//
Anda membaca...
Hukum dan Peristiwa

Tata 1.000 PKL Liar di Kota Tua, Anies Akan Tutup Jalan Seperti Tanah Abang?

PKL memenuhi trotoar di depan Museum Bank Mandiri Kota Tua

PKL memenuhi trotoar di depan Museum Bank Mandiri Kota Tua. (Istimewa)

Anekainfounik.net. Kawasan Kota Tua yang rapi, bersih, dan steril dari pedagang kaki lima (PKL) ataupun parkir liar di era Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tinggal kenangan. Kini Kota Tua terlihat renta dengan kesemrawutan luar biasa.

Paling kontras bila berkunjung pada malam hari. Para pedagang kaki lima (PKL) bertaburan bak cendawan di musim hujan. Dilansir anekainfounik.net dari Kompas.com, para PKL liar bukan hanya memadati sekitaran kawasan Kota Tua, seperti Jalan Lada, Jalan Bank, Jalan Kali Besar Barat, dan Jalan Kunir. Mereka bahkan menebarkan lapak di atas trotoar.

Tak hanya memenuhi trotoar, pedagang beraneka ragam kuliner dan aksesoris ini sampai tumpah ruah ke jalan, memakan dua ruas jalan. Pejalan kaki lagi-lagi harus saling serobot dengan motor untuk menggunakan jalan. Akibatnya, laju kendaraan pun terhambat dan terjadi kemacetan lalu lintas.

Kemacetan lalu lintas ada akhirnya berimbas pada perjalanan bus transjakarta. Di hari libur seperti Senin (1/1/2017) kemarin, dampak kesemrawutan itu sangat terasa sebab akses ke halte sampai dibatasi karena bus harus bergantian menembus kemacetan.

Tak hanya pejalan kaki dan pengendara yang terdampak kesemrawutan PKL itu. Sesama pedagang pun kesal dengan kegiatan liar tersebut.

Waryani, pedagang nasi goreng di Lokbin Kota Intan misalnya. Sejak 2001, Waryani berjualan nasi goreng di depan Museum Wayang dan sekitar Kota Tua secara liar. Namun akhirnya ia ditempatkan di Lokbin Kota Intan di Jalan Cengkeh. Sayangnya, Lokbin Kota Intan sepi pengunjung. Waryani menuding hal itu disebabkan akses yang buruk serta masih adanya PKL liar.

“Itu harus ditertibkan, supaya penglaris ke sini. Kalau yang di luar masih jualan ya pengunjung pasti lebih pilih yang sana,” ujar Waryani.

Ketika Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengunjungi Lokbin Kota Intan pada Minggu (31/12/2017), ia mendengar langsung keluhan dan permintaan itu. Namun Sandiaga mengatakan, pendekatan yang ia dan Anies terapkan terhadap PKL adalah penataan, bukan penertiban. Ia meminta waktu untuk memikirkan konsep penataannya.

“Kami mohon tentunya teman-teman para pedagang kecil untuk beri waktu kami. Karena di luar sana kami tata lebih dari 1.000. Di sini hanya 456, jadi gimana coba nanti kami ciptakan solusi,” ujar Sandiaga saat itu.

Ia sebelumnya sudah menyatakan akan menata Kota Tua sesaat setelah dirinya dan Anies meluncurkan konsep penataan Tanah Abang. Namun keduanya tak pernah mengungkap apakah Kota Tua akan dibuat seperti Tanah Abang yang jalannya ditutup sehingga PKL bebas berjualan. Sandiaga hanya mengisyaratkan ia akan melakukan pendataan, sama seperti Tanah Abang.

“Ini Tanah Abang sudah jalan, harus benar nih jangan sampai begitu didata banyak lagi yang datang bilang nggak dapat. Kami nggak mau seperti itu, kami mau data yang akurat,” ujar Sandiaga.

Kepala Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua Novriandi S Husodo mengatakan penutupan jalan mungkin saja terjadi. Namun ia menyarankan agar PKL ditampung di lokasi binaan seperti Lokbin Kota Intan.

“Diperlukan lokasi lain untuk PKL yang tidak tertampung di Lokbin Cengkeh. Tapi sebaiknya tidak di Taman Fatahillah. Bisa juga melakukan pentupan salah satu ruas jalan, ada jam-jam tertentu dengan kesepakatan bersama dari Dinas UMKM, Dishub, Satpol PP, dan lainnya,” ujar Novriandi

Iklan

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan
%d blogger menyukai ini: