Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Buntut PT 20-25%, Jokowi Mungkin Lawan Kotak Kosong di Pilpres 2019

Presiden Jokowi disebut sudah kantongi tiket Pilpres 2019

Presiden Jokowi disebut sudah kantongi tiket Pilpres 2019. (Setkab)

Anekainfounik.net. DPR telah mengesahkan UU Pemilu dengan ambang batas capres atau presidential threshold (PT) 20-25 persen. Artinya syarat parpol/gabungan parpol bisa mengusung capres adalah memiliki 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional di pemilu sebelumnya, Pemilu 2014.

Dengan PT 20-25% ini, Presiden Joko Widodo sudah mengantongi tiket sebagai capres 2019 menyusul sudah adanya 3 parpol yang menyatakan akan kembali mendukungnya. Tiga Parpol yang sudah menyatakan akan mendukung Jokowi di Pilpres 2019 adalah Golkar, NasDem, dan PPP. Dengan UU pemilu yang baru, maka perolehan suara tiga parpol itu di Pemilu 2014 sudah cukup bagi Jokowi untuk maju ke Pilpres 2019.

Di Pemilu 2014, Golkar meraih 14,75 persen suara, Nasdem 6,72 persen suara, dan PPP 6,53 persen suara. Gabungan suara ketiga parpol yaitu 28 persen perolehan suara di Pemilu 2014. Artinya meski tanpa PDIP, Jokowi sudah punya tiket ke Pilpres 2019 dari dukungan ketiga parpol itu.

Lalu siapa bakal menjadi lawan Jokowi di 2019?

Nama yang santer untuk menjadi lawan Jokowi adalah Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto. Bila keadaan seperti ini, keadaan pun akan kembali terulang seperti Pilpres 2014.

PKS sudah memberi sinyal siap bergandengan tangan lagi dengan Gerindra jika PT 20-25 persen dinyatakan sah oleh Mahkamah Konstitusi, jika nanti ada yang menggugat. Dengan niat Gerindra kembali mengusung Prabowo Subianto, maka terbuka peluang duel Jokowi vs Prabowo terulang di Pilpres 2019.

Namun Gerindra ternyata juga memiliki kekhawatiran gagalnya Prabowo kembali nyapres. Presidential threshold yang diatur dalam UU Pemilu baru dianggap akan menjadi penghalang bagi Gerindra.

Ambang batas 20-25% di UU Pemilu maksudnya adalah 20 persen perolehan kursi di DPR dan 25% perolehan suara nasional dalam pemilu. Gerindra akan kesulitan memenuhi angka 20% bila ingin mengajukan Prabowo sebagai capres.

Baca juga: Kekhawatiran Gerindra Prabowo Tak Bisa Nyapres

Sebab perolehan kursi di DPR Gerindra bila digabungkan dengan PKS belum juga cukup memenuhi syarat 20%. Gerindra juga disebut hampir mustahil untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat agar bisa menambah syarat presidential threshold.

“Kalau kita cuma sama PKS, kalau 20% nggak cukup, kalau ditambah sama PAN kita cukup. PKS nggak sampe 7%, hanya 5,5% kalau nggak salah. Gerindra 12%. PAN 7%, Demokrat 10%, nggak cukup juga itu kalau Demokrat dan PAN berdua aja. Kalau berempat berarti cukup tapi belum tentu sama platform-nya,” terang Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono, Jumat (21/7).

“Kadang kan dalam perhelatan pemilihan kepala daerah atau pilpres, Demokrat nggak mau ikut kita, mungkin karena SBY dan Pak Prabowo nggak mau nyatu. Pilpres 2014 nggak ke kita,” lanjutnya.

Arief menyebut pemerintah ngotot meminta angka tersebut karena ingin memunculkan calon tunggal yaitu Jokowi. Dia juga mengatakan akan sangat sulit memunculkan capres alternatif di 2019 dengan kondisi politik seperti itu.

“(Capres alternatif) sangat sulit, misal Gatot (Panglima TNI Gatot Nurmantyo, red) mau maju, lewat partai apa? Sementara pak Jokowi sudah hampir selesai melakukan konsolidasi partai,” kata dia.

“Setya Novanto (Ketum Golkar) dalam tekanan, lainnya sudah bisa dikatakan pengikut. Romi (Ketum PPP Romahurmuziy) juga sudah dapat sah sebagai pengurus partainya. Semua terlihat dalam koalisi Ahok kemarin,” sambung Arief.

PT dalam UU Pemilu dinilainya sebagai bentuk ketakutan Jokowi dalam menghadapi Pilpres 2019. Arief mengatakan Jokowi tak ingin jalannya kembali ke kursi RI 1 dijegal lawan kuat.

“Ini ketakutan pak Jokowi, sangat takut dia. Satu ingin calon tunggal, kedua hanya ingin mengganjal pak Prabowo dan calon-calon alternatif. Calon alternatif sulit lahirnya. Padahal calon alternatif presiden dibutuhkan untuk menguji demokrasinya Indonesia,” ucapnya.

“Selama pak SBY nggak mau berjuang dengan pak Prabowo, ini akan ada calon tunggal saja, lawannya cuma kotak kosong. PT 20 ini melahirkan calon tunggal yaitu Joko Widodo,” tutup Arief.

Lantas siapakah yang akan muncul menjadi lawan Jokowi di 2019 nanti?

Gerindra bisa saja merayu salah satu partai dalam yang tergabung dalam Koalisi Indonesia Hebat (KIH)seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang menyatakan belum pasti mendukung Jokowi di Pilpres 2019. Namun, itu adalah pernyataan pribadi salah satu petinggi PKB. Faktanya PKB hingga hari ini masih setia mendukung kepemimpinan Jokowi-JK termasuk mendukung Perppu Ormas dan UU Pemilu.

Jika demikian,mau tidak mau SBY dan Prabowo harus berkoalisi sebagai kubu penantang Jokowi. Kedua pihak harus menghilang ego masing-masing untuk menghindari Jokowi melawan kotak kosong di 2019

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: