Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Politisi Gerindra Ini Diduga Jadi Penyebab Tak Rampungnya RUU Terorisme

Muhammad Syafi'i , anggota DPR dari Gerindra

Muhammad Syafi’i , anggota DPR dari Gerindra. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto menyayangkan hingga kini DPR masih berdebat soal istilah terorisme. Padahal para pelaku teror sudah menjalankan aksinya.

Menurut Wiranto yang terpenting saat ini adalah bukan berdebat soal definisi terorisme, tetapi bagaimana melawan pelaku teror itu secara total.

“Sudah jelas terorisme definisinya adalah kekuatan yang tujuannya untuk menunjukkan eksistensinya dengan cara-cara yang sangat kejam, membunuh orang, membuat orang, masyarakat menjadi kacau panik. Menurut saya definisi itu gampang tidak terlalu urgent, artinya jangan diperdebatkan,” kata Wiranto, Minggu (28/5), seperti diberitakan Detikcom.

Menanggapi hal tersebut, ketua panita kerja (Panja) RUU Terorisme M Syafii mengatakan, pengertian terorisme masih digodok.

“Sedang dirumuskan. Ya memang sedang dirumuskan,” kata Syafii saat dihubungi, Senin (29/5/2017).

Lantas, sampai kapan pembahasan definisi terorisme disepakati? Syafii mengatakan, Panja sepakat untuk menunda pengertian terorisme sampai pasal-pasal lainnya rampung dibedah.

“Kami sepakat untuk menunda karena cakupannya sangat luas. Jadi diselesaikan dulu pasal-pasalnya, nanti baru dirumuskan definisinya,” ujar politikus Gerindra tersebut.

Lalu kini M Syafii disebut sebagai biang tak rampungnya pembahasan RUU terorisme ini. Anggota DPR dari Dapil Sumatera Utara I memang dikenal sebagai sosok kontroversial.

Syafii dituding pernah pernah “melecehkan” Presiden Jokowi yang ketika itu menghadiri sidang paripurna saat ia membaca doa saat perayaan 17 Agustus 2016 lalu. Ia bahkan pernah menyarankan pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden Jokowi karena masalah kewarganegaraan Arcandra Tahar.

Pria yang akrab disapa Romo ini merupakan salah satu tokoh yang mendukung Aksi 212 yang lalu, bahkan Romo pernah meminta Kapolri, Tito Karnavian untuk mundur bila tidak bisa menangani demo 212 secara persuasif dan manusiawi.

Mantan politisi Partai Bintang Reformasi (PBR) ini bahkan pernah mengatakan bahwa Teroris Santoso yang ditembak mati oleh Polisi di Poso merupakan Pahlawan dan Polisi di Poso sebagai teroris.

Romo bahkan pernah diprotes oleh kalangan pendeta di Pematang Siantar saat Romo menjabat sebagai Ketua Fraksi-PBR DPRDSU karena Romo melontarkan pernyataan yang sifatnya menghasut dan memprovokasi masyarakat dengan membenturkan dan mengkait-kaitkan pembentukan Propinsi Tapanuli kental dengan nuansa SARA (suku, ras, agama dan antar golongan), sehingga bisa menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.

Lalu sampai kapankah pimpinan DPR mempercayai pria yang baru saja menyebut kasus Rizieq adalah rekayasa sebagai Ketua Panja RUU Terorisme?

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan

Berita Terbaru: Aneka Info Unik

Kami tidak dapat memuat data blog saat ini.

%d blogger menyukai ini: