Iklan
//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Era Ahok Berakhir, Trotoar Tanah Abang Kembali Diam-diam Disewakan

PKL yang berjualan di trotoar Tanah Abang

PKL yang berjualan di trotoar Tanah Abang. (Harian Kompas)

Anekainfounik.net. Pada Selasa (14/11/2017), Harian Kompas mengungkapkan penyewaan trotoar secara ilegal untuk berdagang di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Disebut, ibarat bau yang sulit dilacak sumbernya, kasatmata terlihat, tetapi tak ada yang mau bicara terbuka mengenai sewa-menyewa fasilitas publik ini. Pedagang dan pemungut uang sewa sepakat sama-sama bungkam. Namun, sebenarnya mudah mencari orang yang akan menawarkan sewa trotoar untuk berdagang. Mereka ada di sekitar kawasan Tanah Abang Turut mengawasi.

Rabu (8/11) misalnya, setelah bertanya kepada para pedagang yang tetap kuat menutup rahasia, akhirnya tawaran itu datang. Anas, lelaki kurus berusia sekitar 65 tahun, segera meninggalkan kopinya. Ia mendekat, mendatangi orang yang bertanya bagaimana cara membuka lapak di trotoar pusat tekstil terbesar di Asia Tenggara itu.

“Kalau mau, ini ada yang enggak mau lanjut lagi, Rp 1,5 juta sebulan,” katanya di tengah sesaknya trotoar Jalan Jati Baru Raya, tepat di seberang Stasiun Tanah Abang, Rabu, dilansir anekainfounik.net dari Harian Kompas..

Sepanjang hari, lelaki yang mengaku warga kampung sekitar itu menghabiskan waktu di salah satu sudut di trotoar sana. Ia menunjukkan lokasi yang ia tawarkan. Sepetak trotoar yang berukuran tak lebih 1×2 meter persegi dengan rak baju, setumpuk dagang pakaian, dan penjualnya. Selain tarif bulanan itu, pedagang juga harus membayar Rp 2.000 sehari untuk biaya kebersihan.

Anas mengatakan, biaya itu sudah komplet, plus jaminan keamanan. “Enggak mahal ini, Rp 50.000 sehari kok mahal, cepetan ini sudah banyak yang mau. Kalau sore tidak ada kepastian. Sudah ada yang ambil,” katanya merayu dengan nada keras.

Menurut Anas, ia bukan orang yang menerima uang tersebut. Namun, orang lain, yang ia sebut “pengurus”, yang katanya warga sekitar. Ruas trotoar yang panjangnya sekitar 300 meter itu sudah terbagi-bagi kelompok pengurusnya. Anas mengaku hanya menjaga ruas trotoar sepanjang 50 meter. Trotoar itu khusus disewakan untuk padagang kain atau pakaian.

Masih dalam rangka merayu, lelaki yang mengaku sudah tinggal di Tanah Abang sejak 1967 itu mengatakan, tarif sewa berdasarkan lokasi. Di seberang Pasar Blok G dan Blok F, sewa sepetak trotoar Rp 2,5 juta-Rp 3 juta.

Betul juga, di seberang pasar Blok G, pedagang yang hanya mau disebut Encep (35), dengan takut-takut mengatakan, untuk menyewa trotoar di sana, orang yang perlu dihubungi bernama Bang Udin. “(Sewanya) sekitar Rp 3 juta, tapi bisa dinego seperempat atau setengah,” katanya.

Lokasi trotoar di seberang Pasar Blok G tersebut terbilang lebih nyaman karena ada naungan dari koridor layang yang menghubungkan antarblok pasar. Begitu padatnya pedagang kaki lima di sana, sampai-sampai dua halte bus TransJakarta nyaris tak berfungsi karena desakan mereka.

Anas mengatakan, ia sudah lama menjaga trotoar di sana. Semasa Basuki Thajaja Purnama (Ahok) menjabat Gubernur DKI, kehidupan mereka tak nyaman. Sebab, kerap dan kerasnya penertiban PKL. Saat itu, para PKL biasanya diperingatkan untuk memasukkan dagangan ke Pasar Tasik yang ada di belakangnya selama penertiban berlangsung. Namun, esoknya, sudah bisa kembali lagi. “Kan, enggak tiap hari ada penertiban,” kata Anas.

Informasi berbeda didapat dari Wawan (34). Bapak dua anak ini sejak bulan puasa lalu pindah dari Kota Tua ke Trotoar Tanah Abang. Awalnya, ia bekerja sebagai tukang parkir liar. Namun semenjak kawasan Kota Tua dirazia, pekerjannya hilang. Ia tidak bisa kembali menjadi tukang parkir liar karena ada kamera pengintai dipasang di sekiar tempatnya mangkal.

“Sekarang saya pindah ke sini. Dagang aksesoris handphone. Habis mau kasih makan anak pakai apa,” ujar Wawan. Penghasilan Wawan di Tanah Abang sekitar Rp 250.000-Rp 400.000 per hari. Ia harus sisihkan setiap hari untuk pembayaran ke ‘pengurus’. Tekadang dalam sehari, ia harus menyetor hingga Rp 50.000 ke banyak ‘pengurus’.

Menurut dia, tak semua lapak trotoar di Tanah Abang diperjualbelikan. Lapak yang diperjualbelikan, biasanya digunakan untuk pedagang yang menetap di lokasi tertentu, seperti pedagang makanan dan minuman. Pedagang pakaian dan aksesori yang suka berpindah tempat, biasanya hanya membayar setoran harian.

Siasat Pemilik Kios

Sejumlah pedagang di trotoar Tanah Abang bekerja untuk juragan yang sudah memiliki kios di dalam Pasar Tasik. Mereka berfungsi untuk menangkap lebih banyak pembeli.

Di ujung Jalan Jati Baru Raya, lima pedagang pakaian berjualan berkelompok. Mereka bekerja untuk satu pemilik kios yang sama di dalam Pasar Tasik. “Jadi, di dalam harganya segini. Di luar, dinaikkan dua kali. Hasilnya, dibagi dua sama dia,” kata salah satu dari mereka yang disebut Ucok.

Dalam sehari, mereka bisa memperoleh Rp 100.000 per orang, bersih. Pengurus ruas yang mereka tempati berjaga di taman berpagar di bawah jalan layang Jati Baru. Di sana, seorang lelaki duduk mengawasi mereka sambil merokok dan ngopi.

“Jangan sebut nama kami,”kata Ucok melirik ‘pengurusnya’.

Sulit Dibuktikan

Camat Tanah Abang, Dedi Arif Darsono, mengatakan, pihaknya sudah curiga adanya jual membeli trotoar. “Tapi tidak ada yang mau mengaku,” katanya.

Menurut Dedi, sampai saat ini kebijakannya, tak ada PKL yang berjualan di trotoar Tanah Abang. Namun, para PKL memaksa berdagang. Setelah ditertibkan, mereka tak jera dan kembali lagi. Belum lagi perlawan sengit dari PKL yang ditertibkan. Saat ini, setiap hari, 100 personel Satpol PP berjaga pukul 05.00-20.00 secara bergiliran.

Berdasarkan pendataaan Kecamatan Tanah Abang, jumlah PKL di Tanah Abang berjumlah 276 orang. Jumlah itu dikalikan tarif sewa trotoar termurah Rp 1 juta-Rp 1,5 juta, dalam sebulan bisa terkumpul Rp 400 juta atau Rp 5 miliar setahun.

Ke mana uang ini pergi, masih menjadi ‘bau’ yang tak bisa ditelusuri sumbernya. Perputaran fantastis itu menegaskan PKL jelas aset ekonomi rakyat, salah satu nadi kehidupan kota yang berhak dan wajib dikelola. Tak pantas, jika mereka dijadikan obyek pemerasan oleh pihak tertentu. Tak seharusnya mereka menyandang predikat pencuri hak warga atas rasa aman dan nyaman, tepat di wajah Ibu Kota.

Ah, andai saja pengelola kota tahu bagaimana tegas bersikap menata Tanah Abang.

Iklan

Diskusi

One thought on “Era Ahok Berakhir, Trotoar Tanah Abang Kembali Diam-diam Disewakan

  1. bagus lah biar jakarta makin rame 🙂

    Posted by Mesin Pertamini Digital Otomatis Murah | November 14, 2017, 6:28 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: