untuk berjualan. Bahkan dia sempat menemui adiknya berjualan di tengah hujan hingga tak kuasa sedihnya ditahan.

“Saya tuh sudah melarang Abil untuk jualan, cuma Abil nya yang terus berjualan. Bahkan sempat saya tuh temui dia hujan-hujan dia pakai kantong plastik di kepalanya dan semua kardus jualannya basah. Saya langsung suruh pulang, tapi dia gak mau,” kata Widi saat ditemui di rumah kontrakannya di Gang H.Toncit,Jagakarsa, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Minggu (19/3/2017).

Tak hanya Widi, Bahar (kakak ipar Abil) juga melarang Abil jualan. Kalau pun tetap jualan mereka menyarankan Abil ganti baju lebih dulu. “Kita sudah bilang kalau mau jualan pulang dulu ke rumah dan ganti baju. Tapi kadang dia
gak pulang langsung aja jualan,” tutur Widi.

Ayah Abil, Aep Saepudin juga mengaku telah melarang Abil untuk berjualan. Namun keinginan Abil untuk berjualan sangat kuat.

“Saya sebagai orang tua udah larang dia berjualan karena dia kan masih kecil jadi takut disalahgunakan sama orang-orang,” ujar Aep.

Menurut Aep, Abil memang mempunyai sifat pantang menyerah jika memiliki keinginan. Termasuk keinginannya berjualan agar bisa membeli perlengkapan sekolah dan main warnet seperti teman-teman sebayanya.

Namun Aep selalu berpesan ke Abil untuk tetap mengutamakan sekolah. “Ibaratnya mah saya udah ngasih kesempatan dia untuk berjualan. Saya tuh udah berulang-ulang kali bilang jangan jualan tapi tetap saja jualan. Abil ini emang paling gigih dan nggak maluan untuk jualan di banding kakak-kakaknya,” kata Aep.

Aep dan istri nya sendiri juga berjualan jajanan ringan untuk anak SD. Dia berjualan di SD 05 Tanjung Barat dengan penghasilan Rp 50 sampai 100 ribu rupiah perhari.

“Saya jualan juga sama istri saya di SD 05. Abil saya kasih uang saku perhari 5000 namun karena dia mau bantu saya juga jadi dia berjualan,” katanya.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: