Iklan
//
Anda membaca...
Sejarah dan Politik

Sandi Mengaku Didesak BPK Tagih Pembayaran Lahan Cengkareng

Sandiaga Uno mengaku didesak BPK soal lahan di Cengkareng

Sandiaga Uno mengaku didesak BPK soal lahan di Cengkareng. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengaku diminta oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) segera menuntaskan penagihan atas pembayaran pengadaan lahan di Cengkareng Barat. Sandi menyatakan menargetkan proses pengembalian pembayaran selesai sebelum bulan Mei 2018.

“Jadi kelanjutannya kemarin kita melakukan proses hukum, upaya penagihan. BPK meminta kami maksimal,” kata Sandiaga saat dimintai konfirmasi, di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (6/12/2017), dilansir anekainfounik.net dari detikcom.

Sandiaga memastikan lahan tersebut merupakan milik Pemprov DKI Jakarta. Kata dia, setelah proses pengembalian selesai akan ditentukan peruntukan lahan seharga Rp 668 miliar itu.

“(Lahan Cengkareng Barat) sekarang ini masih tercatat di DKPKP (Dinas Kelautan, Pertanian dan Ketahanan Pangan DKI Jakarta). (Pengembalian pembayaran) harus selesai sebelum WTP tahun depan, bulan Mei. Nanti kita tentukan aset ini mau diperuntukan seperti apa,” terang Sandiaga.

Dilansir dari Kompas.com, polemik pengadaan lahan di Cengkareng Barat berawal ketika Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Pemukiman DKI Jakarta membeli lahan tersebut dengan harga Rp 668 miliar. Lahan itu dibeli dari seorang warga bernama Toeti Noelzar Soekarno pada 2015 lalu.

Pembelian itu belakangan dipermasalahkan saat BPK menemukan, lahan itu juga terdata sebagai milik Dinas Kelautan, Pertanian, dan Ketahanan Pangan (DPKPKP) DKI Jakarta. Jika demikian, Pemprov DKI telah membeli lahannya sendiri.

BPK menilai ada indikasi kerugian negara saat proses pembelian lahan tersebut. Duit gratifikasi pembelian lahan INI mengalir ke banyak pihak. Uang ‘terima kasih’ itu dibagikan dalam jumlah beragam, mulai dari jutaan rupiah hingga miliaran rupiah. Sampai saat ini angka uang gratifikasi yang paling besar diterima mantan Kepala Bidang Pembangunan Perumahan dan Permukiman Dinas Perumahan DKI Sukmana.

Pada Januari 2016, Sukmana disodorkan uang Rp9,6 miliar. Fulus diserahkan langsung oleh kuasa tanah Toeti Soekarno, Rudy Hartono Iskandar. Sukmana sempat terkejut menerima uang berjumlah fantastis itu. Sukmana juga menanyakan untuk apa uang sebanyak itu diberikan kepada dirinya.

“Dia bilang uang terima kasih operasional dinas dan dia langsung pergi,” kata Sukmana, Jumat 1 Juli, dilansir dari metrotvnews.com.

Tak sampai di situ, beberapa pejabat kota disebut-sebut ikut kecipratan uang pembelian lahan yang berada di Rawa Bengkel, Cengkareng Barat. Mantan Lurah Cengkareng Barat Mohammad Hatta mengaku mendapat uang sebesar Rp250 juta. Uang tersebut sebagai tanda terima kasih setelah dirinya meneken surat lahan milik Toeti Soekarno tidak dalam sengketa.

Penyelidikan kasus lahan Cengkareng Barat kemudian mulai dilakukan Bareskrim Polri sejak 27 Juni 2016. Saat itu Pemprov DKI Jakarta membatalkan rencana pembangunan rusun di lokasi itu karena karena lahan yang akan digunakan statusnya bermasalah.

Rusun di Cengkareng Barat rencananya akan terdiri dari dua menara, setiap menara atau tower terdiri dari 16 lantai. Total unit yang akan dibangun adalah 552 unit.

Kasus pun bergulir, sejumlah saksi dipanggil dalam kasus itu, termasuk mantan gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ahok diperiksa pada 14 Juli 2016. Saat itu Ahok membeberkan proses pembelian lahan Cengkareng Barat.

Tak hanya Ahok, Bareskrim Polri juga memanggil Djarot Saiful Hidayat yang saat itu menjabat sebagai wakil gubernur DKI Jakarya, pejabat dari Dinas Perumahan dan Gedung Pemda DKI Jakarta serta Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Jakarta, Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Jakarta Saefullah, Kepala Biro Hukum DKI Jakarta Yayan Yuhanah, Kepala Dinas Penataan Kota Benny Agus Chandra, dan Asisten Sekda bidang Pembangunan Gamal Sinurat.

Pada saat itu, upaya mediasi antara Pemprov DKI Jakarta dengan Toeti sempat dilakukan. Meski demikian tak ditemui kata sepakat dari kedua belah pihak. Toeti justru mengajukan gugatan hukum terhadap Pemprov DKI Jakarta.

Toeti tak terima jika Pemprov DKI memasukkan lahan di Cengkareng Barat sebagai aset milik pemerintah. Menurut Toeti, dirinya yang memiliki lahan itu dengan bukti sertifikat hak milik (SHM) No 13069/Cengkareng, SHM No 13293/Cengkareng, dan SHM No 13430 dengan total luas lahan 46.913 meter persegi.

Untuk itu, dia meminta agar Pemprov menghapus lahan di Cengkareng Barat dari Kartu Inventaris Barang (KIB) Pemprov DKI. Namun, pihak Pemprov menolak permintaan itu dan lebih memilih untuk melawan Toeti di pengadilan.

“Mediasi gagal, yang dia inginkan kan untuk melepaskan (lahan) dari KIB, dan itu enggak mungkin,” ujar Kasubag Sengketa Hukum Biro Hukum Pemprov DKI, Johan, pada 25 Juli 2016.

Pihak Toeti mengklaim telah membeli lahan itu dari pemilik sah, di antaranya Thio Tjoe Nio. Thio menjual kepada suami Toeti, Koen Soekarno, lahan seluas 51.190 meter persegi pada 16 September 1967.

Toeti bahkan menuntut Pemprov membayar kerugian materiel senilai Rp 200 miliar. Tak hanya itu, Toeti meminta Pemprov membayar lost opportunity (kerugian) senilai Rp 500 juta dan kerugian immateriel sebesar Rp 800 juta. Namun, hakim kemudian memutuskan gugatan Toeti tidak dapat dilanjutkan.

Pada 6 Juni 2017 majelis hakim yang menangani kasus itu memutuskan perkara tidak dapat diterima. Dengan kata lain, Pemprov menang dan lahan seluas 4,6 hektare itu kembali ke tangan pemerintah.

Meski demikian BPK menilai adanya kerugian negara akibat pembelian lahan itu. Uang senilai Rp 668 harus dikembalikan terlebih dahulu sebelum Pemprov DKI menggunakan lahan tersebut.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: