Iklan
//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Saat Gajah Mada Disebut Muslim dan Bernama Asli Gaj Ahmada

Gajah Mada berubah menjadi Gaj Ahmada

Meme Gajah Mada berubah menjadi Gaj Ahmada. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Setelah beberapa waktu yang lalu, Candi Borobudur disebut peninggalan Nabi Sulaiman dan vaksin disebut berasal dari enzim babi, klaim bombastis kembali viral di media sosial yang memanfaatkan sentimen fanatik terhadap agama. Terakhir, beredar tulisan ‘cocoklogi’ mengenai sosok ‘Gaj Ahmada’ yang dianggap sosok sejati Gajah Mada, mahapatih Kerajaan Majapahit.

Bahkan, ‘Gaj Ahmada’ menjadi salah satu topik terpopuler di Twitter hingga Jumat (16/6/2017). Viralnya kabar hoax ini berawal dari status pemilik akun Facebook bernama ‘Arif Barata’ yang diunggahnya pada Selasa (13/6/2017). Status itu sendiri kemudian dihapusnya.

Yang membuat netizen terkecoh adalah Arif, yang merupakan alumni Teknik Sipil Universitas Islam Malang (Unisma) tersebut mengklaim tulisannnya itu berasal dari penelitian yang dilakukan Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta.

Arif menyebut Majapahit bukanlah kerajaan Hindu-Budha, melainkan kesultanan Islam.

Beberapa asumsi yang diajukan yaitu temuan koin emas di masa kerajaan Majapahit yang bertuliskan La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah. Yang cukup ekstrem, asumsi yang diajukan ialah agama panglima kerajaan Majapahit Gajah Mada.

“Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Patih Gajah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada (terlihat lebih Islami, bukan?). Hanya saja, orang Jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut.

Mereka menyebutnya Gajahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakangan ditulis terpisah menjadi Gajah Mada (walaupun hal ini salah). Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon, kekuasaannya sampai ke Malaka (sekarang masuk wilayah Malaysia).”

”Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.”

Status Facebook Arif Barata soal Gaj Ahmada

Status Facebook Arif Barata soal Gaj Ahmada

Poin-poin tersebut ini tentu berbeda dengan sejarah umum yang menyebut Majapahit adalah kerajaan Hindu, begitu juga dengan agama yang dianut Gajah Mada.

Cerita hoax itu langsung mendapat banyak bantahan. Salah satunya datang dari LHKP Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang namanya dicatut.

“Belum ada laporan ‘penelitian’ itu ke LHKP Pusat mengenai detail penelitian dan apa kesimpulannya. Sehingga kami belum bisa menilai apakah hasil penelitian itu valid atau tidak,” kata Sekretaris LHKP Pimpinan Pusat Muhammadiyah Rohim Ghazali, seperti diberitakan Dream.co.id, Jumat.

Penelitian sejarah, kata Rohim, memiliki bias ideologi. Untuk itu, dalam kasus itu, dia meyakini ada faktor ideologi yang dianut ‘peneliti’ tersebut.

“Saya yakin disitu ada bias ideologi,” ucap dia.

Bantahan juga datang dari Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia Nahdlatul Ulama (Lesbumi NU) lewat akun resmi Facebooknya:

“Viral tulisan tersebut sangat dimungkinkan didasarkan pada buku berjudul Kesultanan Majapahit ditulis oleh Herman Sinung Janutama, lulusan UMY Yogyakarta yang menulis buku tersebut tanpa didasari keilmuan selain otak-atik gathuk alias cocoklogi. Jika nama GAJAH MADA dipaksakan menjadi bahasa Arab Gaj Ahmada, pertanyaannya adalah memangnya hal tersebut dapat ditemui ada dalam prasasti, naskah kuno Negara kretagama? Atau ada dalan kitab Pararaton, Kidung Sunda, Usana Jawa? Apakah ada satu saja yg menulis Kosa Kata Jawa ” Gaj” dan ” Ahmada” ? Lalu apa arti kosa kata ” Gaj” ? Ia merupakan kosa kata Jawa atau Arab?. Lalu apa arti dari kata Ahmada? Adakah orang Arab memakai nama Ahmada?”

Herman Sinung Janutama memang pernah menulis buku ‘Majapahit Kerajaan Islam’. Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Yogyakarta Ashad Kusuma Djaya buka suara soal hal itu.

“Penelitian dilakukan oleh Mas Herman dan dibuat kajiannya oleh LHKP, dengan mendatangkan beberapa pembanding. Hasil kajian itu ditulis menjadi buku,” ujar Ashad kepada detikcom, Sabtu (17/6/2017).

Ashad mengatakan Herman bicara banyak soal viral Gaj Ahmada tersebut di wall Facebooknya. Penjelasan Herman soal kekeliruan Gaj Ahmada ada di komentar-komentar pada status Ashad.

Dalam komentarnya di Facebook, Herman menegaskan bahwa informasi viral itu amat berbeda dengan buku yang dia tulis.

“Sepanjang bacaan kami status viral tersebut beberapa hal tidak terdapat pada buku kami. Misalnya penjelasan tentang GAJ-AHMADA. Dalam buku tertulis GAJAH-AHMADA. Leburan suku kata AH dalam bentukan kata GAJAHMADA adalah hukum GARBA dalam gabungan 2 kata atau lebih dalam kawi atau sansekerta. Dalam kasanah Jawa, tidak mungkin diizinkan kata GAJ, yang mematikan konsonan JA. Sebagaimana suku kata WA juga tidak diizinkan dimatikan, hanya W saja. Tapi dalam viral tidak begitu membabarkannya….,” tulis Herman pada dini hari tadi.”

Dia kemudian menjelaskan pula mengenai lambang Surya Majapahit di makam Pusponegoro. Menurutnya lambang yang disematkan di sana terdapat di makam keturunan Raja-raja Majapahit.

“Kami juga diminta menjelaskan oleh salah satu pusat studi di UGM. Saya matur bahwa persoalan serius yang dibabar dalam buku Kesultanan Majapahit terletak pada kritik metodologi dalam menelitinya. Bagaimana obyek material menggunakan metode, sehingga mendapatkan data…. Tapi hal begini menurut saya tidak mungkin diterangkan dalam diskusi viral demikian,” ungkap dia.

Netizen sendiri menanggapi tulisan tersebut. Sebagian besar menjadikan tulisan tersebut menjadi lelucon dengan menyertai meme seperti berikut ini.

Akun Twitter @berhalanada secara satire menyandingkan ‘Gaj Ahmada’ dengan sejumlah pemikir kelas dunia yang juga namanya dibuat jadi pelesetan.

Akhirnya, kita akan tahu bahwasanya Gaj Ahmada adalah karib dari Fauzan Nietzsche, Ahmad Al Marx, Lenin Abd Al Salam, Che Al Ghivara dkk,” tulis @berhalanada.

Sementara akun @Anton_djakarta berlagak menjadi sejarawan dengan menuliskan lelucon, “dulu pasukan Gaj Ahmada selalu membawa koki dari Tartar namanya A Koen, dia jago banget bikin bakmi.

Sedangkan akun @digembok mengkritik klaim tersebut karena tak sesuai dengan gambaran Gajah Mada yang terdapat pada patung-patung.

Bilangin sama yang bikin, gambarnya (Gaj Ahmada) salah. Masa Syech Gaj Ahmada pakaiannya tidak menutup aurat,” tulisnya.

Akun @ariomazda menuliskan komentar yang terbilang serius. Menurutnya, klaim tersebut hanya untuk mengetes daya kritis warga Indonesia.

Saya sedikit berharap bahwa kasus bumi datar, anti-vaksin, dan Gaj Ahmada ini sebenarnya hanya prank untuk mencek kadar IQ orang Indonesia,” tulisnya.

Netizen lain bahkan menjadikan lelucon yang menyebut perubahan nama Universitas Gadjah Mada (UGM). Kampus yang dijuluki Kampus Biru itu tak akan lagi memiliki kependekan UGM melainkan UGA alias Universitas Gaj Ahmada.

Bahkan, beberapa warganet iseng menyebut alumni UGM yang bernama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) harus mengganti namanya menjadi Keluarga Alumni Universitas Gaj Ahmada (KAGA AH).

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: