Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Blak-blakan Ke TIME, Novel Sebut Jenderal Polisi Terlibat Penyerangannya

Novel Baswedan saat dipindahkan ke RS Jakarta Eye Center

Novel Baswedan saat dipindahkan ke RS Jakarta Eye Center. (Tribunnews.com)

Anekainfounik.net. Teror penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan menjadi sorotan media internasional. Penyidik senior KPK itu sampai-sampai disebut sebagai penyidik perkara korupsi papan atas oleh majalah TIME, dalam sebuah artikel berjudul “‘I Don’t Want to Be Sad’: Indonesia’s Top Graft Buster Talks to TIME From His Hospital Bed“, Selasa (13/6)..

Time mewawancarai Novel di ruang perawatannya di Singapura pada 10 Juni 2017 yang lalu. Novel pun buka-bukaan terkait teror yang menimpanya itu. Novel merasa 2 bulan penyelidikan kasusnya yang tanpa hasil membuatnya mengafirmasi akan informasi awal terkait siapa dalang atas teror yang menimpanya itu.

“Sebenarnya saya sudah menerima informasi bahwa seorang jenderal polisi–seorang pejabat polisi tingkat atas–telah terlibat. Awalnya, saya mengatakan informasi itu bisa saja salah. Namun kini, ketika telah 2 bulan berlalu dan kasus tersebut belum juga terpecahkan, saya katakan, perasaan terhadap informasi itu bisa saja benar,” ucap Novel kepada Time seperti dilansir time.com, Rabu (14/6/2017).

Proses penyembuhan mata Novel pun masih dilakukan, tetapi Time mengatakan Novel duduk di ranjangnya dengan mata terbuka tetapi penglihatannya kabur.

Menurut Novel, siraman air keras itu merupakan serangan keenam kalinya yang pernah terjadi pada dirinya. Pada 2011 lalu, Novel menuturkan, sebuah mobil melaju dan memepetnya yang sedang mengemudikan sepeda motor.

Media Time menyebut Novel sebagai seorang penyidik KPK yang tidak pantang menyerah demi menjalankan tugas-tugasnya memerangi korupsi. Reputasi ini membuatnya menjadi target kekerasan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan KPK.

“Saya tidak mau bersedih hati,” ujar Novel Baswedan dengan gelak tawa, “Kapanpun kita berkomitmen melawan (korupsi) demi rakyat, demi orang banyak, maka hasilnya kita bisa dimusuhi, diserang,” jelasnya.

Karena itu, Novel sangat berkeinginan untuk dapat kembali pulih sehingga bisa meneruskan pekerjaan-pekerjaannya di KPK. Saat diwawancari Time, Novel Baswedan ditemani ibundanya yang terus-menerus memberikan semangat kepada anak terkasihnya itu.

Novel Baswedan mengaku sudah tahu bahwa Presiden Jokowi menginstruksikan prioritas penyelidikan atas kasusnya. Dia berharap, Presiden mengevaluasi perkembangan penyelidikan kasus ini yang telah berjalan dua bulan lamanya tetapi belum mengungkapkan seorang pun tersangka.

“Jika ada seseorang di pemerintahan yang berjuang melawan korupsi, diserang berkali-kali, tetapi kasusnya tidak jelas-jelas juga, maka itu menjadi satu masalah buat negeri ini. Setelah saya, ke depannya siapa lagi (yang menjadi korban)?”

Novel diserang pada 11 April 2017 seusai menunaikan salat subuh di masjid di dekat kediamannya di Jakarta Utara. Setelah itu, polisi terus mencari pelaku penyiraman air keras itu dan berhasil mengamankan setidaknya empat orang.

Namun tidak ada satu pun terduga pelaku itu dijerat dengan pidana lantaran mereka dinyatakan tidak terbukti terlibat. Polisi pun sampai saat ini masih melakukan penyelidikan.

Tanggapan Polri

Polri meminta Novel melaporkan hal itu untuk ditindaklanjuti kebenarannya. Apabila tidak dilaporkan, dikhawatirkan hal itu sekadar tuduhan tanpa bukti.

“Informasi-informasi yang dianggap penting oleh Saudara Novel hendaknya disampaikan kepada penyidik supaya tidak terjadi sebuah tendensi atau tudingan karena informasi itu kan harus diuji,” ungkap Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul di gedung Divisi Humas, Mabes Polri, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (14/6/2017), dilansir Detikcom.

“Kalau diberikan kepada penyidik, kita akan teruskan, kita akan selidiki benar-nggaknya. Dari mana alur-alurnya, fakta-fakta apa yang mendukung pernyataan itu, jadi prinsipnya harus diserahkan ke polisi,” ucap Martinus dengan tegas.

Menurut Martinus, jika dipublikasikan tapi tak diserahkan secara formal kepada kepolisian melalui format berita acara, nilai informasi tersebut nihil di mata hukum.

“Jadi kalau tidak disampaikan (ke polisi, red), kemudian disampaikan ke publik informasi, itu katakanlah tidak bernilai ya. Kalau menuding seseorang kan harus kita bisa dapat faktanya, waktunya kapan, pukul berapa, di mana, siapa perwiranya,” ujar Martinus.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: