Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Soal Bayi Debora, RS Mitra Keluarga Hanya Diberi Sanksi Sosial?

RS Mitra Keluarga, Kalideres

RS Mitra Keluarga, Kalideres. (Foto: Anggi Dwiky Dermawan/kumparan)

Anekainfounik.net. Berbagai pihak geram dengan sikap RS Mitra Keluarga, Kalideres yang menolak penanganan bayi Debora karena alasan tidak melayani pasien BPJS. DPRD DKI memandang pihak Dinas Kesehatan DKI harus segera memberi sanksi kepada pihak rumah sakit.

“Sekarang atas kejadian itu Dinas Kesehatan harus memberikan sanksi kepada rumah sakit itu,” kata Anggota Komisi A DPRD DKI Gembong Warsono, di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Minggu (10/9), dilansir Kumparan.com.

Soal sanksi, Gembong pun menyerahkan kepada pihak Dinas Kesehatan. “Di Dinas Kesehatan pasti sudah ada regulasi soal itu (sanksi).Pasti ada mengatur itu,” kata Gembong

Diketahui pekan lalu, bayi Debora yang tengah sakit dibawa ke RS Mitra Keluarga. Namun, RS Mitra Keluarga menolak menangani Debora karena keluarga Debora datang hanya bermodalkan BPJS dan uang Rp 5 juta. RS Mitra Keluarga yang tidak bermitra dengan BPJS pun menolak memberi penanganan maksimal ke Debora.

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI. YLKI meminta tindakan tegas jika rumah sakit tersebut terbukti menelantarkan bayi Debora.

“Sudah sepatutnya Pemprov DKI Jakarta dan Kemenkes mengusut tuntas kasus ini, dan memberikan sanksi tegas kepada pihak rumah sakit, jika terbukti pihak rumah sakit melakukan pelanggaran,” kata Ketua YLKI, Tulus Abadi dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 10 September 2017, seperti diberitakan viva.co.id.

Menurut Tulus, RS Mitra Keluarga Kalideres patut diduga telah menelantarkan bayi Debora, yang berujung pada meninggalnya balita tersebut.

Seharusnya, kata dia, RS Mitra Keluarga menolong dengan fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU), bukan malah mendorong pasien untuk ke rumah sakit lain dengan alasan pasien tidak mampu menyediakan sejumlah uang yang ditentukan.

“Adalah sebuah pelanggaran regulasi dan kemanusiaan jika pihak rumah sakit menolak pasien dengan alasan pasien tidak mampu membayar uang muka yang ditentukan, sementara kondisinya sudah gawat,” ujarnya.

Sementara, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menyatakan , sanksi sosial sangat tepat, sebab undang-undang yang ada saat ini dinilai masih lemah dalam mengontrol rumah sakit yang tidak manusiawi tersebut.

“Sanksi sosial terhadap rumah sakit tersebut paling tepat. Jangan berobat ke rumah sakit yang tidak manusiawi,” kata politisi PDI Perjuangan itu.

Dia pun menyayangkan tindakan pihak rumah sakit yang mengetahui kondisi bayi Debora, namun tidak menangani terlebih dahulu dan malah memberikan rujukan ke rumah sakit lain.

“Mari kita cegah jangan sampai muncul Debora-Debora lain, bayi dalam keadaan gawat darurat tetapi rumah sakit tidak mau memproses atau memberikan pengobatan,” ucap Tjahjo.

Lebih lanjut dia mengatakan, Senin (11/9/2017) besok Kementerian Dalam Negeri melalui Sekjen dan Direktorat Jenderal terkait akan membuat surat kepada bupati dan wali kota dengan tembusan ke gubernur.

Surat itu akan meminta pemerintah daerah memonitor dan memberikan penyuluhan kepada rumah sakit swasta untuk tidak menolak pasien yang memerlukan tindakan darurat atau emergency.

“Demikian juga RSUD dan rumah sakit swasta wajib memberikan pengobatan kepada warganya,” ujar Tjahjo.

Meninggalnya bayi Debora, kata Tulus, makin menunjukkan ironi rumah sakit yang seharusnya dikelola dengan basis kemanusiaan dan tolong menolong, tetapi justru dikelola dengan basis komersial.

Bayi Debora meninggal dunia di ruang UGD RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, karena diduga telat mendapatkan penanganan, Minggu 3 September 2017.

Kasus ini pertama kali menjadi perhatian publik setelah seorang warganet, Birgaldo Sinaga mengunggah kasus meninggalnya bayi Debora di akun Facebook.

https://web.facebook.com/BirgaldoS/posts/1919056764973793

Birgaldo mengaku diminta orangtua Debora, Henny, untuk menceritakan kisahnya yang berjuang menyelamatkan nyawa anaknya. Henny mengatakan, dia harus menyediakan biaya senilai Rp19,8 juta agar Debora bisa dirawat di fasilitas PICU.

Karena Henny hanya punya uang sebanyak Rp5 juta, RS Mitra Keluarga menolak menangani bayi Debora. Sang ibu sempat memohon-mohon kepada rumah sakit untuk menyelamatkan anaknya terlebih dahulu.

Henny berjanji sisa uang yang harus dibayarkan akan segera dilunasinya. Namun, RS Mitra Keluarga tetap menolak menangani buah hatinya. Bayi Debora sudah dimakamkan di TPU Tegal Alur.

Klarifikasi RS Mitra Keluarga

RS Mitra Keluarga Kalideres, Jakarta Barat, membantah menolak penanganan medis terhadap Debora, bayi empat bulan yang meninggal dunia pada 3 September lalu.

Menurut klarifikasi RS Mitra Keluarga tersebut, bayi Debora dengan berat 3,2 kilogram datang ke IGD Mitra Keluarga Kalideres pada 3 September pukul 03.40 WIB dalam keadaan tidak sadar, kondisi tubuh sangat membiru, dengan riwayat lahir prematur, riwayat penyakit jantung bawaan (PDA) dan keadaan gizi kurang baik.

Rumah sakit kemudian melakukan sejumlah penindakan penyelamatan nyawa bayi Debora, yakni penyedotan lendir, memasang selang ke lambung dan intubasi, infus dan memberi pengencer dahak.

Saat bayi Debora dirawat, proses pengurusan administrasi dilakukan. Karena orang tua Debora punya BPJS, maka dokter RS Mitra Keluarga menawarkan agar buah hatinya di rujuk ke RS yang bekerja sama dengan BPJS. Meski sempat kesulitan mendapatkan tempat di RS lain, tapi akhirnya jam 09.15 keluarga mendapatkan tempat di salah satu RS yang bekerja sama dengan BPJS.

Tapi kala ingin dipindahkan, kondisi bayi Debora memburuk.

“Dokter segera melakukan pertolongan pada pasien. Setelah melakukan resusitasi jantung paru selama 20 menit, segala upaya yang dilakukan tidak dapat menyelamatkan nyawa pasien,” demikian klarifikasi RS Mitra Keluarga Kalideres.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: