Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Gelar Diskusi 1965, LBH Jakarta Sengaja Beri ‘Umpan’ untuk Serang Jokowi?

Suasana kantor LBH Jakarta saat diserang

Suasana kantor LBH Jakarta saat diserang. (Twitter @savicali)

Anekainfounik.net. Ratusan orang mengepung kantor YLBHI di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, pada Minggu (17/09) malam hingga Senin (18/09) dini hari karena menuding YLBHI menggelar diskusi soal kebangkitan PKI.

Situasi semakin memanas ketika massa semakin beringas dengan melemparkan batu ke arah kantor YLBHI dan mengakibatkan beberapa kaca pecah. Bentrokan antara aparat kepolisian dan massa pengepung pun tak bisa dihindari.

Dalam insiden tersebut, beberapa anggota polisi terluka dan 22 orang yang diduga oknum provokator ditangkap aparat dan masih menjalani pemeriksaan di Mapolres Metro Jakarta.

Seorang perwakilan dari Jaringan Gusdurian, Savic Ali mengunggah rekaman video penyerangan tersebut melalui akun Twitter miliknya, @savicali. Terlihat, ada orator yang mengaku dari Bang Japar dan FPI.

Hal ini tentu mengherankan karena selama ini LBH Jakarta dengan kedua ormas tersebut selalu akur. Apalagi, mereka dikenal sebagai oposan Jokowi sejak menjadi Gubernur DKI.

Lagipula, dua ormas ini adalah pendukung Anies Baswedan di Pilkada DKI tahun lalu. Sebelum terpilih, Anies Baswedan mengunjungi Imam Besar FPI, Rizieq Shihab–yang kini kabur dari kasusnya–di markas FPI, setelah terpilih Anies juga menghadiri acara Lebaran dengan FPI dan peresmian Bang Japar yang dibentuk oleh Fahira Idris.

Yang patut dicatat selama Pilkada DKI, Anies Baswedan kerap menyerang Ahok dengan isu penggusuran yang data-datanya berasal dari hasil kliping LBH Jakarta dari surat-surat kabar. (Baca: Kompas.com-LBH Jakarta: Ahok Mungkin Pecahkan Rekor Penggusuran oleh Pemprov DKI)

Tapi kini, justru ada yang mengaku pendukung Anies Baswedan ini mendemo LBH Jakarta dengan menggoreng isu PKI.

Ada apa ini?

Akun Twitter @joxzin_jogja, Beberapa kali LBH Jakarta memang memberi umpan lambung pada gerombolan oposisi Jokowi termasuk dua hari (17-18/09) untuk ormas anti Jokowi dan lawan politik mendapatkan momentum untuk memobilisasi massa.

LBH Jakarta dinilai sengaja menggelar diskusi sejarah 1965, yang mereka tahu, pasti menimbulkan reaksi negatif dari purnawirawan TNI dan ormas Islam tertentu. LBH Jakarta tentu tahu lawan Jokowi sering menggunakan isu PKI dan komunisme untuk menyerang, selain isu lain seperti Rohingya, anti Islam dan tenaga kerja asal Tiongkok.

Yang membuat kita semakin bertanya-tanya adalah momen yang dipilih mendekati peringatan G30S- PKI di akhir September. Hal ini seperti bahan bakar yang segera disambar oleh lawan Jokowi sehingga tercipta momentum untuk mengail di air keruh.

Diskusi ini digelar dengan tameng kebebasan berdemokrasi. Tapi, siapa yang bisa menjamin elite LBH Jakarta bebas dari kepentingan politik? Mereka membuat posisi polisi berada dalam keadaan dilematis. Jika polisi tak melarang diskusi tersebut, polisi akan berhadapan dengan purnawirawan TNI dan ormas tersebut.

Pihak kepolisian akhirnya memilih meminta diskusi tidak dilakukan mereka akan segera angkat isu #daruratdemokrasi yang lalu menjadi trending topic di media sosial.

Tak hanya itu, pelarangan diskusi itu menjadi alasan LBH Jakarta menyerang Presiden Jokowi dengan mengaitkan pernyataan Jokowi yang pernah menyebut “Gebuk PKI” sehingga tercipta opini rezim otoriter dan diktator, seperti yang dinyatakan Fadli Zon terkait penerbitan Perppu Ormas.

Menurut @joxzin_jogja, cara yang dilakukan ini mirip dengan metode yang dilakukan Obor Rakyat pada Pilpres 2014 yang lalu. Sehingga tercipta penggiringan opini bahwa PKI itu nyata. Bahkan kini, beredar meme dan opini yang menyebut polisi menggebuk massa anti PKI, seperti disebarkan media online ini.

Siapa yg mendapatkan keuntungan dari permainan isu PKI ini? Dalangnya sama, penggerak Obor rakyat. Mereka ingin mendapatkan keuntungan politik dengan menurunnya elektabiltas Jokowi karena Jokowi akan dijauhi oleh umat Islam. Bahkan mereka mengharapkan terjadi kerusuhan sehingga Jokowi lengser dan digantikan Panglima TNI Gatot Nurmantyo, yang akhir-akhir ini bermanuver sebagai tokoh anti komunisme.

Jadi maklum saja jika isu ini terus digembor-gemborkan hingga Pilpres 2019. Cara yang tak sehat untuk demokrasi kita.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: