//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

RSDP Serang Bantah Mahasiswi UIN Jakarta Meninggal karena Difteri

Aufal Khuzzah semasa hidup

Aufal Khuzzah semasa hidup. (Facebook)

Anekainfounik.net. Dinas Kesehatan Provinsi Banten dan Rumah Sakit dr Drajat Prawiranegara (RSDP) Serang membantah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Aufal Khuzzah (19), meninggal karena wabah difteri.

Menurut Dirut RSDP Serang, dr Agus Gusmara, pada Sabtu (9/12), pasien atas nama Aufatul Khuzzah (19) asal Tanara, Kabupaten Serang, dirujuk ke RSDP karena suspect difteri. Pasien kemudian masuk ke ruang isolasi pada pukul 12.35 WIB.

Baca juga: Begini Kronologi Meninggalnya Mahasiswi UIN Jakarta Karena Difteri

Di ruang isolasi, pasien kemudian diberi anti-difteri serum (ADS) karena, secara klinis, terdapat membran persis difteri di tenggorokan.

“Secara klinis mirip, yang menunjang ada di tenggorokan membran persis difteri, maka dikasih ADS walaupun belum dinyatakan positif. Dikasih ADS karena secara klinis mirip, takut kecolongan,” kata dr Agus Gusmara saat dimintai konfirmasi wartawan, Kota Serang, Banten, Selasa (26/12/2017).

Pada hari itu, kondisi pasien, menurutnya, naik-turun. Hemoglobin (Hb) di hari saat pasien datang kira-kira 9,8.

Lalu, pada Kamis (14/12), Hb pasien kemudian turun menjadi 6. Dokter RSDP kemudian memberikan transfusi darah sebanyak 2 labu (kantong). Pada Sabtu (16/12), pasien mengalami perbaikan Hb di angka 7,8, tapi belum aman. Dua hari berikutnya, Hb pasien kemudian menjadi 11,3.

Kondisi Hb pasien kemudian drop pada Kamis (21/12) menjadi 7,5. Esoknya, kondisi Hb pasien terus turun menjadi 6.

“Ini rencana mau ditransfusi (darah) 2 labu dan tanggal 22 (Desember) ada informasi dari Kemenkes dari litbangkesnya. Hasilnya negatif difteri,” katanya.

Karena ada laporan laboratorium Kemenkes bahwa pasien negatif difteri, pihak rumah sakit memindahkan pasien ke ruangan biasa di Dahlia pada Sabtu (23/12). Pemindahan dilakukan karena di ruang isolasi terdapat pasien suspect difteri. Sehari setelahnya, pasien meninggal pada Minggu (24/12).

Menurut Agus, pihak rumah sakit menemukan diagnosis selain difteri. Tubuh pasien didiagnosis hypovolemic ec melena ec myocarditis ec acidosis. Atau kekurangan jumlah cairan tubuh, termasuk darah, yang disebabkan keluar darah dari saluran cerna/berak darah akibat infeksi otot jantung yang disebabkan keracunan dan keasaman cairan tubuh.

“Sementara diduganya difteri ternyata mungkin penyakit lain. Jadi di ruang isolasi memang dikhususkan difterinya,” katanya.

“Tapi kan namanya suspect diduga, jadi RS jaga-jaga dikasih serum ADS karena secara klinisnya begitu,” Agus menambahkan.

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: