Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Jaksa Pasang Foto #OTTRecehan, ICW: Jadi Boleh Korupsi Recehan?

Dua orang jaksa pasang foto #OTTRecehan

Dua orang jaksa pasang foto #OTTRecehan. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Belakangan ini beredar foto jaksa memegang tulisan di kertas dengan tanda pagar (tagar) atau hashtag #OTTRecehan. Indonesia Corruption Watch (ICW) menyayangkan adanya foto tersebut. ICW menyebut, dalam pemberantasan korupsi, tak ada istilah recehan.

“Kalau Rp 10 juta recehan, yang nggak recehan berapa? Korupsi zero tolerance, apalagi penegak hukum yang melakukan. Karena merasa anggaran terbatas, terus boleh terima recehan secara tidak sah (korupsi)?” kata Koordinator Divisi Hukum dan Monitoring Peradilan ICW Tama S Langkun, Senin (12/6/2017) malam, dilansir Detikcom

Tama menyebut kalimat recehan tersebut tidak tepat. Korupsi, berapa pun besarannya, harus ditindak.

“Poinnya, kalau Rp 10 juta dibiarkan, bahkan mendapatkan pembelaan, berarti permisif terhadap perilaku korup,” sebutnya.

Jika memang jaksa tersebut kecewa terhadap rekannya yang terkena OTT, seharusnya disampaikan langsung kepada yang bersangkutan. Tak patut jika mengibaratkan OTT yang dilakukan KPK bersifat remehan.

“Tidak perlulah. Jika memang kecewa, harusnya dialamatkan kepada oknum, bukan pada recehannya,” terangnya.

Meski demikian, Tama punya pesan kepada seluruh jaksa di Indonesia. “Semoga teman-teman kejaksaan lainnya tetap semangat,” ungkapnya

Sebelumnya, ada 2 foto dengan hashtag #OTTRecehan beredar di media sosial. Seorang jaksa pria dan seorang jaksa wanita terlihat memegang sebuah kertas bertuliskan rasa kekecewaan.

“Kami terus bekerja walau anggaran terbatas, kami tetap semangat walau tanpa pencitraan. Kinerja kami jangan kamu hancurkan dengan #OTTRecehan,” tulis salah satu tulisan di foto itu.

“Sudah ribuan perkara korupsi kami tangani, sudah trilyunan uang negara kami selamatkan. Kinerja kami jangan kamu hancurkan dengan #OTTRecehan,” demikian tulisan di foto lainnya.

Oknum jaksa yang disebut Rum merupakan Parlin Purba yang menjabat sebagai Kasi III Intel di Kejati Bengkulu. Dia ditangkap KPK bersama 2 orang lainnya yaitu Amin Anwari dan Murni Suhardi.

Mereka ditangkap KPK pada Jumat, 9 Juni lalu, di Bengkulu. Parlin diduga menerima suap dari Amin dan Murni berkaitan dengan pengumpulan data dan bahan keterangan serta proyek-proyek yang ada di Balai Wilayah Sungai Sumatera VII Bengkulu.

KPK menyita uang Rp 10 juta dalam OTT itu. Namun KPK menyebut Parlin sebelumnya telah menerima Rp 150 juta terkait hal serupa.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: