Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Bohong Soal Prestasi Antariksa, Dwi Hartanto: Maaf, Saya Khilaf

Dwi Hartanto yang berbohong soal prestasinya.

Dwi Hartanto yang berbohong soal prestasinya. (Kumparan.com)

Anekainfounik.net. KBRI Den Haag mencabut penghargaan kepada mahasiswa doktoral di Belanda, Technische Universitet (TU) Delft, Dwi Hartanto karena yang bersangkutan kedapatan berbohong dengan aneka klaim prestasinya di bidang antariksa yang selama ini diberitakan media online seperti dimuat Detikcom, Batam Pos dan Liputan6com.

Selama ini kabar mengenai Dwi lekat dengan cerita manis mulai mengenai pretasinya dalam membuat Satellite Launch Vehicle/SLV (Wahana Peluncur Satelit) sampai menang di Kompetisi Antar-Space Agency Luar Angkasa. Muncul juga klaim bahwa dia mengantongi paten di bidang di bidang spacecraft technology, termasuk mengklaim terlibat dalam penyempurnaan teknologi pesawat tempur Eurofighter Typhoon generasi anyar milik Airbus Defence. Alhasi, julukan the next Habibie pun sempat dialamatkan kepada dirinya.

Dilansir Detikcom, sebelum pencabutan dilakukan KBRI Den Haag seperti tercantum dalam situs resmi KBRI Belanda, muncul dokumen ‘investigasi mandiri’ mengenai klaim prestasi-prestasi Dwi Hartanto yang selama ini muncul di permukaan. Dokumen investigasi itu menepis mentah-mentah klaim Dwi Hartanto mulai dari pertemuan dengan BJ Habibie, latar belakang S1 sampai prestasi di bidang antariksa.

Setelah melalui proses demi proses, Dwi akhirnya mengakui mengenai kebohongan klaim prestasinya tersebut. Dwi pun meminta maaf dan mengaku khilaf.

“Saya mengucapkan permohonan maaf sebesar-besarnya pada semua pihak yang telah dirugikan atas tersebarnya informasi-informasi yang tidak benar terkait dengan pribadi, kompetensi, dan prestasi saya,” ujar Dwi dalam surat bermaterai yang ditandatanganinya dan dipublikasikan di situs resmi PPI Delf pada Sabtu (7/10) kemarin.

“Saya mengakui dengan jujur kesalahan/kekhilafan dan ketidakdewasaan saya, yang berakibat pada terjadinya distorsi informasi atau manipulasi fakta yang sesungguhnya secara luas yang melebih-lebihkan kompetensi dan prestasi saya. Saya sangat berharap bisa berkenan untuk dibukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya,” ujar Dwi.

Dwi juga mengungkap jati dirinya yang sebenarnya. Dia mengakui bukan lulusan sarjana dari kampus luar negeri sebagaimana yang ramai tersiar luas.

“Fakta-fakta pertama terkait dengan latar belakang akademik saya. Saya adalah lulusan SI dari Insititut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta, Fakultas Teknologi Industri, Program Studi Teknik Informatika, lulus pada 15 November 2005. Saya bukan lulusan dari Tokyo Institute of Technology, Jepang, seperti informasi yang banyak beredar,” kata Dwi dalam pernyataanya.

Kemudian, Dwi menempuh program master S2 di Faculty of Electrical Engineering, Mathematics and Computer Scien di TU Delft. Dia menggarap tesis berjudul ‘Reliable Ground Segment Data Handling System for Delf-n3Xt Satellite Mission’, di bawah bimbingan Dr. Ir. Georgi Gaydadjiev. Tesis itu selesai pada Juli 2009.

“Penelitian master saya ini memang beririsan dengan sistem satelit, tetapi dalam kaitan dengan bagian satellite data telemetri dan ground segment networii platform-nya,” ujar Dwi.

Kemudian Dwi melanjutkan studi di TU Delft. Namun dia mengambil konsentrasi yang tidak berkaitan dengan dunia antariksa maupun teknologi jet tempur, sebagaimana yang dijadikan klaimnya selama ini.

“Saat ini saya tengah menyelesaikan studi S3 saya di grup riset interactive Intelligence, Dept of Intelligent Systems, pada Fakultas yang sama di TU Delft, di bawah bimbingan Prof. M.A. Neerincx dengan judul disertasi ‘Computer-based Social Anxiety’ Regulation in Virtual Reality Exposure Therapy,” kata Dwi.

“Dengan demikian, posisi saya yang benar adalah seorang mahasiswa doktoral di TU Delft. Informasi mengenai posisi saya sebagai post-doctoral apalagi Assistant Professor di TU Delft adalah tidak benar,” sambungnya.

Dalam pengakuannya, Dwi juga mengaku bahwa dirinya bukanlah perancang Satellite Launch Vehicle. Ia juga tidak pernah membuat roket bernama TARAV7s (The Apogee Ranger versi 7s).

“Yang benar adalah bahwa saya pernah menjadi anggota dari sebuah tim beranggotakan mahasiswa yang merancang salah satu subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE (Delf Aerospace Rocker Engineering), yang merupakan bagian dari kegiatan roket mahasiswa di TU Delft),” kata Dwi.

Proyek itu tidaklah datang dari Kementerian Pertahanan Belanda, Pusat Kedirgantaraan dan Antariksa Belanda (NLR), Airbus Defence atau Dutch Space, melainkan hanya proyek roket amatir mahasiswa.

NLR dan lembaga lain berperan sebagai sponsor terkait dana riset dan bimbingan.

Pemabahasan roket itu juga dikemukakan dalam program televisi Mata Najwa. Saat itu, Dwi mengatakan proyek roket strategisnya digunakan pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Dwi menuturkan perannya sebagai technical director.

“Peranan teknis saya saat itu adalah pada pengembangan flight control module dari roket tersebut. Dengan demikian bahwa saya satu-satunya orang non-Eropa yang masuk dalam ring 1 teknologi ESA (European Space Agency) adalah tidak benar,” kata Dwi.

Kebohongan Dwi lainnya adalah saat ia mengaku sebagai pemenang lomba riset teknologi antar lembaga penerbangan dan antariksa dari seluruh dunia di Cologne, Jerman. Bila benar, ia berhasil mengalahkan para peneliti dari NASA (Amerika), ESA (Eropa), dan JAXA (Jepang) dan beberapa lembaga lainnya.

Dwi menuturkan bahwa dirinya juara dalam bidang riset Spacecraft Technology. Ia membuat riset berjudul “Lethal Weapon in the Sky”. Dari riset ini ia juga membuat paten bersama timnya.

Kenyataannya, Dwi tak pernah mengikuti lomba tersebut. Dwi justru memanipulasi template cek hadiah, menuliskan namanya, membubuhkan nominal hadiah sebesar 15.000 euro. Lalu, ia berfoto dengan cek tersebut dan mengunggahnya ke media sosial.

Foto itu sebetulnya diambil di gedung Space Businees Inovation Center di Noordjijk, Belanda, saat Dwi mengikuti hackathon Space Apps Challenge. Dalam lomba itu, Dwi dan timnya juga tidak berhasil naik podium.

“Foto itu saya publikasikan melalui media sosial saya dengan cerita klaim kemenangan saya. Teknologi ‘Lethal weapon in the sky’ dan klaim paten tidak benar dan tidak pernah ada. Informasi saya dan tim sedang mengembangkan pesawat tempur generasi ke-6 tidaklah benar. Informasi bahwa saya dan tim dimininta untuk mengembangkan EuroTyphoon di Airbus Space and Defence menjadi EuroTyphoon NG adalah tidak benar,” kata Dwi.

Dalam pemberitaan sebelumnya, Dwi disebut dihubungi oleh protokoler B.J Habibie. Pertemuan antara Habibie dan Dwi berlangsung di salah satu restoran di Den Haag pada awal Desember 2016. Pertemuan itu justru tidak pernah terjadi. Dwi memang pernah meminta kepada Kedutaan Besar RI di Den Haag untuk bertemu dengan Habibie.

“Tidak benar bahwa program master (S2) saya dibiayai oleh pemerintah Belanda. Kuliah S2 saya di TU Delft dibiayai oleh beasiswa yang dikeluarkan oleh Depkominfo. Tidak benar bahwa Belanda menawarkan saya untuk mengganti kewarganegaraan,” kata Dwi.

Dwi memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan kebohongannya. Melalui Facebook, ia mengungagah persiapan dan peluncuran TARAV7s yang tak pernah ada. Postingan sejak 9 Juni 2015 sebetulnya adalah persiapan roket DARE Cansat V7 yang menjadi kegiatan ekstrakulikuler mahasiswa.

Pada 3 Februari 2017, Dwi mengabarkan tengah mengerjakan proyek satelit pesanan Airbus (AirSat-ABX). 24 Februari ia kembali mengunggah telah diwawancara oleh TV Nasional Belanda NOS terkait Spacecraft technology. Lalu, 15 Juni 2017 ia memposting id card sebagai Direktur Teknik ESA.

“Saya tidak pernah menempuh studi maupun memiliki gelar akademik berkaitan dengan kedirgantaraan (Aerospace Engineering). Riset saya saat Master di TU Delft memang beririsan dengan sebuah sistem satelit, tapi lebih pada bagian telemetrinya,” kata Dwi.

Saat ini, TU Delft tengah melakukan sidang kode etik sejak 25 September 2017.

Dwi sebenarnya pernah diperingatkan oleh teman-temannya yang menempuh studi di TU Delft namun tak diindahkan. Sebuah laporan 33 halaman pun disusun oleh rekan-rekan Dwi di Delft. Deden Rukmana, Professor and Coordinator of Urban Studies and Planning di Savannah State University lantas menulis surat terbuka berdasarkan laporan tersebut.

“Saya menilai mereka sebagai pihak yang mengetahui kebohongan publik yang dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar kebohongan ini dihentikan. Mereka sudah menemui Dwi Hartanto dan memintanya agar meluruskan segala kebohongannya tetapi tidak ditanggapi dengan serius. Mereka pun mencari cara-cara lainnya untuk menghentikan kebohongan ini. Salah satunya adalah menghubungi saya dan mereka pun memberikan ijin kepada saya untuk menggunakan kedua dokumen,” kata Dede dalam surat terbukanya berjudul “Surat Terbuka tentang Ilmuwan Indonesia” yang dipostingnya di akun Facebook miliknya.

Menurut Dede, kebohongan Dwi merusak nama baik ilmuwan. Tanpa integritas dan kode etik tinggi, ilmu pengetahuan niscaya tak akan berkembang.

“Bilamana kebohongan ini berlanjut dan Dwi Hartanto diberikan posisi di bidang Aerospace Engineering yang bukan merupakan keahliannya, tentunya akan sangat membahayakan keselamatan jiwa banyak orang,” kata Dede yang merupakan pengajar di Savannah University.

Dede pun memberikan saran kepada pemerintah agar peristiwa serupa tak lagi terjadi. Ia mengusulkan agar Kedutaan besar Indonesia di berbagai negara membuat data terkait keberadaan ilmuwan asal Indonesia.

Data itu dirasa penting. Salah satunya dapat digunakan pleh wartawan untuk mengonfirmasi apa yang tengah dikerjakan seorang ilmuwan di negeri orang.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: