Iklan
//
Anda membaca...
Olahraga

Islandia Jadi Negara ‘Terkecil’ yang Pernah Lolos Piala Dunia

Islandia lolos ke Piala Dunia 2018

Islandia lolos ke Piala Dunia 2018. (Facebook/KSÍ – Knattspyrnusamband Íslands)

Anekainfounik.net. Islandia menjadi negara terkecil dan memiliki penduduk tersedikit yang pernah lolos ke Piala Dunia ketika mereka mengalahkan Kosovo dengan skor 2-0 pada Senin, untuk mengamankan tempat di putaran final pertama mereka di Rusia tahun depan sebagai juara Grup I.

Tujuh kemenangan Islandia di fase grup mencakup lima kemenangan kandang mereka, di mana semifinalis Piala Dunia sebelumnya Kroasia dan Turki berada di daftar korban.

Gylfi Sigurdsson menghapus rasa gugup mereka melalui golnya lima menit sebelum turun minum ketika Islandia membuktikan bahwa laju mereka ke perempat final Piala Eropa 2016, yang termasuk kemenangan atas Austria dan Inggris, bukan kebetulan semata.

Sigurdsson juga menjadi aktor di balik gol kedua yang dibukukan Johann Gudmundsson pada pertengahan babak kedua, ketika Islandia menyelesaikan kualifikasi dengan memenangi tiga pertandingan terakhirnya tanpa kemasukan gol sama sekali.

Ini merupakan pencapaian luar biasa untuk negara yang hanya memiliki populasi sebanyak 350.000 jiwa. Negara terkecil sebelumnya yang pernah mencapai putaran final adalah Trinidad and Tobago, pada 2006, dengan jumlah 1,3 juta penduduk.

Dilatih oleh dokter gigi paruh waktu Heimir Hallgrimsson, Islandia menyelesaikan kualifikasi grup dengan 22 poin dari sepuluh pertandingan mereka.

Sampai kembang api dinyalakan setelah peluit panjang berbunyi, pertandingan Senin di Rykjavik yang diguyur hujan terasa seperti suatu kesempatan bersejarah, di mana tuan rumah mendulang kemenangan rutin melawan tim yang cukup baik secara teknik namun kurang memiliki daya hantam.

Dari 25 pemain yang dipanggil untuk melawan Kosovo, Selasa (10/10/2017) dini hari WIB, tidak ada satu pun pemain liga lokal. Sudah lama pula, pelatih Heimir Hallgrímsson tidak memanggil pemain dari liga domestik.

Kali terakhir adalah laga kontra Meksiko, 8 Februari 2017, ketika dia menyertakan tujuh pemain dari liga lokal di dalam skuadnya.

Mengapa bisa demikian? Durasi liga mungkin bisa menjawabnya.

Urvalsdeild alias kasta pertama Liga Islandia cuma berlangsung sangat singkat, yaitu dari Mei hingga September. Maklum, kompetisi sepak bola tidak bisa digelar karena musim dingin di Islandia begitu ekstrem.

Dengan durasi kompetisi yang sangat singkat, pemain pun diyakini kesulitan menjaga kondisi dan kemampuan. Bahkan, pelatih Heimir Hallgrímsson sempat menyatakan bahwa pelatih sepak bola di Islandia sekadar pekerjaan paruh waktu.

Jadi, kalau mau serius di sepak bola, orang Islandia pun memilih merantau seperti leluhurnya, bangsa Viking. Tim inti Islandia mencakup empat pemain yang berkompetisi di divisi kedua Inggris, dua pemain dari Liga Inggris, satu pemain dari Liga Italia, dan masing-masing satu pemain dari divisi teratas Denmark, Swedia, Skotlandia, dan Rusia.

Walaupun demikian, jumlah pesepak bola di negara asal grup band Sigur Ros itu memang sungguh minim.

Menurut temuan Siggi Eyjolfsson yang pernah menangani timnas putri Islandia selama tujuh tahun, jumlah pesepak bola terdaftar di sana cuma 22.100.

Jumlah tersebut sudah tergolong banyak untuk negara dengan populasi kecil seperti Islandia. Rasionya mencapai 7,4 persen dari sekitar 350.000 penduduk. Dengan rasio tersebut, Islandia mampu mengirimkan sejumlah representasi di liga-liga besar Eropa.

Ada Eidur Gudjohnsen yang sempat memperkuat Barcelona, Gylfi Sigurdsson sang jagoan tendangan bebas Liga Inggris, dan Alfred Finnbogason di Liga Jerman.

Bandingkan saja dengan Indonesia yang notabene negara dengan populasi besar. Januari 2017, Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi sempat mengeluhkan jumlah pesepak bola di Tanah Air.

Hanya ada 67.000 pesepak bola terdaftar dari 261 juta penduduk Indonesia. Artinya, rasio pesepak bola dengan jumlah populasi di Indonesia cuma 0,025 persen.

Dari jumlah tersebut, Indonesia hanya memiliki sedikit wakil di luar negeri, Andik Vermansah di Malaysia dan Ezra Walian di Belanda. Belajar dari itu, populasi besar bukanlah jaminan prestasi sebuah negara di sepak bola

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan

Berita Terbaru: Aneka Info Unik

Kami tidak dapat memuat data blog saat ini.

%d blogger menyukai ini: