Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Ada Prabowo di Paradise Papers, Pengamat: Belum Tentu Pengemplang Pajak

Prabowo Subianto usai mendaftarkan Partai Gerindra ke KPU

Prabowo Subianto usai mendaftarkan Partai Gerindra ke KPU. (Foto: viva.co.id)

Anekainfounik.net. Sejumlah nama pebisnis dan politikus di Indonesia seperti Prabowo Subianto, Tommy Soeharto, dan Mamiek Soeharto diduga masuk daftar klien Appleby dan Asiaciti Trust yang terungkap dalam laporan terbaru hasil kolaborasi investigasi International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), Paradise Papers. Appleby dan Asiaciti Trust merupakan firma hukum yang beroperasi di Bermuda serta negara suaka pajak lainnya.

Selain memuat nama-nama asal Indonesia, dokumen finansial itu berisi nama sejumlah mantan kepala negara, menteri, pebisnis internasional, dan tokoh dunia. Mereka masuk daftar karena pernah menyewa kedua firma hukum itu untuk mendirikan perusahaan di yuridiksi bebas pajak di luar negeri (offshore).

Pengamat pajak dari Danny Darussalam Tax Center (DDTC), Darussalam, menilai munculnya tiga nama tersebut tidak serta merta menjadikannya hal yang buruk.

“Seperti halnya dengan Panama Papers, Offshore Leaks, dan dokumen-dokumen bocoran sejenis, yang perlu dilihat bahwa belum tentu nama yang disebutkan adalah penghindar apalagi pengemplang pajak,” kata Darussalam, dilansir anekainfounik.ner dari Kompas.com pada Selasa (7/11/2017).

Dia menjelaskan, selama belum ada bukti yang kuat bahwa nama yang dimaksud sebagai pengemplang pajak, masih ada banyak kemungkinan.

Bisa saja nama-nama tersebut diungkapkan dengan kondisi mereka memang melakukan aktivitas ekonomi yang normal, bukan sesuatu yang sengaja disembunyikan.

“Dalam konteks ini, bisa saja memang aliran dana tersebut adalah sesuatu yang sifatnya real economic activity,” tutur Darus.

Meski begitu, bisa juga kecurigaan mengenai dugaan penghindaran pajak benar terjadi, karena laporan atau dokumen yang dimaksud bersifat rahasia.

Biasanya, dokumen seperti ini mengulas tentang kerahasiaan industri yang melibatkan negara-negara tax haven, tax promotor (firma hukum, konsultan keuangan, penasihat pajak), dan pihak pengguna baik individu maupun korporasi.

Sehingga, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, informasi mengenai hal tersebut harus terkumpul secara komprehensif.

“Aktivitas penghindaran atau pengelakan pajaknya perlu diklarifikasi terlebih dahulu,” tutur Darus.

Seperti diberitakan sebelumnya, terkuaknya Paradise Papers ini awalnya muncul dalam surat kabar Jerman, Süddeutsche Zeitung, dan kini dikembankan lagi oleh Konsorsium Jurnalis Investigatif.

“Laporan yang dikeluarkan Minggu (05/11) ini baru sebagian kecil dari laporan yang akan dikeluarkan dalam satu minggu dan akan mengungkap skandal pajak dan keuangan sebagian dari ratusan orang dan perusahaan yang namanya disebut dalam data,” demikian diberitakan oleh BBC.com pada Senin (6/11/2017).

Dalam Paradise Papers, nama Tommy Soeharto tercatat pernah menjadi direktur dan bos dewan Asia Market Investment, perusahaan yang terdaftar di Bermuda pada 1997 dan ditutup tahun 2000.

Konsorsium Jurnalis Investigatif juga melihat ada kesamaan alamat dengan perusahaan lain yang dimiliki Tommy, Asia Market serta V Power, di mana dua perusahaan itu terdaftar di Bahama.

Tommy turut membuka perusahaan patungan dengan rekannya dari Australia, dengan kegiatannya berupa iklan jalan di negara bagian Victoria di Australia, Filipina, Malaysia, Myanmar, dan China.

Perusahaan itu ditutup di Bermuda pada tahun 2003 dan menurut data dari firma hukum di Bermuda, Appleby, perusahaan tersebut disebut sebagai pengemplang pajak.

Sedangkan Mamiek Soeharto dikatakan sebagai wakil presiden Golden Spike Pasiriaman Ltd sekaligus pimpinan Golden Spike South Sumatera Ltd dengan rekannya Maher Algadri.

Maher merupakan salah satu konglomerat terbesar di Indonesia zaman kepemimpinan Soeharto, menurut laporan Forbes.

Kemudian, nama Prabowo Subianto disebut pernah menjabat sebagai direktur dan wakil pimpinan Nusantara Energy Resources yang kantornya berada di Bermuda.

Perusahaan ini terdaftar pada tahun 2001, kemudian ditutup pada 2004 dan menyandang status sebagai perusahaan penunggak utang.

Prabowo juga disebut memiliki sebagian perusahaan Nusantara Energy Resources di Singapura yang merupakan bagian dari Nusantara Group.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: