Iklan
//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Manuver Golkar dan PDIP Akan Ciptakan All Jokowi Final di Pilgub Jabar

Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil salam komando

Dedi Mulyadi dan Ridwan Kamil salam komando. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Keputusan Golkar memilih Ridwan Kamil daripada Dedi Mulyadi sebagai calon gubernur Jawa Barat dipertanyakan terutama oleh kader partai berlambang pohon beringin tersebut. Pasalnya, Dedi adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar Dedi Mulyadi yang berperan besar membuat Golkar meraih 17 kursi DPRD di Jabar, nomor kedua setelah PDIP.

Golkar sendiri beralasan elektabiltas Emil, panggilan akrab Ridwan Kamil jauh di atas Dedi Mulyadi.

“Hasil survei yang ada dengan keinginan bahwa Jabar (Jawa Barat) kami ingin menangkan pertarungan politik pada Pilkada 2018. Karena itu, maka hasil survei menjadi pertimbangan utama,” kata Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, di Slipi, Jakarta Barat, Jumat (27/10/2017), dilansir anekainfounik.net dari Kompas.com.

Survei Poltracking Indonesia pada Juni lalu, menyebut Emil berada di peringkat pertama dengan angka 21,38 %. Sedangkan Dedi Mulyadi berada di posisi kedua di angka 4,88%. Sementara, Citra Komunikasi Lingkaran Survei Indonesia (LSI Network Denny Ja) menyebut elektabilitas Emil sebesar 26,7%, jauh di atas Dedi Mulyadi (9,7%). Bahkan Dedi Mulyadi kalah dari elektabilitas Dedi Mizwar atau Demiz(19,2%).

Idrus bahkan menyebut telah berkomunikasi dengan Dedi sebelum memutuskan untuk mengusung Ridwan Kamil sebagai calon gubernur. Menurut Idrus, Dedi dapat menerima keputusan tersebut sebagai keputusan partai yang mengikat.

“Harmonisasi kepentingan sudah kami lakukan maka Golkar sudah mengambil keputusan sekali lagi mencalonkan Saudara Ridwan Kamil berpasangan dengan Daniel Mutaqqien,” lanjut dia.

Sementara, Dedi Mulyadi sendiri cenderung santai menanggapi keputusan DPP Partai Golkar tersebut, tidak seperti saat beredar surat dukungan Golkar kepada Emil pada September lalu.

“Untuk soal itu, nanti saya beri keterangan resmi hari Selasa (31/10),” ujar Dedi Mulyadi, di kantor DPD Golkar Jabar, Kota Bandung, Jumat (28/10).

Menurutnya, hari Selasa nanti Golkar Jabar akan memberikan keterangan secara resmi mengenai langkah yang akan dilakukan Dedi Mulyadi dalam Pilkada Serentak 2018. Namun ia memastikan, saat ini kondisinya tidak terlalu berpengaruh mengenai kabar dukungan politik Golkar kepada Wali Kota Bandung tersebut.

“Ya semangat dong, masa enggak punya semangat. Hari Selasa yah,” katanya.

Tetap berkobarnya semangat Dedi mungkin karena namanya masih dipertimbangkan PDIP sebagai cagub selain Demiz, Ketua DPD PDIP Jawa Barat Tubagus Hasanudin, Sekda Jabar Iwa Karniwa hingga mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan.

Bahkan Hasto mengisyaratkan untuk mengombinasikan Demiz dan Dedi. Tetapi, PDIP tak mau terburu-buru memutuskan usulan tersebut. PDIP telah melakukan kajian soal pasangan calon yang akan diusung dengan melibatkan para ahli dan tokoh.

Manuver Golkar dan PDIP di atas diyakini manuver untuk memprediksi akan terjadi All Jokowi Final di Pilgub Jabar 2017 demi mengamankan Pilpres 2017 seperti yang bakal terjadi untuk Pilgub Jatim 2018. Mengingat kedua partai membagi kekuatan untuk mengusung calon yang ‘direstui’ Jokowi.

Dilihat dari hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2014 di Jabar, jumlah kursi tertinggi di DPRD Jabar diraih oleh PDIP sebanyak 20 kursi, sama dengan syarat minum untuk mengusung cagub. Kemudian Golkar sebanyak 17 kursi, PKS 12 kursi, Demokrat 12 kursi dan Gerindra 11 kursi.

Partai lainnya yakni PPP memiliki 9 kursi, PKB 7 kursi, NasDem 5 kursi, PAN 4 kursi dan Hanura 3 kursi.

Jika melihat jumlah kursi tersebut, hanya PDIP yang dapat mengusung calonnya sendiri tanpa bergabung dengan parpol lain. Namun bisa aja partai koalisi pemerintah seperti PPP dan PKB diajak untuk ikut bergabung. Sementara, Golkar diyakini akan berkoalisi dengan PAN dan NasDem untuk mengusung Emil.

Ada nilai strategis dari Pilgub Jabar. Pertama mengenai jumlah pemilih. KPU Jabar menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) dalam Pilgub Jabar 2018 mendatang berjumlah 32.809.057 orang atau lebih dari 17% suara nasional jika menggunakan data pada Pilpres 2014 . Nilai strategis kedua adalah soal sejarah pilihan warga Jabar di Pilpres 2014.

Pada Pilpres 2014 lalu di Jawa Barat, Jokowi kalah telak dari Prabowo dengan prosentase 59,78 persen lawan 40,22%. Walaupun kini Jokowi unggul tipis dari Prabowo seperti ditunjukkan survey oleh lembaga Indo Barometer pada Juni 2017 yang lalu.

Untuk mengamankan Pilpres 2019, Jokowi selaku petahana berkepentingan agar gubernur Jabar mendatang adalah figur yang bisa diajak kerja sama. Gubernur Jabar haruslah orang yang tak banyak berseberangan dengan kebijakan pemerintah pusat. Emil beserta Dedi Mulyadi dan Demiz diyakin lebih merapat ke Jokowi daripada kubu Prabowo.

Lalu bagaimana dengan poros baru yang akan diusung selain dua cagub yang diusung PDIP dan Golkar. Semuanya tergantung manuver politik yang dilakukan Prabowo dan SBY. Dengan gabungan kursi partai Gerindra dan Demokrat serta PKS, peluang mengusung cagub yang berseberangan dengan Jokowi tentu terbuka lebar.

Namun berbeda dengan Pilgub DKI yang menggelar putaran kedua jika tak ada pasangan calon yang melebihi 50%, Pilgub Jabar masih menggunakan aturan cukup 30 % plus 1 suara. Jadi peluang mengusung poros baru sangat riskan karena sulit untuk menerapkan head to head atau hanya dua paslon yang ikut. Mungkin saja, Prabowo dan SBY memutuskan untuk bergabung ke salah satu paslon yang diusung Golkar dan NasDem yakni Emil.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: